12 PC IMM Menolak Hasil Musyda DPD IMM Jawa Timur ke 20

0
5384
Marah: Para peserta Musyawarah Daerah Ikatan Mahasiswa Jawa Timur ke 20 di Jember membakar ID Card dan LPJ.( Foto: Spesial)

KLIKMU.CO – Musyawarah Daerah (Musyda) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur XX berlangsung di Kabupaten Jember pada tanggal 7-9 Desember 2018 ini penuh dinamisasi internal organisasi.

Idealitas Musyda IMM sebagai proses kaderisasi dan bertujuan memunculkan pemimpin baru IMM Jawa Timur periode 2018-2020, agaknya belum tercapai secara optimal. Mengingat adanya beberapa Pimpinan Cabang (PC) IMM yang tidak puas dengan hasil Musyda IMM kali ini.

Sebanyak 12 PC IMM di Jawa Timur telah menyatakan sikap menolak hasil keputusan Musyda IMM Jawa Timur yang ke 20 ini. Dua belas Cabang tersebut ialah, PC IMM Surabaya, PC IMM Sidoarjo, PC IMM Lamongan, PC IMM Tuban,PC IMM Jediiri, PC IMM Gresik, PC IMM Mojokerto,PC IMM Tuluangagung, PC IMM Sumenep, PC Probolinggo dan PC IMM Ponorogo.

Penolakan ini ditandai dengan aksi WO (Walk Out) kesepuluh cabang tersebut dikarenakan adanya upaya keputusan sidang terkait pembahasan peserta pemilih suara dari 7 komisariat dan cabang Mojokerto yang tidak diakui oleh DPD IMM Jatim.

Eko selaku PC IMM Lamongan mengatakan, dalam Musyda kali ini terjadi ketidakadilan. Kesalahan adminstrasi sengaja dibuat untuk kepentingan kelompok tertentu.

“Kami berharap ada audiensi dengan ayahanda PW Muhammadiyah Jatim, untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Sementara Dani PC IMM Kota Surabaya mengatakan,ada keputusan presidium sidang dan panlih yang terkesan janggal dan semberono, terkait dengan pengetukan palu keputusan tertentu padahal proses belum terjadi mufakat.

“Ini tentu tidak fair kami akan menolak keputusan Musyda ini karena banyak ketidakadilan yang dirasakan. Saya yakin juga mosi tidak percaya ini akan menjalar pada cabang-cabang yang masih sehat,” ujarnya.

Kendati demikian, sambung Eko, Musyda tetap saja dilanjutkan, dengan mengkesampingkan hampir sebagian dari jumlah cabang se-jatim. Dari 330 peserta pemilih, yang berhak memilih di arena sebanyak 131 peserta, 199 peserta tidak memilih.

“Ini membuktikan ada tindakan sarkasme ditubuh ikatan ini. Padahal Musyda ini telah semarak sejak diikuti sebanyak 330 peserta yang berhak memilih. Menjelang pemilihan mendadak cabang surabaya terdapat 7 komisariat yang tidak diikutkan secara sepihak, alasan administrasi lemah, DPD dan panlih saling lempar kesalahan,” jelas Dani.

Dani memaparkan, diakhir acara peserta tinggal 133, namun masih saja dilanjutkan hingga terbentuk kepengurusan yang terkesan dipaksakan.

“Sebenarnya ini sudah tidak mencapai quorum atau suara mufakat yang tertulis jelas dalan AD/ART tentang jumlah peserta,” pungkas Dani bertanya-tanya. (Ant/Abd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here