4 Hari Songsong Kemenangan, “Pat Pat Gulipat, Nomor Papat Pancen Hebat”

0
181
Foto M.ARIF'AN CALON LEGISLATIF DPRD Provinsi Jawa Timur No 4 dari PAN diambil dari dokumen timsus 1912 pdm surabaya

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Mahsun Jayadi*

Berbicara dengan Hati
Saya bukan seorang politikus, juga bukan seorang sosiolog. Bukan seorang provokator, juga bukan seorang negosiator. Saya adalah orang biasa yang ingin berbicara dengan hati, apa adanya, murni suara hati.

Menurut para ahli, seseorang menjadi caleg (DPD, DPR, maupun DPRD) umumnya berlatar tiga kemungkinan motivasinya:

Pertama, ada seorang caleg yang merasa bersyukur dan bangga karena resmi menjadi caleg. Soal nanti berhasil atau gagal itu tidak penting. Yang paling penting bisa mejeng dengan banner yang dibuatnya, bisa dikenal orang, dan bisa menjadi tambahan poin sekaligus koin bagi yang bersangkutan di hadapan atasannya.

Kedua, ada seorang caleg dengan motivasi spekulatif. Kalau jadi ya alhamdulillah bisa masuk gedung DPR yang terhormat, gaji pasti di depan mata, fasilitas akan diperoleh secara otomatis. Jika gagal ya apa boleh buat memang nasib belum berpihak kepadanya. Mudah-mudahan lima tahun ke depan bisa daftar caleg lagi. Caleg tipe ini biasanya menyiapkan amunisi yang lumayan banyak. Utang pun bisa jadi dilakukan.

Ketiga, ada caleg yang merasa gembira dan susah. Gembira karena secara resmi diakui sebagai caleg oleh institusi yang membawahkannya. Tetapi susah karena jika jadi harus membawa misi yang berat sebagai seorang wakil rakyat. Dia harus menyiapkan segala sesuatunya terkait dengan tugas dan fungsi anggota legislatif, misalnya berbagai aturan perundang-undangan, fungsi kontrol terhadap perjalanan pemerintahan, dan lain-lainnya. Baginya, ini bukan perkara mudah. Caleg tipe ini akan berusaha memahamkan visi-misinya kepada konstituennya agar tertanam trust (kepercayaan) kepadanya. Belum lagi harus menyiapkan faktor-faktor teknis, termasuk finansial, agar bisa sukses terpilih menjadi anggota legislatif yang berkualitas.

Saya melihat dengan mata kepala dan mata hati, Pak Arif’an dan Pak Nadjib Hamid adalah tipe caleg yang ketiga. Saya tahu betul luar dalam dua caleg ini.

Pak Arif’an adalah sekretaris PDM Kota Surabaya dan saya adalah ketua PDM-nya. Komunikasi, dialog, bertukar pikiran bukan hanya secara kasatmata, tetapi dari hati ke hati, suka dan duka mengendalikan bahtera PDM telah kami lalui bersama.

Untuk Pak Najib Hamid, adik kelas saya waktu di pondok Paciran, sama-sama aktif di Muhammadiyah sejak awal.

Beliau seorang komunikator yang lincah di semua segmen masyarakat. Inilah barangkali ikatan emosional saya dengan dua caleg di atas.

Pilih yang Kuat dan Berintegritas
Menduduki jabatan apa pun memerlukan persiapan yang matang, baik persiapan fisik, keilmuan, mental, maupun finansial. Merujuk pada Alquran surah Al-Qoshos ayat 26, seorang pemuda Musa sebelum naik pangkat menjadi nabi dan utusan Allah telah membekali diri dengan dua hal, yakni kuat dan karakter. Kuat bukan hanya secara fisik, tetapi memiliki kompetensi maupun daya intelektual yang memadai. Karakter bukan sekadar adab sopan santun, tetapi amanah dan integritasnya tinggi. Saya melihat dan merasakan dua bekal utama itu ada pada diri Pak Arif’an dan juga Pak Nadjib Hamid.

Sebagai calon pemimpin, calon anggota legistatif mereka berdua sudah layak karena sudah memiliki persiapan yang matang. Cicero, seorang filsuf klasik Yunani mengatakan, “siapa yang naik tanpa persiapan, maka dia akan turun tanpa penghormatan”.

Oleh karena basic pemikiran saya adalah ibadah kepada Allah, mendukung dan memilih keduanya saya kategorikan sebagai jihad politik dalam rangka beribadah kepada Allah swt.

Oleh sebab itu, kepada Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudari kaum muslimin di mana pun Anda berada, profesi apa pun yang Anda tekuni, partai apa pun yang Anda ikuti, mari bersama saya kita songsong kemenangan ini dengan cara memilih dan mencoblos caleg DPRD provinsi Jatim kartu suara warna biru (Partai PAN) nomor caleg 4 atas nama Arif’an. Kemudian memilih dan mencoblos caleg DPD provinsi Jatim kartu suara merah nomor urut 41 atas nama Nadjib Hamid.

Semoga Kita Istikamah
Yang lebih penting bagi kita adalah “istikamah” dalam menapaki kehidupan. Istikamah maksudnya tetap berada di orbit kebenaran, kapan dan di mana pun kita berada. Sering kita saksikan seseorang ketika telah berhasil mencapai cita-citanya jadilah oleng bahtera kehidupannya, mulai melenceng akidahnya, tumbuh kesombongannya, mencoba bermain-main dengan jabatannya, lupa dengan janji-janjinya, dan seterusnya. Pun sering kita saksikan seseorang ketika gagal mencapai cita-citanya jadilah seorang pemurung, mudah putus asa, merasa hilang masa depannya, tidak lagi menjadi warga negara yang ramah dan menjunjung tinggi persaudaraan, dan seterusnya.

Pilpres dan Pileg 2019 ini hanya akan menghasilkan dua kemungkinan, yakni kalah atau menang. Semuanya terikat dengan hukum kausalitas (sebab akibat). Sebuah takdir akan terjadi melalui qadar-qadar (poin-poin terukur) yang kita usahakan. Jika qadar-qadar yang kita pasang itu selalu positif dan benar sesuai aturan, akan menakdirkan hasil yang baik pula.

Jika dukungan telah kita berikan kepada caleg yang sesuai dengan kata hati kita (bisa dipertanggungjawabkan keislamannya), kita telah wakafkan hak suara kita kepada caleg yang jelas akhlaknya, kemudian kita doakan semoga diijabahi oleh Allah swt, (tawakal dalam arti yang sebenarnya), insyaallah kita akan mendapatkan takdir “kemenangan” yang berkah dan manfaat. Amin ya mujibassaailin.

Foto Kyai Mahsun Jayadi Ketika memimpin Apel Milad Muhammadiyah diambil dari Google

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here