Kader Muhammadiyah Jangan Takut dengan Pragmatisme Politik

0
882

WAWANCARA EKSKLUSIF
dengan
Suli Da’im, S.Pd., MM
Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP)
PW Muhammadiyah Jawa Timur
Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur

Kaderisasi merupakan sebuah langkah terpenting dalam sebuah gerakan organisasi ideologis, seperti Muhammadiyah. Kesinambungan akan eksistensi organisasi beserta daya geraknya menjadi taruhan manakala terjadi stagnasi perkaderan di Persyarikatan yang memasuki usia ke-106 tahun Miladiyah tersebut.

Muhammadiyah dengan segenap jejaringnya telah mampu membuktikan bahwa organisasi ini laik bertahan hingga mutakhir ini. Namun, suatu pola kaderisasi di tubuh internal harus terus diimprovisasi secara kreatif dan menarik agar terus tersemai kader-kader tunas yang siap melanjutkan estafeta kepemimpinan. Kader Persyarikatan juga harus berani keluar kandang dan melaikkan dirinya sebagai pemimpin umat dan bangsa, bahkan pemimpin global.

Bagaimana langkah jitu menyatalaksanakan perkaderan yang masif dan efektif, serta bagaimana seharusnya para kader muda Muhammadiyah mengambil peran strategis di ranah kebangsaan? Berikut petikan wawancara M. Syaikhul Islam Pemimpin Redaksi KLIKMU.CO dengan Suli Da’im, S.Pd., MM Ketua LHKP PW Muhammadiyah Jawa Timur yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Selasa (6/2).

Sebagai orang yang kenyang dalam proses kaderisasi di Muhammadiyah, bagaimana pandangan Cak Suli terhadap dinamika kaderisasi di tubuh Persyarikatan saat ini?

Kita ini kader Persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa. Doktrin ini selalu melekat pada ruh gerakan kita. Sebagai kader Persyarikatan, bagaimana kita disiapkan menjadi penerus kepemimpinan Muhammadiyah nanti.

Oleh karena itu, berkiprah di wilayah keumatan dan kebangsaan menjadi sebuah kewajiban kita dalam melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Kader harus bisa menempatkan diri di mana kita berada sebagai wujud mengemban amanah Persyarikatan dan senantiasa mewarnai misi dakwah.

Kaderisasi di Persyarikatan menjadi bagian dari penguatan gerakan dakwah. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) harusnya menjadi garda terdepan dalam menyiapkan estafet kepemimpinan. Karenanya jangan selalu berbicara profesional yang pada akhirnya kader ideologis terbuang. Bukan kita tidak suka profesional. Kita memang harus profesional, namun tetap porposional.

Aspek apa saja yang perlu dikuatkan agar proses kaderisasi di Muhammadiyah dapat berjalan efektif dan menghasilkan output yang qualified?

Yang perlu dikuatkan agar proses kaderisasi berjalan efektif adalah pimpinan AUM harus berasal dari kader-kader Persyarikatan yang berkualitas, misal dari PM, NA, IMM, IPM, HW, atau Tapak Suci. Karena di benak mereka mempunyai ruh gerakan yang melekat dalam setiap langkah Persyarikatan. Mereka juga sudah teruji keikhlasannya dalam berjuang selama menempa diri di organisasi-organisasi otonom tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, Muhammadiyah melalui Majelis Pendidikan Kader memiliki agenda kaderisasi. Demikian juga dengan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Bagaimana sebaiknya, agar proses kaderisasi di Muhammadiyah dan Ortomnya dapat berjalan sinergis dan tidak overloaping?

Semestinya, MPK fokus pada pengkaderan di pimpinan Persyarikatan dan AUM untuk membangun ruh gerakan. Kaderisasi di AMM tetap saja sesuai dengan otonomisasi mereka sebagai Ortom Persyarikatan. Baiknya, MPK memberikan ruang perkaderan bersama untuk menyinergikan AMM itu saja sebagai media penguatan kader dan ajang silaturrahim antar-kader.

 

Muhammadiyah dan mayoritas kadernya, selama ini masih terkesan malu-malu terjun langsung ke dunia politik praktis. Bagaimana pandangan Cak Suli?

Biarkan Muhammadiyah tetap berada pada wilayah ruh gerakan dakwahnya. Namun, jangan mengerdilkan kadernya yang terjun di ranah politik. Apalagi, seakan-akan tidak memerlukan politik. Sehingga, stempel politik hanya di partai politik. Biarlah kader-kader kita menyebar kemana saja untuk mewarnai dinamika kebangsaan.

Ada aspirasi dari sebagian kecil warga Muhammadiyah agar Persyarikatan lebih progresif memasuki ranah politik praktis. Apa tanggapan Cak Suli?

Kita menghargai aspirasi yang muncul pada sebagian warga Persyarikatan yang secara agresif ingin masuk pada politik. Itu hak individu. Namun, bagi Muhammadiyah tetap pada maqom (posisi, red.) gerakannya. Berilah kesempatan kader-kader yang bertebaran di wilayah-wilayah politik dan kebangsaan. Jangan diputus jalur kader pada Persyarikatan itu. Sudah cukup bagi kader. Anggapan politik tidak penting hanya semakin menjauhkan Muhammadiyah pada wilayah kebangsaan. Lantas, ketika kita tidak diberi peran-peran kebangsaan dalam konteks kenegaraan kemudian nggrundel (mengeluh, red.).

Apa harapan Cak Suli kepada AMM khususnya dalam kaitan partisipasi kaum muda Muhammadiyah di ranah politik praktis?

Kader-kader AMM yang punya bakat politik, saatnya sekarang hadir dan aktif turut serta mewarnai dinamika kebangsaan. Jangan takut pada pragmatisme masyarakat. Saatnya hadir memberikan pencerahan dan pendidikan politik yang benar pada rakyat. Warnailah bangsa ini dengan panji-panji AMM untuk menjadikan Indonesia yang berkemajuan. (ICOOL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here