7 Hari Menuju Kemenangan ” Oportunitas Berkedok Netralitas”

0
214
Foto ilustrasi diambil dari google

KLIKMU.CO

Oleh: Nardi*

Beberapa minggu terakhir ini saya dirisikan oleh polah tingkah anak-anak muda yang ada di pusat. Mulai Sekjen PP Muhammadiyah Zulfikar yang begitu agresif menyerang Pak Din soal warga Muhammadiyah tak boleh netral dalam Pilpres 2019 hingga Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antarlembaga Ali Muthohirin yang ofensif terhadap Pak Amin tentang wacana people power. Lalu, yang mutakhir tidak beda jauh dari Saudara Ali yaitu Saudara David Krisna, wakil sekjen PP Pemuda Muhammadiyah, dalam sebuah diskusi di kantor Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Matraman, Jakarta Pusat (Kamis, 4/4/2019) mengatakan bahwa istilah people power yang pernah dilontarkan Pak Amin dianggap sebagai kefrustrasian politik.

Pada mulanya saya tidak begitu tertarik untuk mengomentari soal itu, karena saya mafhum mereka anak muda yang sedang mengalami pubertas politik dan mencari panggung kekuasaan. Mereka seperti anak remaja yang sedang dimabuk asmara. Menebar pesona untuk mendapatkan legitimasi cinta dari seorang gadis yang dicintainya. Ia akan berusaha menyanjungnya dengan kata-kata yang indah, memujanya dengan tutur sapa yang menyenangkan.

Tidak boleh ada orang lain yang mengkritik kekurangannya, karena baginya gadis itu sempurna tiada cacat. Itulah libido cinta. Sama halnya anak muda yang memiliki libido kekuasaan yang tinggi, ia akan menjadi bagian dari komponen kendaraan politik untuk mendapat perhatian dari junjungannya dengan cara membela atau memujanya. Ini hal yang wajar dan sah-sah saja, tetapi yang menjadi persoalan adalah tatkala organisasi dibuat jubah untuk menghantam orang lain yang tidak sependapat dengannya, atau orang yang berbeda dengan para junjungannya. Inilah yang patut saya sayangkan dari sikap para pimpinan Pemuda Muhammadiyah sekarang ini.

Masih segar dalam ingatan saya ketika Cak Nanto dalam pidato perdananya pasca terpilih sebagai ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah dengan tegas mengatakan bahwa Pemuda Muhammadiyah netral dan ia menjamin netralitas organisasi yang dipimpinnya. Pemuda Muhammadiyah tidak akan terjebak dalam ajang dukung-mendukung capres-cawapres 2019. Saya sangat mengapresiasi iktikad luhur Cak Nanto yang berniat istikamah menjaga Pemuda Muhammadiyah dari kepentingan politik.

Namun, ironisnya, ada pihak-pihak yang mengatasnamakan eksponen Muhammadiyah secara terang-terangan mendukung paslon 01. Ini sungguh fenomena yang langka. Jangan-jangan AMM sudah menjadi alat kekuasaan? Lalu, apakah tidak boleh kita beranggapan bahwa sebagian pengurus PP Pemuda Muhammadiyah adalah titipan istana bila faktanya demikian? Silakan dijawab sendiri.

Tampil Ofensif
Salah satu yang menjadi pertanyaan serius mengapa mereka begitu garang dan agresif terhadap Ayahanda Pak Din dan Pak Amin? Apakah karena Pak Din bukan bagian dari mereka? Atau, apakah karena Pak Amin oposisi? Tentu saja mereka akan mengatakan tidak dan berusaha membangun struktur argumentasi pembelaan.

Tetapi faktanya, ketika mereka cenderung menyerang orang-orang yang tak sejalan dengan petahana dan membiarkan orang-orang yang berada dalam lingkaran petahana bebas mengatakan apa saja tanpa mereka kritik seperti yang dilakukannya terhadap nonpetahana, dari sini dapat dinilai bahwa mereka sudah tidak netral lagi.

Sebut saja ketika Sekjen PP Pemuda Muhammadiyah Zulfikar mengatakan bahwa ungkapan Pak Din yang mengatakan warga Muhammadiyah tidak boleh netral dalam Pilpres 2019 dianggap sebagai upaya mendelegitimasi dan mereduksi sikap resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Saya heran apakah dia tidak paham antara Muhammadiyah secara kelembagaan dan warga Muhammadiyah secara individual. Secara kelembagaan Muhammadiyah wajib netral, tetapi secara personal warga Muhammadiyah tidak boleh netral. Artinya, warga Muhammadiyah harus menggunakan hak konstitusionalnya untuk memilih presiden. Apakah pilihannya 01 atau 02, itu soal lain. Karena netral artinya tidak menggunakan hak suaranya dalam pilpres. Dan ini bisa menambah angka golput di pemilu. Itu sebenarnya yang dimaksud Pak Din. Lalu, di nama letak paradoksnya dengan sikap pimpinan pusat? Jangan-jangan dia salah minum obat.

Lalu, berikutnya adalah tanggapan Ali Muthohirin ketua bidang politik dan hubungan antarlembaga PP Pemuda Muhammadiyah dan Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah David Krisna Alka terhadap Pak Amin terkait dengan istilah people power. Ali mengatakan bahwa pernyataan Pak Amin dinilai sebagai upaya mendelegitimasi KPU. Sementara David menilai pernyataan Pak Amin Rais sebagai bentuk kefrustrasian politik sebagai bapak reformasi. Saya sangat heran terhadap mereka dalam membangun narasi dan diksi.

Dalam setiap pernyataannya, narasi yang mereka bangun tidak mencerminkan sikap yang netral. Justru cenderung agresif pada orang-orang yang tidak sejalan dengan petahana. Yang sangat menyedihkan adalah ketika ada statement bahwa pilpres kali ini merupakan pertarungan Pancasila dan khilafah, tetapi mereka diam seribu bahasa. Bagaimana saya bisa percaya bahwa Anda netral sementara Anda gencar menyerang orang yang berseberangan dengan petahana dan Anda diam terhadap sikap-sikap pendukung petahana yang berpotensi menimbulkan kegaduhan juga?

Satu hal yang ingin saya sampaikan pada Anda, silakan Anda menjadi bagian dari timses 01. Itu pilihan politik Anda, tetapi jangan Anda menggunakan jubah organisasi untuk melegitimasi sikap Anda menyerang oposisi dan menyanjung petahana.

Nardi Bendahara Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kenjeran Surabaya

 

 

 

 

 

 

 

 

*Bendahara Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kenjeran, Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here