8 Pesan Haedar Nashir untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah

0
298
Foto koleksi pribadi

KLIKMU.CO – Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menyampaikan pesan dalam acara Pembinaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) dengan tema “Peran Kepemimpinan PTMA dalam Peningkatan Kinerja dan Daya Saing Nasional/Internasional” yang digelar secara daring, Rabu (2/12/2020).

Menurut Prof Haedar, kebersamaan menjadi modal penting di persyarikatan. Majelis dan PTMA juga menjadi modal sosial yang sangat penting karena mengutamakan kebersamaan, ketulusan, dan nilai luhur dalam pergerakan.

“Muhammadiyah dapat berkembang besar, namun masih utuh secara konstitusi karena adanya usaha dan peran para pimpinan dalam menopang kebersamaan,” katanya.

Dalam arahannya, Prof Haedar menekankan agar pimpinan PTMA terus menerapkan sikap ta’awun untuk bersama-sama bergerak agar PTMA dapat bertumbuh dan berkemajuan.

Ada delapan hal penting yang harus diterapkan pimpinan PTMA menurut Prof Haedar. Pertama, spirit dan ikhtiar dalam berbagi spirit kemajuan. PTMA harus saling berbagi sebagai amal jariyah dengan dasar ta’awun.

“PTMA yang sudah besar dapat menularkan ilmu sehingga pihak yang membantu tetap semangat dan yang dibantu akan semakin semangat,” paparnya dikutip dari laman resmi Ditlitbang PP Muhammadiyah.

Kedua, lanjut Haedar, memperkuat jaringan ke dalam dan ke luar secara institusi. PTMA harus mampu menjalin kerja sama dan saling berjaringan dengan adanya tata kelola yang bersistem dan berjalan baik.

Ketiga, konsolidasi pengelolaan akademik, yaitu kekuatan PTMA dalam menghadapi lembaga asing atau isu cipta kerja lainnya. Selain itu, SDM menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi sehingga menjadikan PTMA diatas rata-rata.

“Penguatan SDM menjadi spesialisasi yang harus ditingkatkan kualitasnya. SDM yang ahli dalam merancang dan menguasai dunia pendidikan di era digital atau dosen muda yang memiliki integritas bagus harus didukung sehingga kemampuan dan keahliannya semakin berkembang,” tegasnya.

Keempat, harus ada penguatan paham Islam dan berkemajuan. Menurut Haedar, adanya AIK yang menjadi ciri khas PTMA membutuhkan regulasi baru dan pengemasan cara mengajar yang menarik.

Kelima, integritas kepribadian berbangsa dan bernegara. Pemahaman ini menjadi penting dan harus ditularkan kepada dosen dan karyawan. “Keenam, adanya perencanaan strategis. Yaitu, perlunya perencanaan strategis yang harus dicermati, misalnya perencanaan keuangan,” ujarnya.

Lalu, ketujuh adalah mengembangkan kepemimpinan dengan menekankan tiga hal. Yaitu, pimpinan PTMA harus menyiapkan dan memberikan kesempatan kepada kadernya untuk menjadi penerus, kepemimpinan PTMA harus memiliki kemampuan dalam memobilitasi potensi, dan adanya perencanaan dan planning sistem agar tetap eksis. Kepemimpinan PTMA harus ada nilai keutamaan.

“Tetap rawat nilai moral dan integritas diri. Karena harta termahal kita adalah akhlak, moral, sehingga ketika kita sudah tidak menjabat kita tetap dapat tumakninah. Kepemimpinan seperti ini akan mengayomi persyarikatan,” papar profesor bidang sosiologi UMY tersebut.

Terakhir, membangun kemajuan bersama persyarikatan, khususnya keperluan penting yang harus didasari dengan sistem ta’awun. “Jika adanya hubungan yang kurang baik, perbaiki. Setiap orang perlu belajar untuk rendah hati dan jauhi angkuh diri,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Lincolin Arsyad menyebutkan data terbaru jumlah PTMA per Desember 2020. Yakni, 164 kampus Muhammadiyah yang terdiri atas 4 akademi, 13 institut, 3 politeknik, 75 sekolah tinggi, dan 61 universitas. Lalu, kampus Aisyiyah meliputi 3 politeknik, 2 sekolah tinggi, dan 3 universitas. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here