A Fandir Ismail, Berkhidmat di Kepanduan Hingga Ia Dipandu untuk Menghadap Sang Pencipta

0
168
Almarhum ketika menjadi KPPS diwilayah RT nya diambil dari dokumen pribadi keluarga

KLIKMU.CO – Tak hanya sebagai sosok ayah, tapi dalam keseharian Fandir Ismail di mata keluarga, beliau adalah guru dan inspirasi. Dengan didikannya yang keras, mampu membuat anak serta keluarganya termotivasi. Kini ia pergi selama-lamanya kepada sang Khaliq.

Pertengahan tahun 1970-an, Pak Fandir, begitu kebanyakan orang memanggilnya, ia merantau ke Surabaya. Pria kelahiran Bima 28 Oktober 1955 itu menjadi guru olahraga swasta di Surabaya dan tinggal sementara di Masjid Al-Muttaqien Wonokosumo (cikal bakal SD Muhammadiyah 21).

Ia menemukan tamatan hatinya, kemudian menikahi seorang gadis bersama Ayni Yatur Ridho tahun 1982. Dua tahun kemudian lahir seorang putri pertama bernama Wasilatul Azizah.

Tahun berikutnya disusul Fiqih Arfani, 1985 dan anak ketiga lahir pada 1987 diberi nama Ziana Aynul Hidayah.

Kecintaan pada pendidikan,hingga ia dipanggil ke pangkuan sang-Pencipta, Selasa, 3 Juli 2018 lalu, seluruh hidupnya didedikasikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Setiap paginya, beliau mengajar olahraga, kemudian sorenya mengajar Pramuka (setelah era reformasi, di Muhammadiyah Hizbul Wathan). Tak terhitung jumlah siswa sekolah yang diajarkannya. Begitu juga jumlah sekolah dan di mana saja mengajarnya,” kata Diky Sadqomullah Ketua Kwarda HW Kota Surabaya, salah salah satu teman karibnya.

Pasca shubuh, mengenakan kaos dan training, lengkap dengan sepatu sport, beliau siap-siap berangkat. Sepeda motor bebek merk Yamaha tahun 1975 warna biru, berpuluh-puluhan tahun setia mendampingi.

Meski memiliki sepeda motor baru, tapi hingga kini, sepeda motor yang dibelinya setelah menjual tiga ekor kerbau ternaknya tersebut masih disimpannya. Berkali-kali ditawar orang, tapi tak diberikannya, berapapun harganya.

“Bukan karena bentuknya, tapi kenangan dan sejarahnya yang berharga, tak bisa terbayar dengan uang berapapun,” kata Diky menirukan saat masih hidup, ketika berbincang sembari mengelap motor kesayangannya.

Dari caranya mengajar, beliau dikenal sosok yang keras dan tegas. Keras karena suaranya yang lantang dan tegas karena pesan-pesan yang disampaikannya selalu bermakna.

“Menjadi guru jangan berharap kaya, tapi Insha Allah hidupmu akan sejahtera. Pasti berkah, asal ikhlas, apalagi di Muhammadiyah,” kata Munawir Guru MI Muhammadiyah 5 Surabaya mengingat pesan yang disampaikan Pak Fandir.

Dia tak hanya di sekolah, tapi begitu juga yang dilakukannya di rumah nada suara yang seolah bentakan seakan membangunkan orang tidur tersebut membuat ia dikenal.

Siapa yang pernah merasakan bagaimana dibentak, dijamin tidak akan lupa karena bentakannya bukan hinaan, tapi ajaran agar kita berubah menjadi lebih baik.(Munawir/Dicky/Dul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here