Abdul Malik Fadjar: Negarawan, Pendidik, dan Agamawan Lintas Generasi

0
82
Rektor UMM Dr Fauzan MPd. (Foto dari Sekretariat UMM)

Oleh: Dr Fauzan MPd

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang

KLIKMU.CO – Unik, cerdas, santai, santun, sederhana, dan berwibawa. Inilah sosok yang hendak berulang tahun (hari lahir yang ke-81 tahun). Ia adalah Profesor Abdul Malik Fadjar yang lahir di Kota Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Salah satu keunikan yang paling mencolok adalah sebagai perokok berat keretek yang banyak orang tidak sanggup mengisapnya. Tetapi, Profesor Malik mengisapnya sampai sekarang, sekalipun Majelis Tarjih Muhammadiyah mengeluarkan fatwa ’’haram’’ merokok. Hal ini tentu memberikan pelbagai pertanyaan: ada apa dengan Profesor Malik, kenapa tetap merokok?

Indonesia di bawah Presiden Soeharto adalah situasi yang cukup keras. Ada banyak peristiwa yang terjadi di sana mengikuti setiap pejabat di bawah kementerian Orde Baru yang cukup lama berkuasa. Sebagai salah satu pejabat di lingkungan Orde Baru, saat-saat terakhir kejatuhan Presiden Soeharto, Abdul Malik Fadjar merupakan salah seorang yang turut menyaksikan langsung saat Presiden Soeharto mengundurkan diri di hadapan publik. Tentu ada perasaan yang berlebih di dalam benak Profesor Malik. Hanya beliau yang paling memahami. Namun, para sahabat dan kolega bisa pula merasakannya.

Aktivis organisasi sejak mahasiswa di IAIN Sunan Ampel, yang berada di Malang, ketika kuliah dulu. Karena itu, tidak heran jika Profesor Malik memiliki jaringan organisasi mahasiswa lintas generasi, baik di kalangan mahasiswa Islam maupun non-Islam seperti PMKRI dan GMKI, selain tentu saja akrab di lingkungan HMI, PMII, dan IMM. Inilah kelebihan Profesor Malik yang bisa diterima di semua kalangan aktivis mahasiswa tatkala itu, sampai setelah menjadi pejabat birokrat, baik di Kementerian Pendidikan Nasional maupun Kementerian Agama. Penerimaan publik kepada Profesor Malik tidak tiba-tiba. Ada proses pendidikan dan kaderisasi yang mumpuni. Pandai bergaul dan juga mampu melakukan adaptasi, dialogis serta dialektis. Tidak ngotot dan sembrono atas sesuatu. Agaknya inilah kuncinya.

Sebagai tokoh Muhammadiyah, Profesor Malik bukan orang baru. Beberapa periode terpilih menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah (empat periode sejak 1990–2015), suatu kepengurusan yang cukup panjang. Tentu bukan karena tiba-tiba Profesor Malik terus terpilih menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jelas memiliki kelebihan yang bisa saja tidak dimiliki yang lainnya sehingga terus dapat terpilih bersama yang lainnya. Sosok Profesor Malik di lingkungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah sangat disegani. Terutama saat berbicara soal perguruan tinggi Muhammadiyah dan isu-isu pendidikan nasional. Tidak ada yang meragukan dalam dua masalah ini. Tentu saja ada banyak kelebihan lainnya dari Profesor Malik di kalangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah ketika itu. Bahkan agaknya sampai sekarang masih tetap berpengaruh.

Saat menjadi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Profesor Malik berada dalam periode yang dapat dikatakan ’’keras, dinamis, dan politis’’. Tahun 1990–1995, bersama KH Ahmad Azhar Basyir, yang dilanjutkan Profesor Amien Rais, karena KH Azhar Basyir wafat. Sejak tahun 1995 bersama Amien Rais, yang kemudian dilanjutkan oleh Profesor Syafii Maarif, karena Amien Rais ’’terjun’’ ke gelanggang politik praktis memimpin Partai Amanat Nasional. Setelah itu, tahun 2000–2010 bersama Buya Syafii Maarif dan Profesor Din Syamsuddin sampai tahun 2015.

Keterlibatan Profesor Malik di Muhammadiyah tidak perlu diragukan lagi. Kuat dan mendalam, sehingga jejaknya dapat dirunut oleh siapa pun yang aktif di Muhammadiyah, terutama di Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Profesor Malik bukanlah orang sembarangan dan orang baru dalam mengelola perguruan tinggi yang paling banyak diperhatikan masyarakat non-Muhammadiyah di Jawa Timur dan Surakarta. Sosok manajer yang andal tampak jelas pada Profesor Malik. Bagaimana harus mengelola dua perguruan tinggi Muhammadiyah yang berbeda provinsi yang cukup jauh jaraknya ditempuh dengan perjalanan darat. Ketika itu pun, sarana komunikasi belum seperti saat ini yang demikian mudah. Ketekunan dan kegigihannya memberikan dampak yang hebat pada dua universitas di lingkungan Muhammadiyah saat ini. Dapat dikatakan inilah dua universitas Muhammadiyah terbaik di Indonesia saat ini. Profesor Malik telah memberikan fondasinya dengan sangat bagus.

Saat pendidikan tinggi Islam (khususnya) tidak banyak mendapatkan perhatian masyarakat karena nyaris seluruh pendidikan tinggi Islam itu di bawah pengaruh dan popularitas perguruan tinggi umum, Profesor Malik bergerak sangat brilian dan di luar pemikiran kebanyakan pejabat di dunia pendidikan Islam. Profesor Malik berani membuat kebijakan revolusioner dengan mengubah nama IAIN menjadi UIN serta fakultas tarbiyah di PTAIS menjadi fakultas ilmu agama (fakultas agama Islam). Serta beberapa perubahan sangat mendasar di lembaga pendidikan tinggi PTAIN dan PTAIS ketika itu.

Perubahan tersebut kontan saja membuat banyak pimpinan perguruan tinggi kelimpungan. Bahkan sebagian ’’marah dan menggerutu’’ atas kebijakan yang dikeluarkan Profesor Malik selaku menteri ketika itu. Namun, apa mau dikata, perubahan tersebut saat ini memberikan berkah yang sangat luar biasa: pendidikan tinggi keagamaan berada sejajar dengan perguruan tinggi non keagamaan. Tentu saja semula tidak banyak menduga, bahkan tidak ada yang menduganya, sebab dirasa apa yang menjadi kebijakan Profesor Malik merupakan sesuatu yang ’’melampaui zamannya’’, bahkan dapat pula dikatakan sebagai kebijakan yang ’’keluar pagar perguruan tinggi keagamaan’’. Kurang menjaga tradisi keagamaan-keislaman, demikian kira-kira.

Ketekunan, kecerdasan, profesionalisme, pendidik, aktivis mahasiswa, serta pejabat semuanya telah dirasakan oleh Profesor Malik bahkan hingga usia 80 tahun saat ini. Sikap tidak angkuh jelas tergambar, sikap mendidik dan bersahabat terpancar dalam pribadi Profesor Malik. Namun, jangan dilupakan pula selera humornya yang cukup tinggi. Soal merokok, kenduri, dan yasinan, misalnya, buat Profesor Malik dianggap sebagai ’’refreshing’’ dalam kehidupan. Baginya, ’’Tidak usah semuanya dianggap serius. Jalani secara rileks saja.’’ Hidup yang rileks itulah yang agaknya turut pula memperpanjang umurnya ketika banyak temannya dari generasi seusia Profesor Malik yang telah berpulang menghadap Sang Khalik. (*)

Tulisan ini sudah dimuat di Jawa Pos edisi Rabu, 9 September 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here