Abdul Mu’ti: Yang Setuju Siap Divaksinasi, Yang Tidak Setuju Jangan Provokasi

0
332
Foto pribadi

KLIKMU.CO – Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd  mengimbau masyarakat agar bersikap bijaksana dalam pro-kontra soal vaksinasi Covid-19 yang dimulai Rabu kemarin (13/1/2021).

“Vaksinasi sudah dimulai. Yang setuju bersiaplah untuk divaksinasi. Yang tidak setuju tidak perlu provokasi. Mari saling menghormati. Sudahi saling caci maki. Semoga pandemi Covid-19 dapat dicegah dan diatasi,” ungkap Abdul Mu’ti lewat akun Twitternya, Rabu.

Mu’ti juga mengatakan bahwa vaksinasi Covid-19 hukumnya wajib. Hal itu berdasarkan pertimbangan kemaslahatan umum, tingkat kedaruratan utama (martabat dlaruri), serta demi menyelamatkan kehidupan bangsa dan melindungi masyarakat dari wabah korona.

Sebab, menurut Mu’ti, bila tidak segera diatasi, pandemi covid-19 semakin tidak terkendali. “Sehingga dapat mengancam masa depan bangsa dan menimbulkan masalah ekonomi, sosial, kesehatan, politik, dan masalah serius yang lainnya,” tegasnya.

Apalagi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 produksi Sinovac. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah menetapkan vaksin Sinovac halal dan suci.

“Jadi, tidak ada lagi alasan kuat menolak vaksinasi,” kata tokoh asal Kudus tersebut.

Meski begitu, lanjut guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, riak-riak penolakan oleh sebagian masyarakat memang tak bisa dinafikan begitu saja. Penolakan tersebut bisa disebabkan banyak faktor.

“Seperti kurangnya pemahaman, penyesatan informasi di media sosial, pemahaman agama yang dangkal, dan kurangnya sosialiasi oleh pemerintah,” ujarnya.

Ya, meski vaksin Sinovac dinyatakan aman, banyak warga yang takut akan efek atau risiko kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Hal itu dibenarkan oleh Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Tropis Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dr Dominicus Husada.

“Pada dasarnya tidak ada tindakan medis yang tak berisiko. Namun, berdasarkan data yang ada, semua obat dan vaksin yang dikeluarkan izinnya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan terbukti aman,” tegasnya dikutip dari Jawa Pos.

Menurut dia, dalam semua izin obat dan vaksin yang diberikan, tentu hal-hal seperti KIPI itu sudah dievaluasi sehingga terjamin keamanannya.

Untuk diketahui, KIPI merupakan segala kejadian medis yang tidak diinginkan setelah pemberian imunisasi. Namun, belum tentu memiliki hubungan kausalitas dengan vaksin.

”Meski sudah terbukti aman, tidak ada produksi manusia yang 100 persen tidak menimbulkan apa-apa. Namun, risikonya tidak banyak,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan  bahwa vaksin Sinovac memiliki efek samping 0,1–1 persen. Keluhan yang timbul umumnya ringan dan sembuh sendiri. Dibandingkan vaksin buatan Amerika yang memiliki efek samping hingga 40 persen, misalnya, vaksin Sinovac menurutnya lebih bagus. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here