Ada Peran Amin Abdullah di Balik Revolusi Majelis Tarjih

0
781
Pradana Boy saat menyampaikan materi tentang sejarah Majelis Tarjih Muhammadiyah. (Tangkapan layar AS)

KLIKMU.CO – Persoalan fatwa secara umum dan majelis tarjih dalam Muhammadiyah ternyata sangat menarik. Hal itu dibahas oleh Pradana Boy ZTF, dosen Universitas Muhammadiyah Malang, dalam diskusi PSIF secara daring bertajuk Fatwa dan Masyarakat: Pengalaman Muhammadiyah, Selasa (19/1/2021).

Ternyata, salah satu problem yang mendorong lahirnya majelis tarjih adalah penetrasi Ahmadiyah ke Muhammadiyah. “Ada satu masa ketika Muhammadiyah dan Ahmadiyah bahkan konon katanya punya keanggotaan ganda. Karena itu, HPT di bab-bab awal bicara soal akidah,” ujar Pradana Boy.

Prakarsa majelis tarjih itu diusulkan pada Kongres (kini Muktamar) Ke-16 Muhammadiyah tahun 1927 di Pekalongan, Jawa Tengah. Pengusulnya adalah KH Mas Mansur yang saat itu menjabat ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

“Alasannya, karena berkaitan dengan hukum, terutama khilafiyah, perlu majelis yang menangani hukum Islam,” katanya.

Meski begitu, ketika KH Mas Mansur menawarkan majelis tarjih, nama tarjih justru tidak keluar. Ada tiga nama yang diusulkan KH Mas Mansur. Pertama adalah majelis tasyri’, kedua majelis tanfiz, dan ketiga majelis taftisyi’.

Ibarat trias politika. Boy menjelaskan, tasyri’ itu pembuat hukum atau legislatif seperti DPR, tanfiz pelaksana undang-undang berarti eksekutif, sedangkan taftisyi’itu yang memeriksa hukum sebagaimana yudikatif.

“Tetapi ada keberatan, hingga akhirnya disepakati majelis tarjih yang diterima secara aklamasi,” terang tokoh asal Lamongan itu.

Maka, dibentuklah perumus majelis tarjih yang diketuai oleh KH Mas Mansur. Pada Kongres Ke-17 Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 1928, resmi dirumuskan majelis tarjih dengan KH Mas Mansur sebagai ketua.

Enam puluh tujuh tahun kemudian, perubahan terjadi dalam Muktamar Aceh pada 1995. Ketua PP Muhammadiyah saat itu, Amien Rais, merasa majelis tarjih kurang progresif. Selain itu, adanya kritik tentang kemandekan pemikiran di Muhammadiyah sejak 80-an.

“Saat itu ada sarjana Muhammadiyah yang baru lulus dari Turki, namanya Amin Abdullah (yang kelak dikenal sebagai Prof Amin Abdullah, Red). Pak Amien Rais memilih Amin Abdullah masuk majelis tarjih,” papar asisten rektor UMM tersebut.

Ketika Amin Abdullah masuk, terjadilah revolusi itu. Lalu bertransformasi menjadi majelis tarjih dan pengembangan pemikiran Islam. Kemudian Muhammadiyah mengenal itjihad dengan ruju’ ilal Qur’an wa sunnah.

“Di situlah Amin Abdullah mulai merumuskan apa yang kelak disebutnya interdisiplin, multidisiplin, dan transdisiplin,” katanya.

Meski begitu, lanjut Boy, masuknya Amin Abdullah mendapat kritik tajam. Salah satunya adalah mengapa seorang pemikir Islam masuk di majelis tarjih yang bersifat fiqiyah. Kritik itu bahkan memelesetkan pengembangan Islam menjadi pengambangan Islam. “Kemudian berubahlah menjadi majelis tarjih dan tajdid (yang berlaku hingga saat ini, Red),” tuturnya.

Boy melanjutkan, tarjih adalah nama sebuah metode. Dalam merumuskan hukum, umat Islam merumuskan pada teks, Quran dan Hadis, tapi kadang-kadang ada pertentangan antarteks. Bisa jadi ayat dengan ayat atau hadis dengan hadis. Caranya macam-macam, sumber teks itu dicarikan kesepakatan. Kalau tidak bisa, pindah ke metode berikutnya, salah satunya tarjih.

Dalam mencari dalil, Majelis Tarjih Muhammadiyah mendasarkan diri pada Quran dan sunah. Ijtihad dan istimbat (menarik kesimpulan hukum) boleh dilakukan pada hal-hal yang tidak ada nash-nya dalam Quran, kecuali dalam ibadah mahdhah.

Nah, poin interdisipliner Muhammadiyah adalah menggunakan sistem ijtihad jamaai atau kolektif. Merespons isu kontemporer seperti inseminasi buatan atau vaksin, misalnya, Muhammadiyah melakukan ijtihad kolektif, yaitu melibatkan berbagai pakar daam bidangnya.

“Ada ahli agama, ahli kesehatan, ahli kesehatan masyarakat, sehingga ahli ini berkumpul untuk merumuskan sebuah fatwa. Lembaga fatwa zaman kini adalah lembaga fatwa yang menggunakan pendekatan jamaai/kolektif, dari berbagai latar belakang disiplin keilmuan, dan Muhammadiyah sudah melakukan itu sangat lama,” ungkapnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here