Adab Lingkungan yang Mulai Dilupakan

0
84
Dr Habib Chirzin dalam suatu kesempatan. (Istimewa/Klikmu.co)

Oleh: Dr Habib Chirzin

Masalah lingkungan hidup merupakan isu global yang menjadi keprihatinan bersama (common concern) karena menentukan kelestarian hidup manusia dengan planet tempat hidup beserta semua pendukung sistem kehidupannya. Pemanasan bumi (global warming) berikut perubahan iklim (climate change) saat ini telah menjadi ancaman yang nyata terhadap kelestarian sistem kehidupan dan semesta.

Pada akhir-akhir ini telah dikembangkan suatu pendekatan baru, faith based approach, terhadap masalah lingkungan hidup ini dan telah dipromosikan untuk melengkapi science and technology approach.

Majalah tengah bulanan Suara Muhammadiyah edisi 05 th ke -106, 1-15 Maret 2021, telah menurunkan tajuk yang sangat menarik dan sekaligus sangat tepat untuk mengatasi problem kemanusiaan beserta lingkungan semestanya. SM telah dengan tajam dan arif mengulas tema “Akhlak Lingkungan, Ajaran yang Dilupakan”. Sebuah laporan utama apik yang komprehensif.

Pada 2012, IUCN (International Union for Conservation of Nature), yang bekerja sama dengan INEB (International Network of Engaged Buddhism), telah menyelenggarakan “International Dialogue on Religions and Climate Change” di Islander Center, Annuradhapura, Sri Lanka, yang dihadiri oleh 140 peserta dari berbagai negara.

Saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan Opening Remark pada Plenary opening session. Saya  bersama Prof Dr Ali Agus, sebulan sebelum dilantik sebagai Dekan Fakultas Ilmu Peternakan UGM, pada 2012, diundang menghadiri konferensi Agama dan Pelestarian Lingkungan Hidup tersebut. Kami berdua pernah bersama aktif di Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah.

Pascakonferensi di Annuradhapura, saya dikunjungi oleh Sekjen INEB Dr Sombon Chungpampre, sempat berdialog di LPPM, UMY, dan Indonesian Coconute Center PPM, Yogya. Tidak ketinggalan kunjungan Jonathan Watts dan Aruna, IUCN Tokyo (International Union for Conservation of Nature) ke Pondok Pabelan, ke rumah kami di Ngrajek, dan sempat berkeliling kompleks pondok yang rindang dan hijau, Green Education and Eco Pesantren.

Ketika kami baru pindah ke Jalan Boroudur, kedatangan seorang pakar agama dan lingkungan hidup dari USA Prof Dr Anne M. Gade, sempat bermalam di rumah dan berkeliling Desa Ngrajek. Kawasan perikanan dengan air jernih yang mengalir sepanjang tahun, mengamati suasana lingkungan hidup. Diantar oleh Abdullah Wazin, sahabat karib Arief, anak saya dari IofC (Initiative of Change).

SM dengan cermat mengangkat dialog bertajuk: “Iskandar Wawaruntu, Pejuang Lingkungan. Mempertanggungjawabkan Dosa Lingkungan kepada Allah”. Dialog yang sangat fundamental dan mendalam tentang masalah lingkungan hidup. Karena Pak Is, demikian kami memanggilnya, adalah pendiri pusat pengembangan dan pekatihan Permaculture, internasional, di atas bukit Giriloyo, Mangunan, Imogiri, Yogyakarta, yang diberi nama “Bumi Langit Institute”.

Pak Iskandar pernah bersilaturahmi ke rumah kami di Jalan Borobudur sebanyak tiga kali. Dan kami berkunjung ke Pak Iskandar Waworuntu dua kali.

Kami berdua pertama berkunjung ke Bumi Langit bersama Bung Dr Nabiel Makarim, mantan  Menteri Negara Lingkungan Hidup Kabinet Gotong Royonh. Diantar oleh Fikri Arief, anak kami, yang pernah membantu Pak Iskandar, selama dua tahun, bersama seorang pegiat permaculture, Anam Manshur.

Sebulan yang lalu, kami bersama sahahat-sahabat dari Yayasasan Kehati (Keaneka Ragaman Hayati), Mbak Erna Witoelar dkk; Beneksos, Pak Ismid Hadad; LP3ES, Mas Didik J Rachbini, dan para alumni LP3ES dan P3M, Amb Abdullah Syarwani, Nashihin Hassan dan Isyon Basyuni; serta Pusat Kajian Islam Universitas Nasional, Dr Syafruddin Mangunjaya dkk; merancang kegiatan “faith based” pelestarian lingkungan hidup dengan gerakan “Eco Pesantren”, terutama untuk menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim.

Saya bersyukur, pada musim panas, ketika masih kuliah di Fakultas Filsafat UGM, mendapat kehormatan diundang menghadiri konferensi di Rio de Janeiro dan Amazone, Brazil, dengan hutan tropis dan sungainya yg sangat lebar, dan kaya dengan keanekaragaman hayati. Kami juga mengunjungi program-program pembangunan di Alagamar, Alexandria, Aracaju, Nova Iguacu, dan Reciffe. Perjuangan untuk keadilan lingkungan adalah perjuangan yang sangat panjang.

Keadilan ekologis (eco-justice), etika lingkungan (eco-ethics), dan kelestarian lingkungan hidup memerlukan kesadaran global dan lebih dari itu “Akhlak Lingkungan”. (*)

Dr Habib Chirzin adalah Ketua Badan Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 1990-1995

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here