Agama Islam Bukan untuk Orang Mati, tapi untuk Orang Hidup

1
8075
Kiai Nurbani Yusuf (tengah) saat memaparkan materi dalam diskusi akhir tahun yang digelar RBC Institute. (Foto diambil dari FB Nurbani Yusuf)

KLIKMU.CO – Diskusi “Catatan Akhir Tahun: Hasrat Kuasa Muslim Kagetan” yang diselenggarkan RBC Institute, Rabu kemarin (23/12/2020) juga menghadirkan pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar Kiai Nurbani Yusuf.

“Kita (Muhammadiyah, Red) ini juga kagetan. Kita telah mengalami migrasi ideologi. Puritan di Muhammadiyah bukan lagi tajdid, tapi pengerasan. Muhammadiyah saya kira juga jadi kelompok gagal move on,” papar Nurbani di awal materinya.

Dia berpesan kepada semua pihak, khususnya warga persyarikatan, bahwa berpolitik itu harus dijadikan hobi saja. Jangan sampai menjadi pekerjaan. Jangan sampai dibikin serius. Sebab, lanjutnya, berpolitik tidak menyebabkan orang masuk surga atau neraka. Juga tidak menyebabkan akidah seseorang bakal berubah.

Maka, kalau dirunut sanadnya, konsep politik Muhammadiyah itu seperti Abu Musa Al Asyari, sedangkan NU adalah Amru bin Ash. Di era dua tokoh itulah yang awal mula politik merasuk ke dunia Islam.

Nurbani juga mengkritik warga Muhammadiyah yang mengaku sebagai pihak yang terzalimi. Karena dizalimi itu jadi terlihat iba, melas, lemah, dan termaginalkan. “Sesekali kita jadi pihak yang ‘menzalimi’,” tegasnya. Maksudnya, menjadi pihak yang tidak membutuhkan belas kasihan pihak lain.

Padahal, lanjut dosen UMM itu, sejak awal Muhammadiyah didesain KH Ahmad Dahlan sebagai Islam yang kosmopolit. Selera Dahlan adalah selera kompeni. Karena itu, KH Ahmad Dahlan mendirikan universitas, bukan mendirikan pesantren. Mendirikan klinik, bukan tempat perdukunan.

“Selera Dahlan itu selera kosmopolit. Islam modernis itu ya Islam kosmopolit. Muhammadiyah mestinya yang ada di situ,” tegasnya.

Karena itu, Muhammadiyah sekarang harus menggemakan pengajian dengan tema-tema berkemajuan. Jangan terus membahas tema kematian, kiamat, Dajjal, dan sebagainya.

Padahal, KH Ahmad Dahlan dulu berpikir futuristis. “Bahwa Islam itu bukan untuk orang mati, tapi untuk orang hidup,” tandasnya. (AS)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here