Agar Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Terdongkrak, Guru-Guru Harus Ikut Bergerak

0
137
Poster webinar literasi ekonomi dan keuangan syariah.

KLIKMU.CO – Perhatian pemerintah terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup tinggi. Namun, tingkat literasi masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah terbilang masih rendah.

Indeks literasi keuangan syariah yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2019 menunjukkan hanya 8-9 dari 100 orang Indonesia yang benar-benar paham (well-literate) terhadap produk dan jasa keuangan syariah. Senada dengan survei literasi ekonomi syariah yang dirilis oleh Bank Indonesia pada awal tahun 2020 juga menunjukkan angka 16,3 persen (hanya sekitar 16 dari 100 orang Indonesia yang benar-benar paham (well-literate) terhadap ekonomi syariah.

Hal itulah yang melatarbelakangi Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Dewan Perwakilan Wilayah DKI Jakarta melaksanakan webinar nasional bertajuk “Literasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Bagi Guru MA/SMA/MK”. Acara ini bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Ekonomi Madrasah Aliyah DKI Jakarta.

Webinar tersebut dilaksanakan untuk memfasilitasi program literasi ekonomi dan keuangan yang lengkap bagi masyarakat luas, terutama bagi guru-guru di jenjang SLTA sebagai ujung tombak pendidikan masyarakat.

Dalam sambutannya, Ketua IAEI DPW DKI Jakarta Dr Rahmatina A Kasri mengutarakan bahwa guru-guru perlu dibekali literasi ekonomi dan keuangan syariah yang memadai untuk menjadi sumber belajar para siswanya. Menurutnya, temuan-temuan menunjukkan literasi ekonomi dan keuangan masih rendah. “Sehingga tidak mengherankan jika implementasi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia masih jauh dari potensi yang ada,” paparnya.

Diharapkan, dengan memberikan dasar ilmu ekonomi dan keuangan syariah kepada guru-guru SMA, tingkat literasi ekonomi dan keuangan syariah dapat dilakukan lebih dini dan efektif.

Rahmatika menambahkan, guru adalah sosok yang dekat dengan masyarakat. Sosok yang menjadi inspirasi. “Karena itu, lebih sering didengarkan oleh murid-muridnya serta lebih sering berbaur dengan masyarakat umum,” ujarnya.

Webinar nasional dilaksanakan selama dua hari, yaitu 12 dan 19 September. Diikuti oleh guru-guru MA/SMA/MK dari provinsi-provinsi di Indonesia. Pada hari pertama, topik yang dibahas adalah tentang filosofi ekonomi Islam yang diberikan oleh Dr Ali Sakti dari Bank Indonesia dan pasar modal syariah oleh Dr Tika Arundina, kepala prodi Ilmu Ekonomi Islam Universitas Indonesia.

Sementara itu, materi hari kedua tentang perbankan syariah oleh Prof M. Nur Rianto Al-Arif dari UIN Jakarta dan keuangan sosial syariah oleh Dr Irfan Syauqi Beik dari Institut Pertanian Bogor yang juga merupakan Direktur Baznas.

Sebagai penutup, Erika Takidah MSi, ketua bidang pengembangan dan pengabdian masyarakat DPW IAEI DKI Jakarta, berpesan bahwa tugas guru sebagai ujung tombak pendidikan di masyarakat tidak akan pernah selesai. Kolaborasi dan sinergisitas sangat penting dilakukan untuk membangun generasi selanjutnya yang berakhlak mulia.

Menurutnya, hal ini juga sesuai tujuan ekonomi dan keuangan Syariah yang mengutamakan kemaslahatan umat. “Oleh karena itu, guru-guru, para akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan pemerintah dapat bergandengan tangan untuk meningkatkan literasi dan inklusi ekonomi dan keuangan syariah untuk mendukung Indonesia menjadi salah satu pusat ekonomi syariah di dunia,” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here