Akademisi yang Melintasi Zaman, Jadi Guru Kelak Harus Ikhlas dan Kreatif

0
281
Eriton (kanan) menjadi pembicara dalam pesmaba FKIP UMM Rabu (4/9/2019).

KLIKMU.CO – Pesmaba FKIP UMM memasuki hari ketiga yang bertempat di parkiran belakang kampus III UMM. Pada hari ketiga Rabu (4/9/2019) ini, panitia menyuguhkan materi seputar pendidikan dengan tema besar “Akademisi yang Melintasi Zaman”

Materi tersebut disampaikan oleh Eriton, alumnus FKIP UMM jurusan bahasa Inggris. Pembicara juga pernah menjabat sebagai ketua umum IMM Raushan Fikr FKIP UMM.

Dalam prolognya, pria asal Aceh itu memberikan tinjauan sejarah tentang peristiwa Mei ’98 yang mampu meruntuhkan rezim Orba menuju Reformasi. Kemudian disusul dengan pertanyaan “Apakah hari ini Reformasi itu sudah tercapai?”

Para peserta dengan antusias menjawab “belum”. Eriton pun sepakat bahwa Reformasi tersebut belum tercapai sepenuhnya. “Sebenarnya persoalannya bukan itu. Tapi semangat transformatif harus selalu ada pada diri kita sebagai kaum pendidik,” tuturnya.

Eriton menyampaikan, poin penting yang dapat diambil adalah tentang semangat kolektif yang ada pada mahasiswa ’98 harus tetap tertanam sampai sekarang. Setelah memaparkan tinjauan sejarah, pembicara memberikan gambaran tentang bonus demografi, kemudian dikaitkan dengan pendidikan.

Lelaki yang juga pernah menjabat sekretaris umum IMM Cabang Malang itu menegaskan, bonus demografi adalah meningkatnya usia produktif atau anak muda. Hal itu bisa jadi peluang dan juga tantangan bagi para mahasiswa.

“Mengingat, stigma dari masyarakat yang sering terdengar bahwa di era sekarang banyak mahasiswa yang menjadi penggangguran,” tegasnya.

Maka, lanjut dia, solusi yang tepat untuk mengatasi hal tersebut adalah belajar tidak hanya berkutat dalam ruang-ruang kelas. “Kuliah tidak cukup sekadar belajar di kelas. Kita harus belajar lebih, salah satunya adalah belajar di organisasi. Karena kita berasal dari background pendidikan, kita harus mampu berpikir lebih luas,” terangnya.

Eriton menambahkan, karena kita adalah calon guru, jadikanlah hal itu sebagai bentuk pengabdian. Ketika menjadi guru hanya digunakan untuk mencari uang, kita akan kalah dengan YouTuber yang gajinya lebih mahal.

“Maka jadilah guru yang ikhlas, kreatif, serta mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman,” tegasnya.

Ketua pelaksana Wahyu Hendra memberikan respons terkait materi ini. “Harapannya setelah mahasiswa baru mendapat materi ini, tidak hanya berhenti di tahap dialektika saja. Tapi ada implikasi secara kongkrit yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan terkhusus ketika menjadi pendidik,” tuturnya. (Wahyu Hendra/Achmadsan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here