Akhlak Medsos NetizenMu: Posting yang Penting, Bukan yang Penting Posting

0
344
Dosen FEB Uhamka Faozan Amar saat memaparkan materi bermedsos warga Muhammadiyah. (Tangkapan layar AS/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Puluhan influencer (pemengaruh), dai, dan aktivitis digital se-Jawa Timur  tumplek bleg secara luring di Hotel Horison Gresik Kota Baru (GKB) Sabtu pagi ini (25/9/2021). Mereka mengikuti acara Muhammadiyah Speak-up yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan tema “Dakwah Islam Wasathiyyah di Media-sosial” bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.

Antusiasme para peserta sungguh luar biasa. Panitia menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Di antaranya, peserta wajib swab antigen dan duduk berjarak.

Mengawali acara ini, Koordinator Tim Kerja Faozan Amar mengatakan bahwa agenda ini adalah pengamalan dari surah Al Insyirah 19 sejak Mou MPI PP diteken bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI.

Faozan menjelaskan, sesuai dengan amanat Muktamar Ke-47 Muhammadiyah di Makassar pada 2015, ada lima bidang utama yang jadi konsentrasi Muhammadiyah. Lima penguatan ini dijalankan seiring dengan dinamika perubahan zaman. Yaitu ekonomi, peningkatan amal usaha, penguatan peran kebangsaan,  penguatan usaha internasionalisasi, dan penguatan lembaga filantropi.

Nah, untuk menghadapi dinamika zaman dan menguatkan lima amanat itu, Muhammadiyah mengusung sembilan karakter. “Pertama, Muhammadiyah berpaham Islam berkemajuan,” ujar dosen FEB UHAMKA itu.

Kedua, Muhammadiyah mengusung misi dakwah dan tajdid atau pembaharuan. Berikutnya, berideologi moderat. Keempat, bersistem organisasi modern dengan jariangan yang luas.

“Lalu, karakter kelima adalah beramal usaha yang unggul dan keenam punya peran aktif memajukan umat dan bangsa,” terang dia.

Sementara karakter ketujuh adalah berwawasan kesemestaan, kedalapan tidak berpolitik praktis, dan terakhir adalah menjadi suri teladan.

Islam Wasathiyah dan Peran Kebangsaan

Menurut Faozan, aktualisasi penting wasathiyah atau tengah-tengah/moderat di Indonesia terlihat dalam dasar negara. Para pendiri bangsa (founding fathers) bersepakat menjadikan Indonesia bukan sebagai negara sekuler sekaligus bukan negara berdasarkan agama Islam walaupun mayoritas.

“Sikap washathiyah terlihat dalam Pancasila sebagai kalimatun sawa atau common platform di antara suku bangsa yang majemuk,” ujarnya.

Faozan lantas mengutip pendapat Prof Azyumardi Azra tentang Islam tengahan ini. Pada level kemasyarakatan, umatan washatan telah terwujud dalam berbagai organisasi besar Islam yang umumnya berdiri jauh sebelum kemerdekaan RI. Seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU) yang keduanya mengambil jalan tengah (moderat).

“Bukan hanya dalam hal pemahaman dan praksis keagamaan, tetapi juga dalam sikap sosial, budaya, dan politik,” tegasnya.

Tantangan di Era Medsos

Nah, umat Islam dan Muhammadiyah khususnya memiliki tantangan dakwah di era medsos. Sebab, propaganda atau di media sosial begitu masif belakangan. Antara lain banyaknya penyebaran paham radikal, khilafah, hijrah, tata cara pembuatan bom, serta ajakan jihad.

“Dan 85 persen milenial rentan terpapar radikalisme,” kata Faozan mengutip hasil survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Masih menurut Faozan, potensi papara radikal juga lebih tinggi terjadi pada kaum urban (kota) daripada kaum rural (desa). Yang memprihatinkan, paparan radikalisme di kalangan perempuan lebih tinggi daripada kalangan laki-laki. “Sebanyak 12,3 persen kalangan perempuan terpapar ekstremisme dan laki-laki 12,1 persen,” terangnya.

Berdayakan Medsos

Mengantisipasi paparan radikalisme di media sosial, generasi milenial khususnya harus memanfaatkan dengan baik media sosial seperti Facebook, Instagram, dan sebagainya. Sebab, media sosial dapat dimanfaatkan dengan baik.

Misalnya, medsos sebagai sarana komunikasi. Dalam hal komunikasi, medsos dapat dimanfaatkan untuk bersosialisasi, mempertemukan teman lama, menambah teman baru, mengetahui informasi terkini, dan menambah pengetahuan.

Lalu, medos juga dapat dijadikan sebagai sarana hiburan. Di sana para pengguna dapat berkumpul dengan orang lain yang punya minat dan hobi sejenis.

Selain manfaat, ada pula bahaya medsos. Faozan menjelaskan antara lain berkurangnya kemampuan komunikasi di dunia nyata. Lalu, bahaya pornografi, kekejaman, dan kesadisan. Ada pula penipuan, carding, dan judi. Kemudian kemerosotan moral dan cybercrime.

Lantas, bagaimana melakukan penanganan potensi radikalisme dan terorisme di media sosial yang marak terjadi. Faozan menjelaskan, ada empat tahapan jika masyarakat mengadukan ke pemerintah.

Pertama, tahap pelaporan. Laporan terdiri atas masyarakat, patroli siber polisi, maupun dari instansi seperti Kemenko Polhukam, TNI, Polri, BIN, BNPT, atau Densos 88 Antiteror. Kemudian masuk tahap rekomendasi. Berikutnya masuk tahap verifikasi yang dilakukan Kemenkominfo dan instansi berwenang untuk kemudian ditindaklanjuti.

“Terakhir masuk pada tindakan. Jika benar ada unsur radikalisme/terorisme akan diajukan take down dari Kemenkominfo ke platform media sosial.

Akhlak Medsos Warga Muhammadiyah

Akhlak warga Muhammadiyah atau netizen Muhammadiyah posting yang penting, bukan yang penting posting. Menurut Faozan, sebelum sharing, saring dulu informasi/berita yang didapatkan.

Sebab, konten yang baik belum tentu benar. Tidak semua konten yang benar juga pantas disebar. Kemudian, konten yang benar belum tentu bermanfaat. Apa saja yang tidak boleh disebar warga Muhammadiyah. “Gibah, hoaks, fitnah, pornografi, dan bullying,” tegas Faozan.

Sementara itu, masih kata Faozan, ada empat akhlak bermedos warga Muhammadiyah. Pertama, netizen Muhammadiyah (netizenMu) senantiasa berlandaskan pada akhlakul karimah sesuai tuntutan Al-Quran dan hadits. Kedua, menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah amar makruh nahi munkar dengan hikmah dan mauizhah hasanah.

Ketiga, senantiasa menjaga nama baik dan mendukung persyarikatan Muhammadiyah dalam menyebarkan konten-konten positif. “Terakhir, menjadikan medsos sebagai sarana silaturahmi, bermuamalah, tukar informasi, dan berdakwah amar makruf nahi mungkar,” tandasnya. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here