Alasan Partai Ummat Cenderung Banyak Mudarat daripada Manfaat

0
100
Tangkapan layar Amen Rais saat mengumumkan Partai Ummat.

Oleh: Ahmad Faizin Karimi

Penulis dan pegiat literasi

KLIKMU.CO

Amien Rais berusaha kembali berpolitik praktis. Setelah terdepak dari Partai Amanat Nasional dalam kongres di Kendari, kini lokomotif reformasi tersebut mendirikan partai baru: Partai Ummat. Tentu sebagai saluran aspirasi politik, pendirian partai itu sah dan wajar-wajar saja. Tidak boleh ada seorang pun yang melarang Amien Rais–juga warga yang lain–dalam berserikat dan berkumpul termasuk mendirikan partai politik.

Rencana pendirian Partai Ummat itu tidak hanya disambut positif beberapa pihak, namun juga ada kekhawatiran di sisi yang lain. Saya termasuk yang merasa Partai Ummat ini kemungkinan membawa lebih banyak mudharat daripada manfaat.

Jangan salah, saya bukan pembenci Pak Amien. Beliau adalah salah satu intelektual politik idola saya. Buku-bukunya menggambarkan betapa ia adalah politikus idealis. Namun dalam pendirian Partai Ummat ini, saya melihat beberapa kemudaratan. Kemudaratan ini lebih terkait pada sisi operasional-praktis, bukan pada konseptual-filosofisnya. Beberapa kemudaratan itu di antaranya sebagai berikut.

Pertama, adanya semangat revans atau balas dendam kepada jajaran PAN kubu Zulkifli Hasan, besannya. Ini bisa disangkal, tapi publik jelas bisa menilai secara gamblang. Sikap kubu Zulhas kepada Pak Amien jelas membuatnya kecewa–alih-alih menyebut sakit hati. Sebagai roh PAN sejak didirikan di awal reformasi tentu penyingkirannya sangat menyakitkan.

Semangat revans ini tentu menjadi energi negatif. Semangat revans akan menyatukan para politisi lain yang punya kekecewaan yang sama dengan pengurus PAN di tingkat wilayah, daerah, hingga grassroot. Secara pragmatis tentu semangat ini menguntungkan Partai Ummat dalam merekrut kader, namun semangat revans membawa potensi konflik laten antarkader.

Akan banyak kader yang merasa kecewa dengan PAN merapat ke Partai Ummat. Dengan motif revans, tindakan mereka cenderung didominasi faktor emosional, bukan rasional. Kalkukasi politik praktis tidak masuk hitungan.

Kedua, kalkulasi politik praktis. Penggunaan nama Partai Ummat menunjukkan kalau partai ini akan menyasar pemilih muslim konservatif kanan. Siapa target pemilih Partai Ummat? “Dosa politik” Amien Rais dalam persoalan pelengseran Gus Dur jelas membuat Partai Ummat tidak laku di kalangan Islam tradisional. Amien Rais dianggap banyak pihak sebagai “kartu mati”. Sedangkan selama ini kelompok “Islam modern”–meski diksi ini kurang tepat, saya lebih suka konservatif-kanan–aspirasinya sudah diwadahi dalam dua partai: ke PKS bagi yang kental ideologi salafisme dan ke PAN bagi yang kental ideologi moderatisme. Artinya, Partai Ummat akan berebut ceruk yang sama dengan PAN.

Padahal kita tahu, jumlah suara yang diperebutkan tidak signifikan. Pemilih PKS saya rasa tidak akan berpindah ke Ummat karena kebijakan partai di tingkat pusat yang dipandang masih konsisten. Maka tidak berlebihan jika banyak analis yang memprediksi adanya Partai Ummat akan membuat kedua partai itu: PAN dan Ummat akan berbagi suara dan akhirnya malah sama-sama tidak mencapai jumlah suara minimal parlementery treshold. Keduanya mati.

Ketiga, menelikung gerakan politik moderat lain. Sebelum wacana pendirian Partai Ummat menguat, kita tahu ada gerakan politik nonparlementer–setidaknya sampai sejauh ini–yang mendapat apresiasi publik, yaitu KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia). Berbeda dengan partai “Ummat”, KAMI tidak menggunakan kosakata agama tertentu, artinya gerakan ini lebih inklusif. Selain soal nama, KAMI dengan tiga presidium: Din Syamsuddin dari kelompok Islam moderat, Rochmat Wahab dari kelompok Islam kultural, dan Gatot Nurmantyo dari kelompok militer nasionalis, cenderung lebih terbuka kepada semua golongan. Tiga presidium ini mewakili tiga elemen kekuatan utama bangsa Indonesia.

Selama ini publik yang kecewa dengan oportunisme partai politik merasa terwakili aspirasinya melalui KAMI. Dengan potensi itulah tidak heran KAMI banyak dihadang kubu pemerintah berkuasa. Karena memang pengaruhnya dikalkulasi akan membesar.

Pendirian Partai Ummat bisa menjadi riak negatif bagi KAMI. Saya pikir, jika saatnya tiba KAMI akan menjadi partai politik. Namun adanya pendirian Partai Ummat yang mendahului bisa menjadi faktor penghambat. Masyarakat yang keliru membuat kalkukasi bisa salah langkah dengan ikut dalam kepengurusan Partai Ummat yang nantinya membuat KAMI keduluan langkah.

Keempat, potensi gesekan antarkader Muhammadiyah. Jelas pengikut Amien Rais secara dominan adalah kader Muhammadiyah. Mungkin di tingkat pusat, PAN memang krisis representasi kader Muhammadiyah. Paling hanya Saleh Daulay mantan ketua PP Pemuda Muhammadiyah yang dijadikan tameng setiap ada kontroversi sikap PAN. Tapi banyak dewan PAN tingkat kabupaten yang merupakan kader inti Muhammadiyah. Adanya kepengurusan Partai Ummat yang diisi mantan politikus PAN atau kader Muhammadiyah yang kecewa tentu menjadi bibit perselisihan baru. Bukannya memberi dinamika positif, saya kira malah cenderung merugikan. Ini akan berdampak pada diseretnya persyarikatan dalam kontestasi lebih dalam.

Dengan empat alasan di atas, ada baiknya kader Muhammadiyah tidak bergabung ke Partai Ummat. Biar Pak Amien Rais mendirikan partai karena itu adalah haknya. Tapi untuk urusan politik, mungkin Muhammadiyah bisa lebih berharap pada sosok Din Syamsuddin. (*)

Ahmad Faizin Karimi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here