Aliansi Jurnalis Indonesia Kecam Penganiayaan Wartawan di Surabaya

0
163
Jurnalis meletakkan kartu persnya ketika ikut berunjuk rasa kasus penganiayaan terhadap wartawan di Medan, Sumatera Utara (29/3/2020). (Antara/Irsan Mulyadi)

KLIKMU.CO – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya bersuara atas penganiayaan yang diterima salah seorang wartawan Tempo, Nurhadi, ketika melakukan liputan di Surabaya, Sabtu malam (27/3/2021). Penganiayaan tersebut dilakukan sejumlah oknum yang berada lokasi liputan.

Ketua AJI Surabaya Eben Haezer menyatakan, kejadian ini menambah panjang daftar kekerasan terhadap wartawan yang terjadi di Indonesia. “Kami mengecam kekerasan semacam ini dan jelas ini menghalangi kerja jurnalistik. Pelakunya tak belajar dari pengalaman-pengalaman yang lama,” kata Eben dilansir dari Tempo.co.

“Informasinya saat dia sedang melakukan kerja jurnalistik, dia diinterogasi dan mengalami penganiayaan,” tegasnya.

Saat ini, AJI Surabaya masih mengumpulkan informasi lebih detail terkait dengan kejadian ini. Pihaknya juga telah membentuk tim advokasi telah dibentuk untuk mendampingi wartawan tersebut.

“Kami sudah bentuk tim advokasi utnuk mendampingi kasus ini dan masih dibahas. Rencananya hari ini akan bikin laporan polisi,” kata Eben.

Eben berharap polisi dapat bekerja secara profesional dalam mengusut kasus ini. Apalagi ia mengatakan kekerasan terhadap jurnalis atau penganiayaan bukan pertama kalinya terjadi.

Kronologi Penganiayaan

Sementara itu, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Wahyu Dhyatmika menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Saat itu, wartawan Tempo Nurhadi sedang meminta konfirmasi kepada mantan Direktur Pemeriksaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Angin Prayitno Aji.

KPK sebelumnya menyatakan bahwa Angin ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap pajak. “Penganiayaan terjadi ketika sejumlah pengawal Angin Prayitno Aji menuduh Nurhadi masuk tanpa izin ke acara resepsi pernikahan anak Angin di Gedung Graha Samudra Bumimoro di kompleks Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Laut Surabaya,” kata Wahyu dalam keterangannya.

Menurut dia, meski Nurhadi sudah menjelaskan statusnya sebagai wartawan Tempo yang sedang menjalankan tugas jurnalistik, si pengawal tersebut tetap merampas telepon genggam Nurhadi dan memaksa untuk memeriksa isinya.

“Nurhadi juga ditampar, dipiting, dan dipukul di beberapa bagian tubuhnya. Untuk memastikan Nurhadi tidak melaporkan hasil reportasenya, dia juga ditahan selama dua jam di sebuah hotel di Surabaya,” terang Wahyu.

Wahyu mengutuk aksi kekerasan itu. Ia menyebut hal itu sebagai serangan terhadap kebebasan pers dan melanggar KUHP serta Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

Tempo mengutuk aksi kekerasan tersebut dan menuntut semua pelakunya diadili serta dijatuhi hukuman sesuai hukum yang berlaku,” tegas Wahyu.

Sejumlah aliansi jurnalis Indonesia juga mengecam keras tindakan tersebut. Misalnya, disampaikan Aliansi Jurnalis Indonesia Padang. (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here