Alm. Gus Sholah Menggegas Kemajuan Tebuireng

0
229
Foto Alm. Gus Sholah bersama Gubernur Khofifah dalam sebuah kesempatan diambil dari Alinea.ID

KLIKMU.CO

Oleh: Nasihin Masha*

Kelopak mata ini menghangat. Rasanya saya terlalu jumawa jika mendaku memiliki ikatan batin dengan Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid). Saya ini siapa… Tapi Ahad (2/2) siang, pukul 11.06 WIB, tangan ini tiba-tiba tergerak mengirim pesan whatsapp. Masuk. Tapi tak dibaca. Sebelum itu saya menghubungi Bang Lukman Hakim, seorang penulis produktif dan senior saya. Saya meminta nomor Gus Sholah, barangkali ganti nomor. Maklum sudah cukup lama saya tak mengontak Gus Sholah. Sedangkan Bang Lukman belum lama silaturahim dengan Gus Sholah di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ternyata nomornya masih sama.

Siangnya beredar kabar bahwa Gus Sholah sedang sakit. Kabar itu beredar di grup-grup whatsapp dan di media sosial. Rupanya kabar itu berasal dari twit Irfan Asy’ari Sudirman Wahid (Ipang Wahid), putra sulung Gus Sholah. Di salah satu grup WA, mantan menteri perindustrian Saleh Husin memposting foto dirinya dengan Ipang. Saleh Husin memang rajin silaturahim. Pria asal NTT ini rupanya sudah membezoek Gus Sholah. Maka saya pun mengontaknya untuk mendapat informasi detil tentang rumah sakit dan kamarnya. Saya juga mengontak Mas Ipang. Maka seusai Sholat Maghrib, saya dan istri bergegas ke RS Harapan Kita.

Gus Sholah berada di ruang ICU di lantai 2. Keluarga besar berkumpul di lantai 4. Mas Ipang sibuk mengantar dan menemani tamu-tamu VIP. Akhirnya saya bisa masuk ke bagian ICU, tapi tetap tidak bisa masuk ke ruangan. Di koridor itu berkumpul keluarga dekat, termasuk istri Gus Sholah, Ny Farida, yang duduk menyendiri. Sesekali menerima kerabat yang datang menjenguk. Bersipeluk, dan menangis. Tampak adik-adik Ny Farida menemani. Ny. Farida adalah putri KH Saifuddin Zuhri, menteri agama di masa Demokrasi Terpimpin. KH Saifuddin adalah ayah Lukman Hakim Saifuddin, menteri agama di kabinet Jokowi yang pertama. Sekitar pukul 20.00 datang Yenny Wahid. Sebelumnya datang pula Umar Wahid, adik Gus Dur, alias saudara kandung Gus Sholah. Umar Wahid adalah dokter kepresidenan saat Gus Dur menjadi presiden.

Pukul 20.29 saya meninggalkan RS Harapan Kita. Ternyata 26 menit kemudian, tepat pukul 20.55 WIB, Gus Sholah wafat. Gus Sholah kemudian disemayamkan di rumahnya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Setelah itu akan dikuburkan di kawasan Pesantren Tebuireng. Di hari tuanya, Gus Sholah menjadi pengasuh di pesantren yang didirikan kakeknya, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari. Gus Sholah menggantikan KH Yusuf Hasyim (Pak Ud), pamannya, yang wafat pada 2006. Dalam berbagai perbincangan, Gus Sholah selalu mengatakan bahwa ia tak ingin berlama-lama memimpin pesantren itu. Ia hanya ingin meletakkan dasar-dasar manajemen modern pada pesantren ini, serta memberikan visi baru. Selain itu, ia ingin menguatkan kembali kajian kitab salaf, kajian kitab kuning, di Pesantren Tebuireng. Maklum Tebuireng mulai tertinggal oleh pesantren-pesantren tua yang lain dalam hal ini. Setelah itu ia akan mencari dan menyerahkan ke generasi baru. Namun rupanya ia harus berlama-lama dan memimpin hingga wafat. Semua pemimpin Tebuireng memimpin hingga wafat, yang lama adalah Pak Ud (41 tahun) dan KH Hasyim sendiri (48 tahun).

Saya kali pertama ke Tebuireng saat masih menjadi reporter pada 1993. Saat itu ikut bersama Mar’ie Muhammad, menteri keuangan, yang melakukan kunjungan ke pesantren. Pesantren ini tampak tua. Saya ke Tebuireng lagi pada 2012. Pesantren ini sudah jauh berubah. Gedung-gedung baru berdiri kokoh dan bagus. Tampilannya sudah jauh berbeda.

Tahun 2012 itu saya sudah menjadi pemimpin redaksi di Republika. Kisahnya bermula dari kegiatan Kreatipreneur Republika. Inilah program pelatihan entrepreneurship. Mendengar Republika ada program ini, Gus Sholah menelepon dan meminta agar kegiatan itu dilakukan di pesantren Tebuireng. Ia ingin santri-santrinya belajar entrepreneurship. Dawuh kiai tak boleh ditolak, bahkan ini bisa membawa keberkahan. Maka Republika menyiapkan segala sesuatunya. Semua tim menginap di pesantren. “Tidur di pesantren. Merasakan auranya,” kata Gus Sholah. Kami dari Republika merasakan nikmatnya tidur di pesantren. Apalagi lokasinya dekat masjid yang menjadi pusat kegiatan. Gus Sholah juga mengundang banyak tokoh untuk memberikan pelatihan entrepreneurship.

Gus Sholah memang putra kiai dan cucu kiai besar. Tapi Gus Sholah bukanlah lulusan pesantren. Ia memang lahir di Jombang, namun tumbuh dan besar di Jakarta. Ia selalu menempuh pendidikan umum. Semuanya di Jakarta: SD Perwari Salemba, SMPN 1 Cikini, dan SMAN 1 Boedoet. Jika Gus Dur, kakak sulungnya sepenuhnya belajar agama sejak di pesantren hingga berkelana di negara-negara Arab, maka Gus Sholah menamatkan gelar sarjananya di arsitektur ITB. Ya, Gus Sholah seorang insinyur. Ia juga aktif sebagai konsultan dan berbisnis, karena itu selain menjadi ketua di organisasi konsultan Inkindo, Gus Sholah juga menjadi pengurus di organisasi pengusaha Kadin Indonesia. Namun nasib membawanya lain. Ia yang justru diminta memimpin pesantren penting ini.

Saat berbincang sebentar di koridor RS Harapan Kita, Ny Farida seakan melupakan rasa pilu atas sakit suaminya. Ia bercerita bahwa Gus Sholah tetap semangat menulis. Ya, Gus Sholah sangat produktif menulis. Sejak saya masih redaktur pelaksana, Gus Sholah selalu mengontak untuk mengirim tulisan. Tulisan terakhirnya adalah dalam rangka hari ulang tahun ke-94 NU. Dimuat di koran Kompas pada 27 Januari 2020. “Di situ Bapak membandingkannya dengan Muhammadiyah. Biar saja, agar semua orang tau,” katanya. Saya hanya diam dan tersenyum saja. Lalu undur diri.

Apa sih isi tulisannya? Ada banyak hal. Gus Sholah orang yang sangat halus. Nada suaranya lebih banyak rendah. Walau sikapnya tegas. Tulisan tersebut berisi banyak hal. Ia menyentil soal Islam Nusantara. Namun lebih banyak menyoal kiprah politik NU yang kuat dalam perjalanan NU, antara lain menyinggung soal ashabul qoror dan ashabul haq. Secara implisit, ia berharap NU itu agar lebih ke pendidikan, sosial, dan kesehatan. Hal-hal itulah yang di awal NU justru muncul tapi kemudian tenggelam. Namun inilah sentilannya, yang ditulis justru di awal tulisannya: “Tidak banyak organisasi yang mencapai usia 100 tahun, apalagi berprestasi tinggi. Di Indonesia organisasi besar yang sudah berusia 100 tahun dan punya prestasi tinggi adalah Muhammadiyah.” Hal inilah yang disinggung Ny Farida. Kalimat ini cukup lembut namun terasa sodokannya.

Saat ini, NU memang sedang giat mengejar ketertinggalannya oleh Muhammadiyah di bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan. NU sedang gencar mendirikan universitas-universitas dan rumah-rumah sakit. KH Said Aqil Siraj, ketua umum PBNU saat ini, sedang berjibaku melakukan itu. Memang tidak gampang. Saat M Nuh menjadi Mendikbud, ia banyak memberikan izin pendirian universitas milik NU, termasuk untuk fakultas kedokteran. Yang menarik adalah yang dilakukan Gus Sholah di Pesantren Tebuireng. Ia mendirikan SMA Trensains pada 2014. Inilah sekolah yang dirintis oleh Agus Purwanto atau akrab disapa Gus Pur. Ia adalah seorang akademisi dan ahli fisika. Sekolah ini bukan memadukan sains dengan ilmu agama sebagaimana pada pesantren modern, tapi mengambil kekhususan pada pemahaman Alquran, hadis, dan sains kealaman serta interaksinya. Gus Pur, sapaan Agus Purwanto, merintis sekolah ini di Sragen, Jawa Tengah, pada 2013. Gus Pur sendiri lulusan S1 dan S2 ITB, lalu mengambil S2 dan S3 di Universitas Hiroshima, Jepang. Kini ia menjadi dosen di ITS. Ia banyak menulis buku-buku fisika kuantum, namun bukunya yang terkenal adalah Ayat-ayat Semesta dan Nalar Ayat-ayat Semesta. Nah ini yang menarik, Gus Pur adalah aktivis Muhammadiyah. Sedangkan Gus Sholah adalah NU dan Pesantren Tebuireng didirikan oleh pendiri NU. Kita tahu ada semacam persaingan antara kedua ormas ini, bahkan di masa lalu begitu meruncing. Kecurigaan begitu mengakar. Padahal Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan, dua pendiri ormas tersebut, bersahabat dan berguru bersama di Makkah. Tentu Gus Sholah tak mau terjebak dalam masalah seperti itu. Ia justru mendirikan sekolah yang dirancang orang Muhammadiyah, jaraknya hanya 10 km dari pesantren Tebuireng. Sekolah itu juga menyandang nama Tebuireng.

Gus Pur bercerita, pendirian sekolah ini berawal dari ajakan kawannya dari Ikatan Sarjana NU pada Januari 2011. Padahal saat itu ia hendak mengikuti acara Muhammadiyah. Rupanya di Tebuireng sedang ada reuni alumni. Pertemuan di aula Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy). Gus Sholah adalah rektornya. Ia diberi kesempatan berbicara 10 menit. Ini karena Unhasy berencana membangun fakultas teknik, sehingga sejumlah dosen ITS diundang. Saat berdialog, Gus Sholah mengira Gus Pur alumni PMII. Tapi ia ceritakan apa adanya bahwa ia aktivis Muhammadiyah. Ia juga memberikan buku Ayat-ayat Semesta.

Satu tahun kemudian, Januari 2012, Gus Sholah mengirim SMS ke Gus Pur. Gus Sholah ingin ketemu. Yang unik adalah pemantiknya. Saat itu Gus Sholah sedang beres-beres perpustakannya. Ia menemukan buku yang diberikan Gus Pur satu tahun lalu. Ia baca dan tertarik untuk mewujudkan ide dalam buku itu. Mereka bertemu di kafe dekat toko Gramedia, Surabaya. Kepada Gus Pur, Gus Sholah bilang, “Saya ingin dibuatkan pesantren yang tidak begitu-begitu saja.” Mei Gus Pur ke Tebuireng. “Saya kaget. Ternyata Gus Sholah bersama tim lengkap. Ada tim kurikulum, tim dana, dan tim pembangunan. Saya diminta bicara di aula. Ada 200 orang, termasuk santri. Saya katakan, jika NU dan Muhammadiyah bersatu maka akan sangat kuat. Langsung suasana bergemuruh dengan tepuk tangan.”

Beberapa tahun setelah SMA Trensains Tebuireng berdiri, Gus Sholah mendirikan SMP Sains. Gus Sholah tak menggunakan nama Trensains, karena nama ini sudah dipatenkan Gus Pur. Sedangkan Gus Pur masih belum mengembangkan konsep SMP Trensains. Namun Gus Sholah perlu bergerak cepat. Ya, pada 2013, satu tahun sebelum mendirikan SMA Trensains Tebuireng, Gus Sholah mengubah Institut Keislaman Hasyim Asy’ari (berdiri 1967 di masa Pak Ud) menjadi Universitas Hasyim Asy’ari. Kini Unhasy memiliki fakultas yang relatif lengkap. Gus Sholah terus merapikan dan memajukan Tebuireng.

Gus Sholah mungkin ingin melanjutkan modernisasi yang dilakukan ayahnya, A Wahid Hasyim saat memimpin Pesantren Tebuireng. Ia menjadi pioner penerapan pengajaran di pesantren seperti di sekolah, dengan cara duduk dengan menggunakan bangku dan meja. Selain itu juga mendirikan sekolah di pesantren. Pola ini justru menjadi ciri Muhammadiyah. Namun ayah Gus Dur itu justru melakukan hal yang sama. Kini, hal itu sudah merata di pesantren-pesantren. Kini, Gus Sholah ingin melangkah lebih jauh dalam pengembangan sains dan sekolah unggul. Sekolah Trensains Tebuireng sangat laris diminati. Trensains sendiri adalah singkatan dari Pesantren Sains.

Gus Sholah, sebagai orang yang paham manajemen modern, tentu mengetahui bahwa cara yang gampang untuk menggapai kemajuan adalah dengan benchmarking dan copy paste. Tiongkok mengcopas Taiwan, Taiwan mengcopas Jepang, Jepang mengcopas Barat. Simpel. Tanpa tedeng aling-aling, Gus Sholah mengcopas langsung dari orang Muhammadiyah yang justru selama ini bersaing. Gus Sholah adalah tipikal orang NU yang tak konfrontatif dengan semua spektrum gerakan sosial dan keagamaan. Mungkin ini sudah bawaan sejak muda. Saat SMA ia tercatat sebagai wakil ketua OSIS, organisasi pelajar di SMA. Ia juga aktif di kepanduan Ansor. Saat kuliah ia menjadi bendahara Dewan Mahasiswa ITB. Juga masuk dewan pengurus di kelompok mahasiswa pencinta alam Wanadri. Ia memiliki nomor anggota 0023, Pelopor. Namun ia tetap berpijak di NU, ia menjadi wakil ketua PMII Cabang Bandung. Spektrum pergaulan yang luas ini berlanjut terus. Ia menjadi pengurus ICMI Pusat dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Ia juga menjadi wakil ketua Komnas HAM. Saat reformasi ia ikut mendirikan dan menjadi pimpinan Partai Kebangkitan Umat, bukan di PKB. Ia juga pernah menjadi ketua PBNU.

Gus Sholah tak hanya akrab bergaul dengan orang-orang Muhammadiyah. Ia juga bergaul dengan banyak elemen Islam yang lain seperti FPI, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, MIUMI, dan lain-lain. Ia juga bergaul dengan tokoh-tokoh agama lain maupun elemen-elemen kebangsaan lainnya. Ia memimpikan Indonesia yang bersatu dan kuat.

Pria yang lahir 11 September 1942 ini sangat menjaga kesehatannya. Saya teringat di awal reformasi beberapa kali diundang makan malam di rumahnya. Satu meja dengan Gus Sholah dan Ny Farida. Di ruang tengah itu, ada lantai yang diisi batu-batu kerikil. Di situ Gus Sholah menginjak-injakkan kakinya untuk mendapatkan pijatan refleksi secara alami. Selamat jalan Gus, semoga dimudahkan menuju surga.

*Redaktur & Pimred Harian Republika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here