Amar Makruf Nahi Mungkar yang Dipahami Muhammadiyah

0
942
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd dalam pengajian di UMM secara daring. (Candra/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Situasi pandemi bukan menjadi alasan untuk menghambat usaha membangun spritualitas manusia. Berangkat dari hal itu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan pengajian rutin dengan tema Penguatan Ideologi dan Identitas Keagamaan Warga Muhammadiyah secara daring pada Jumat (18/12/2020). Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti MEd sebagai pemateri.

Abdul Mu’ti membuka materinya dengan memberikan gambaran situasi masyarakat belakangan ini. Ia juga menyinggung mengenai aktivitas amar makruf nahi munkar. Sering kali masyarakat tampil korektif, namun tidak memberikan alternatif. “Kita juga lebih sering berpikir kritis tanpa diikuti dengan jalan keluar yang bisa dipilih,” terang guru besar ilmu tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut.

Lebih dalam, Abdul Mu’ti juga membahas mengenai perbedaan amar makruf dan nahi mungkar. Kata makruf, dalam penjelasannya, bisa diartikan sebagai hal yang dikenal baik oleh masyarkat. Bisa juga diartikan sebagai kebenaran yang sesuai dengan tuntunan hukum agama. “Makruf adalah kebenaran yang diekspresikan dengan benar. Jadi, jika kita melihat dari sisi semantik, pengertian dari makruf ini kebanyakan mengarah pada hal yang positif,” tuturnya lebih lanjut.

Berbeda dengan makruf, mungkar memiliki arti sebaliknya. Biasanya ia diterjemahkan menjadi hal yang asing bagi masyarakat atau tidak benar secara hukum, khususnya hukum islam. Adapun naha dalam hal ini merujuk pada perbuatan yang preventif. “Naha itu lebih tepat dipahami sebagai cara membendung perbuatan yang dilarang, bukan memperbaiki perbuatan buruk yang sudah terjadi,” tandasnya.

Pria yang juga menjadi ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) itu menyebutkan bahwa Muhammadiyah punya cara sendiri untuk memaknai amar makruf nahi mungkar. Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan diniyah. Kedua, Muhammadiyah adalah gerakan yang selalu berlandas pada ilmu. Kemudian terakhir, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang berbudaya.

Ia juga sempat menyebutkan beberapa kejadan historis bagaimana pendiri Muhammdiyah menghadapi perbedaan dan masalah. Salah satunya saat KH Ahmad Dahlan merasa bahwa arah kiblat Masjid Agung Yogyakarta berbeda dengan ilmu yang ia yakini. Ia tidak langsung mengubahnya secara revolusioner, tapi mengedepankan diskusi yang berlandas ilmu. “Ini bukti bahwa Muhammadiyah tidak asal bergerak, tapi selalu menomorsatukan aspek keilmuan,” paparnya.

Abdul Mu’ti kembali menerangkan bahwa Muhammadiyah harus selalu mengajak masyarakat pada ishlah. Ajakan ini harus dibarengi dengan ekspresi yang benar pula agar tidak timbul kesan buruk. “Menghadapi situasi akhir-akhir ini, kita dituntut untuk selalu mengajak pada ishlah. Bukan malah masuk di salah satu kubu dan membuat masalah lain,” tandasnya. (Candra/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here