Anjal, Punk, dan Gepeng Perlu Disentuh dengan Belaian Khusus

0
160
Bunda: Belaian kasih sayang sangat diperlukan dalam metode dakwah yang mencerahkan, tampak Bunda Sukesi menerima cinderamata dari M. Arifin Ketua LDK Jawa Timur.(Foto: Spesial)

KLIKMU.CO – Pendekatan culture/budaya melalui penanaman nilai-nilai kearifan lokal, pendekatan yang humanis serta Berbasis Keluarga dan Masyarakat menjadi bagian penting dalam mengatasi masalah sosial.

Dr Sukesi, Apt, MARS. Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur mengutarakan hal itu dalam agenda Up Grading Da’i Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Muhammadiyah Jawa Timur di Gedung G-6 Universitas Muhammadiyah Surabaya, Ahad (6/50.

Kata Sukesi, menurut undang -undang nomor 11 tahun 2009, kriteria masalah sosial adalah kemiskinan, keterlantaran, kecacatan, keterpencilan, ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku , korban bencana, korban tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

Dengan begitu, lanjut Sukesi, rehabilitasi sosial, pemberdayaan, bantuan dan perlindungan sosial, perlu di prioritaskan dalam penanganan anak jalanan, wanita tuna susila, gelandangan, pengemis, gelandangan psikotik .

Dihadapan 245 peserta, Sukesi menjelaskan, bahwa keterlantaran merupakan sesuatu hal mengalami keterlantaran fisik, mental dan sosial seperti balita terlantar, anak remaja terlantar termasuk anak jalanan, orang dewasa terlantar, keluarga bermasalah sosial psikologis, dan lansia terlantar.

Menurutnya, ketunaan sosial dan penyimpangan perilaku adalah warga masyarakat yang mengalami gangguan fungsi-fungsi sosialnya.Akibat dari ketidakmampuan mengadakan penyesuaian (social adjusment) secara normatif.

Seperti, tindak tuna susila, anak nakal atau konflik dengan hukum, bekas narapidana, korban narkotika, gelandangan, gelandangan psikotik, pengemis , korban HIV/AIDS, eks penyakit kronis terlantar, dan wanita tuna susila.

Ada 3 jenis anak jalanan. _Pertama,_ Children On The Street (Anak Jalanan yang bekerja di jalanan), _kedua,_
Children Of The Street (Anak Jalanan yang hidup dijalanan), dan _ketiga_ Children in street, yakni anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup dijalanan.

Dia menjelaskan, Children On The Street yaitu anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pekerja anak di jalan, namun masih mempunyai hubungan yang kuat dengan orangtua mereka.Keberadaannya memperkuat penyangga ekonomi keluarganya karena beban atau tekanan kemiskinan.

Adapun, Children Of The Street yaitu, anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalanan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan dengan orangtuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak menentu.

Sedsngkan, Children in street, yaitu anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup dijalanan. Salah satu ciri penting dari kategori ini adalah pemampangan kehidupan jalaan sejak anak masih bayi bahkan sejak masih dalam kandungan.

Dia mengungkapkan, penyebab banyaknya anak jalanan dan masalahnya,karena adanya orang tua yang mendorong anaknya untuk bekerja membantu ekonomi keluarga.

“Kasus kekerasan dan perlakuan salah terhadap anak oleh orang tua semakin meningkat sehingga anak lari ke jalanan,” katanya.

Disana, kata Sukesi anak terancam putus sekolah karena orang tua tidak mampu membayar uang sekolah. Makin banyak anak yang hidup di jalanan karena biaya kontrak rumah atau kamar meningkat.

“Timbul persaingan dengan pekerja dewasa di jalanan, sehingga anak terpuruk melakukan pekerjaan berisiko tinggi terhadap keselamatannya dan eksploitasi anak oleh orang dewasa di jalanan, Anak menjadi lebih lama berada di jalanan sehingga mengundang masalah lain. Anak jalanan menjadi korban pemerasan, dan eksploitasi seksual.” tukasnya dengan menyatakan inilah ladang dakwah yang tidak banyak tersentuh. Karena itu,lembaga dakwah khusus sebaiknya menyentuh mereka. (Habibie/Kholiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here