Antara Islam dan Prancis: Jalan Panjang Menuju Islamofilia

0
64
Republika

Oleh: Pradana Boy ZTF

Asisten rektor Universitas Muhammadiyah Malang

KLIKMU.CO

Seorang kawan, warga negara Prancis, berbagi cerita. Ia lama tinggal dan bekerja di Indonesia. Suatu saat, ia pulang ke Prancis. Saat berada di negaranya itu, ia menerima kunjungan kolega dari Indonesia, sepasang suami istri muslim. Pada suatu malam, seorang warga datang ke rumahnya, memprotes kehadiran perempuan berjilbab di kompleks tempat tinggal mereka. Pemrotes mengkhawatirkan kehadiran perempuan muslim berjilbab itu akan membawa masalah keamanan bagi mereka.

Namun, dengan sabar dan telaten, kawan ini memberikan pengertian bahwa tak semua muslim seperti yang ia bayangkan. Muslim yang dibayangkan sebagai ancaman sesungguhnya hanya kelompok kecil dalam Islam. Ia mengakui, si pemrotes sulit menerima keterangannya. Namun, dengan memberikan jaminan bahwa dia akan bertanggung jawab jika ada hal-hal yang terjadi akibat kehadiran tamu muslim itu, sang tetangga akhirnya bisa menerima.

Di kala lain, kawan ini juga terlibat dalam diskusi kecil dengan saya. Sebagai orang Prancis yang mengetahui Indonesia (dan Islam Indonesia) secara mendalam, ia berniat mendirikan sebuah pusat kebudayaan Indonesia di pinggiran Prancis. Tak hanya budaya Indonesia, namun dengan sendirinya nilai-nilai Islam akan dipromosikan kepada masyarakat Prancis melalui usaha itu.

’’Tanpa harus menampilkan simbol.’’ Begitu ia merancang strategi. Lebih jauh, dia meminta pandangan saya tentang bagaimana cara menampilkan nilai Islam dan Indonesia itu tanpa simbol karena simbol Islam akan membuat orang Prancis menjauh sejak awal.

Setelah merenung sejenak, saya berbagi pikiran. Jika pusat kebudayaan itu memang sudah berdiri, kata saya, ambillah muslim Indonesia sebagai pegawai. Mintalah mereka menjalankan fungsi sebagai pegawai itu dengan berpegang teguh pada nilai-nilai Islam seperti penghargaan pada waktu, salam, sapa, senyum, profesionalisme, dan kebersihan.

Saya membayangkan, jika nilai-nilai itu bisa dijalankan dengan baik, lambat laun pandangan masyarakat Prancis yang mengunjungi pusat kebudayaan itu akan berubah. Mereka mungkin akan berpikir, ’’Oh, ternyata Islam seperti ini…’’

Ini memang imajinasi. Tetapi sesungguhnya sangat mungkin menjadi kenyataan. Nilai-nilai seperti disebutkan di atas adalah juga nilai-nilai yang dipraktikkan oleh masyarakat Prancis dan Eropa pada umumnya. Dalam diskusi itu, kami berdua akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa jika dipraktikkan dengan ideal, sesungguhnya ada titik temu atau paralelisme antara nilai-nilai Islam dengan praktik atau kebiasaan masyarakat Prancis dan Eropa.

Jika demikian, lalu kenapa ketakutan dan sikap anti-Islam begitu mengemuka di Prancis dan Eropa? Dalam kasus Prancis, pada mulanya adalah laicite. Secara sederhana, istilah ini bisa diterjemahkan dengan sekularisme. Akan tetapi, laicite Prancis lebih dari sekadar sekularisme.

Olivier Roy (2005), seorang ilmuwan politik asal Prancis, menyebut bahwa sementara sekularisasi pada umumnya merujuk kepada proses di mana pemisahan hal-hal yang bersifat sakral dari urusan publik tanpa ada penolakan secara mendasar kepada agama. Laicite di Prancis merupakan pengenyahan agama dari ruang publik yang melibatkan kebijakan resmi negara.

Singkatnya, di Prancis, laicite adalah menolak kehadiran semua agama di ruang publik, dan bukan hanya Islam, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Tahun 1905. Merujuk kepada Undang-Undang Tahun 1905 itu, sesungguhnya ada kerangka normatif tentang kebebasan beragama yang digariskan.

Pasal 1 UU 1905 menyebutkan bahwa republik menjamin kebebasan berkeyakinan dan memastikan kebebasan praktik beragama yang sejalan dengan sejumlah pembatasan yang berkaitan dengan tatanan publik. Sementara pasal 2 menyatakan bahwa republik tidak mengakui maupun mendanai agama apa pun.

Sejarawan dan sosiolog Prancis Jean Bauberot menyimpulkan bahwa laicite adalah upaya menyingkirkan kekuasaan (politik) gereja Katolik dan pada saat yang sama mempromosikan kebebasan beragama.

Namun, dengan Islam, persoalannya agak berbeda. Nadia Kiwal (2020) menyebut Islam di Prancis secara umum dianggap sebagai isu politik. Maka, laicite awal yang dimaksudkan sebagai jaminan kebebasan beragama itu lalu berubah menjadi sikap antimuslim.

Jean Bauberot menyebut ini sebagai laicite baru. Ini terjadi karena kelompok sayap kanan politik Prancis membajak laicite untuk kepentingan politik. Tokoh-tokoh politik seperti Marine Le Pen dan Sarkozy menjadikan laicite sebagai perangkat politik. Sarkozy bahkan memandang muslim sebagai kambing hitam dan menghadirkan ancaman bagi republik yang satu dan bersatu melalui permintaan mereka untuk memakai jilbab di sekolah, konsumsi makanan halal, dan membangun masjid-masjid baru.

Dengan latar belakang seperti ini, tidaklah mengherankan jika laicite sering dianggap sebagai versi sekularisme yang antiagama.

Nadia Kiwal (2020) dalam Secularism, Islam and Public Intellectual in Contemporary France mengungkapkan, sejumlah intelektual publik muslim berusaha mendefinisikan Islam dengan beragam cara dan menunjukkan bagaimana mereka mengadopsi sekularisme kritis dalam konteks keyakinan yang beragam maupun konteks nonagama. Misalnya, dengan mengembangkan bentuk-bentuk baru keterlibatan publik dan harmonisasi antara nilai-nilai agama dan tradisi humanisme sekuler.

Usaha-usaha pada level intelektual semacam ini berpotensi besar mempersempit jarak dan prasangka terhadap Islam. Hal yang tak juga boleh dilupakan adalah usaha-usaha kultural seperti yang dilakukan oleh seorang kawan yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Kehadiran dan peran agen-agen intelektual dan kultural seperti ini sangat penting dan perlu dipertebal lapisannya sehingga politik tidak menjadi pendekatan dominan dalam memahami hubungan Islam dan Prancis atau Eropa pada umumnya.

Tentu masih panjang jalan yang harus ditempuh agar Islamofobia (takut kepada Islam) di Prancis khususnya dan Eropa pada umumnya berubah menjadi Islamofilia (meminjam istilah Andrew Shryock, 2010), yakni rasa cinta kepada Islam. Cinta diawali dengan kedekatan dan kedekatan pastilah bermula dari mengenal. Jalan memang masih panjang. Namun, jalan menuju Islamofilia itu harus terus diusahakan melalui berbagai saluran.

Pradana Boy ZTF

Tulisan ini sudah dimuat di Jawa Pos edisi Jumat, 6 November 2020, dengan judul “Jalan Panjang Islamofilia”. Atas izin penulis, KLIKMU.CO memuatnya kembali dengan judul “Antara Islam dan Prancis: Jalan Panjang Menuju Islamofilia”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here