Antara Radikal Setengah dan Radikal Teroris di Kalangan Umat Islam

0
236
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Mengaku radikal kok masih doyan duit negara, kata Ali Imran, salah satu pelaku bom Bali.

Ia menyebut nya ‘radikal setengah’. Takbirnya keras, bicaranya kencang.

“Tapi tak berani ketika saya coba ajak berjihad. Berbeda dengan paham ‘radikal beneran’ yang menolak semua apa pun yang datang dari rezim. Haram,” katanya tegas.

Ali Imran membagi dua: radikal teroris dan radikal setengah. Yang diinginkan radikal teroris bukan kemakmuran atau kesejahteraan, tapi negara Islam, yang didahului kondisi chaos untuk menciptakan perang sebagai sarana sahid. Sebab itu yang dikehendaki kelompok radikal teroris adalah kekacauan, bukan kedamaian. Bukan kemakmuran atau kesejahteraan, tapi kekacauan yang mengakibatkan perang. Kelompok radikal akan terus berusaha menciptakan suasana chaos, kacau, baik ekonomi, sosial atau apa pun sebagai wasilah datangnya perang.

‘Radikal setengah’ malah sebaliknya. Sebagian malah masih jadi ASN, terima duet negara dan menerima Pancasila. Tapi bencinya pada rezim setengah mati. Mereka menggerogoti dari dalam, tapi penakut. Sejak kecil saya sudah menganggap Pancasila, Pak Harto, dan polisi itu thaghut, aku Ali Imran, mantan teroris bom Bali, generasi keempat kelompok Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwirjo.

Belum ditemukan teori kenapa pikiran radikal mencekam sebagian orang. Hasrat mewujudkan mimpi tentang negeri impian barangkali lebih mendekati untuk menjelaskan fenomena radikalisasi. Semacam penyakit susah bangun saat mimpi atau lambat move on saat kalah, termasuk perasaan akut merasa dizalimi, kemudian menginternalisasi dalam pikiran dan jiwa, meski takut menyatakan, semacam tekanan di bawah tekanan. Hidup begini sudah pasti merana. Inilah apologis utopis, hidup di alam mimpi. Susah bangunnya meski di jelaskan berkali-kali.

Ali Imran adalah contoh baik, bagaimana migrasi ideologi jihadis berubah moderat, atau dari upnormal ke normal, Ali Imran menyebutnya. Ia menuturkan tentang sopir bom Bali adalah seorang mantan preman yang ingin tobat, tapi berguru pada ustadz upnormal. Bukannya disuruh baca ribuan istighfar atau umrah di bait Allah, malah disuruh mati bawa bom di mobil.

Bagi sebagian orang, beda politik berarti beda aqidah, beda pilihan sama juga dengan beda iman. Lantas istilah-istilah agama semacam kafir, zalim, munafik, sesat, dan hidayah diboyong ke ranah politik praktis. Jadilah pesta rakyat seperti perang antaragama atau perang antariman. Terlihat sibuk, tapi tidak mendapat apa-apa sebab yang diingini bukan kedamaian apalagi kesejahteraan, tapi kekacauan.

Buku menarik karya Karen Amstrong tentang perang suci sedikit bisa menjelaskan bagaimana latar belakang hampir semua perang agama bukan membela iman, tapi lebih karena egoisme dan arogansi atas tafsir iman. Atau seni cara membunuh dengan pisau belati yang eksotik, yang dikenalkan Syiah Qaramithah di Alamud yang belakangan juga menjadi agama.

Jadi, sebenarnya ini lebih pada soal ‘nafsu beragama’ yang kelewat batas, lantas menabrak apa pun sepanjang dianggapnya benar tanpa kata tapi. Lihatlah orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu firman Allah dalam Al Quran sungguh menjelaskan. Walllahu taala a’lm.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here