Apa Itu Spiritualitas Semu? Merasa Imannya Telah Melampaui Nabi

0
329
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Kiai Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Pohon labu yang lemah dan ringkih itu punya buah sebesar kepala, sementara beringin yang kokoh dengan pohon tinggi menjulang berbuah sebesar lalat. Tuhan sedang bercanda, kata musafir itu sambil merebahkan badan di bawah pohon beringin besar sebelum buah beringin kecil itu jatuh persis di pucuk hidungnya yang pesek.

Bukan hanya umat Islam yang ke-marab, penganut Kristen juga ke-menggres alias ke barat-baratan dan memuja Eropa setinggi langit. Perilaku penganut agama kurang lebih sama. Bagi umat Islam dan Kristen, Arab dan Eropa dianggap sumber kebenaran, begitulah seterusnya.

Bisa jadi Huntington benar, benturan peradaban adalah nyata mengangkangi iman. Bukan agama yang dibela, melainkan peradaban: Cina, Eropa, dan Arab itulah yang sedang bertengkar, lantas diberi cap agama sebagai bahan bakarnya.

Saya tak tahu apakah ini problem akut atau sesuatu yang natural berjalan sebagai implikasi yang melekat dari beragama. Tak salah jika Marx berkata bahwa agama adalah candu. Nietche berkata sinis bahwa agama hanyalah ilusi. Ditimpali Rocky Gerung bahwa agama (kitab suci) adalah fiksi.

Tapi, bagaimana dengan pikiran bahwa agama adalah lifestyle, semacam gaya hidup atau cara hidup: cara makan, cara minum, cara berpakaian, hingga cara masuk surga atau cara meraih hidup enak dengan efisien.

Tapi, ini tasyabuh. Jadi tak boleh meniru agama lain, termasuk pakaian, cara makan, cara berjalan, cara menyisir rambut, hingga minyak wangi. Lantas bagaimana dengan gadget dan kendaraan, apa masuk kategori tasyabuh? Hidup memang ruwet alias rumit, kata Prof Haedar Nashir, ketua umum PP Muhammadiyah.

Bagi umat Islam, gamis adalah yang terbaik. Bagi penganut Kristen, jas dan pantofel lebih prestise. Pizza dan KFC mungkin lebih menarik milenial ketimbang pisang atau ayam goreng Mbok Berek. Sebelum makanan dan pakaian diberi label agama dan cap kafir.

Kita memang sedang ‘bercengkerama’ dengan kebiasaan atau tradisi yang disakralkan, hingga yang kuat yang tersisa, untuk menghindari dari kata perang atau benturan peradaban, meski terdengar keren tapi mengerikan.

Dr Alim Nogotirto mengajukan premis menarik: “Pentingnya berpikir proposional tentang membangun relasi yang baik antar-pemeluk agama dan mencampuradukkan keyakinan beragama.” Saya merasakan kegelisahan yang sangat dari cendekiawan muda ini, tentang realitas masih banyaknya yang gagal paham dan urap memahami. Akibatnya sangat fatal, mengucapkan selamat Natal, selamat hari Nyepi diidentikkan dengan ‘pengakuan’ yang mengakibatkan hilangnya iman. Lantas syahadatnya dianggap batal dan harus diulang.

Tapi, tak usah khawatir. Pada setiap agama, pada setiap era, selalu ada yang begini. Jadi jangan heran ketika lelaki plontos berjanggut lebat lantang berkata: ‘Wahai Muhammad berbuat adilah! Iman nabi pun dipertanyakan. Jadi ini memang soal pikiran atau agama yang telah menjadi candu, bikin mabuk dan susah diajak berpikir proposional.

Rizal Sukma berkata pendek: ‘Orang yang suka sebar berita hoax biasanya tak suka klarifikasi atau tabayun’. Jadi apa yang harus dilakukan: ‘Saatnya orang baik berkata lantang, jangan diam, tutur Buya Syafii Maarif. Maka saya akan terus menulis dan berkata lantang, apa pun itu.

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here