Apa Yang Hilang dari Muhammadiyah?

0
202

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Apakah Muhammadiyah yang sekarang sudah final? Sudah sesuai dengan yang diinginkan Kiai Haji Ahmad Dahlan atau sebuah proses yang terus berjalan dinamis? Kalau begitu tak ada klaim final dan menganggap Muhammadiyah-ku yang paling dari yang lain.

Jadi, Muhammadiyah adalah rumah besar bagi siapa pun untuk berkhidmat tanpa kata tapi, apalagi saling menilai kemuhammadiyahan seseorang sebab belum ada model final yang dapat dijadikan ukuran pasti.

Saya pernah ditanya juga bertanya, dari mana antum belajar Muhammadiyah? Dari buku atau guru al Islam kemuhamadiyahan dua semester pada jam terakhir atau pada guru-guru bersanad? Atau sekadar kebetulan ada kecocokan satu dua amalan lantas masuk: sama-sama nggak suka tahlilan atau gak baca d-ushali misalnya.

Tradisi Muhammadiyah memang sedang dibangun dan berproses dinamis. Pembangunan menurut Prof Malik Fadjar selalu bermakna ganda: mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada atau meniadakan sesuatu yang seharusnya ada menjadi tiada.

Artinya, segala sesuatu sedang menuju bentuk. Thaaha Husein dan Mulla Sadra menyebut bahwa insan kamil adalah model terakhir dan belum ada yang menjadi paripurna. Pun dengan Muhammadiyah yang kita gagas adalah ikhtiar menuju sempurna, bukan titik akhir. Jadi, semua sedang berproses entah hingga kapan. Muhammadiyah punya era dan setiap era pasti berbeda. Salah satu tugas kita semua adalah menjaga kontinuitas atau kesinambungan, menjaga spirit tetap terjaga, meski dalam ragam dan bentuk.

Lantas, apa yang ‘hilang’ dari Muhammadiyah? Setidaknya ada tiga hal yang menghilang dari Persyarikatan sebagai implikasi pembangunan dan dinamisasi.

Pertama, tarekat. Mungkin ini musuh besar yang dianggap sebagai sumber bidah, takhayul, dan khurafat. Tarekat adalah sasaran amuk gerakan purifikasi. Jargon kembali kepada Al-Qur’an dan As Sunah sesungguhnya adalah sebentuk perlawanan secara substantif terhadap tarekat dan segala varian yang menyertai. Suluk dan wirid adalah sesuatu yang tabu.

Filsafat adalah sasaran kedua. Ilmu kalam yang banyak bersandar pada filsafat Yunani dianggap sumber petaka setelah tarekat. Para filsuf dianggap sebagai pintu gerbang masuknya berbagai pikiran liberal, zindiq, dan mengotori iman. Pikiran filsafat ditolak dengan keras dan agaknya sebagian malah ada yang pasang pagar betis agar barisan filsuf tidak leluasa masuk.

Ketiga, tradisi pesantren. Pergeseran terjadi, keulamaan Muhammadiyah tidak lahir dari pesantren, tapi dari universitas. Arus utama pemikiran pun berubah, bahkan pola pikir, tradisi, perilaku, dan keadaban tak ada sangkut-paut dengan tradisi pesantren yang dianggap jumud kolot atau tradisional. Sebaliknya, demokratisasi dan egaliterian menjadi sesuatu yang sangat dominan. Tak ada tradisi nyantri dan berguru. Sebab, semua dianggap setara tidak ada kelas sosial dan sebab strata keagamaan berbasis ilmu.

Keempat, musik. Bagi sebagian besar warga Persyarikatan, musik adalah haram karena dianggap melalaikan sehingga setiap acara seremoni atau pengajian kering tanpa kehadiran musik.

Kelima, politik. Sering dijadikan biang konflik dan sumber perpecahan sehingga ditabukan, bahkan setiap anggota dan pimpinan dilarang berpolitik dengan risiko diwakafkan (pecat dengan bahasa halus). Stigma bahwa politik itu kotor sangat kental terasa.

Ke depan, belum terlihat akan ada perubahan pemikiran untuk merehabilitasi tasawuf, filsafat, dan tradisi nyantri, bahkan cenderung dirawat atau didiamkan (tawaqquf) mungkin untuk menghindari konflik paradigma yang lebih luas. Meski dalam beberapa kasus tetap ada benang merah bahwa di antara para ulama Muhammadiyah ada ketiganya itu meski tidak secara par-excellent hadir ditampakkan. Wallahu taala a’lm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here