Apakah Kita Masuk Masjid, Senyaman Masuk Kabin Pesawat?

0
204
Menyejukkan: Jamaah menyimak dengan khusyu' materi yang disampaikan penceramah. (Foto: Herda)

KLIKMU.CO – Tabiat orang beriman ialah lebih memilih dan cinta Allah daripada dihadapkan kemewahan dunia dan seisinya. Ia juga mampu mengarahkan istri, anak dan keluarganya untuk selalu dekat dengan Allah serta istiqomah melaksanakan kebaikan.

Hal itu disampaikan Ustadz Sunarko, SPd. dalam tausiyah subuh di Masjid Al-Furqan jalan Platuk Domomulyo VI/9 Kenjeran Surabaya, Sabtu (9/6).

“Apabila ada adzan atau ada bel hanphone berbunyi berbarengan, mana yang kita dahulukan?” katanya bahwa ketika imannya kuat, dia akan memilih mengedepankan panggilan Tuhan.

Menurut dia, orang yang bertakwa lebih mengutamakan perintah menjalankan shalat. Dan juga mereka istiqomah menjaga amal kebaikan sampai dia dipanggil oleh Allah.

Sunarko menilai akhir-akhir ini umat Islam kecenderungannya merasa kurang nyaman dan nikmat saat masuk masjid. Berbeda halnya ketika akan masuk kabin pesawat, rasanya nyaman sekali.

“Apakah kita masuk masjid, juga seperti itu?” tanyanya pada jamaah subuh. Bahwa seringkali kita tidak merasa atau tidak mau merasakan nikmatnya masuk masjid.

Bagi dia, ada yang salah dengan hati orang islam saat sebelum atau saat memasuki masjid tidak merasakan nikmatnya.

“Coba dikontak hati kita, kalau hati kita nyambung, maka hati ini akan nyaman, merasakan kebahagiaan,” katanya.

Dia menjelaskan tentang sabda Nabi, “Man qaama Ramadhaan imaanan wahtisaaban ghufira lahu maataqaddama mindzambihii, barang siapa yang berdiri melaksanakan puasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, maka dijamin bahwa dosa-dosanya diampuni oleh Allah bahkan yang telah lampau.”

“Orang beriman akan berkata. Aku lebih cinta Allah daripada dunia dan sisinya, sehingga orang beriman ketika mendengar adzan dia akan segera memenuhi panggilan tersebut,” ungkapnya.

Ia berpesan, agar tetap mengerahkan keluarganya dengan sekuat tenaga untuk tetap istiqomah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Sebab, menurutnya orang beriman hidupnya bahagia dan orang tidak beriman hidupnya akan sengsara.

“Orang sengsara itu pikiran dan tenganya habis digunakan untuk merusak, meyebar fitnah, menyakiti tetangganya. Sehingga dia akan menderita dengan pikirannya sendiri. (Herda/Habibie/Dul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here