Bagaimana agar Berita Tragedi Sriwijaya Air Tak Makin Melukai Keluarga Korban?

0
234
Detikhealth

Oleh: Kardono Setyorakhmadi

Jurnalis, tinggal di Surabaya

KLIKMU.CO

Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air ke Kepulauan Seribu, selain memunculkan kesedihan, juga memunculkan kecaman terhadap para jurnalis. Tak kurang dari media mainstream pun juga menerbitkan artikel yang kurang bermutu, dan tak ada kaitannya, seperti firasat atau hal-hal yang tak berkaitan dengan kepentingan publik.

Namun, ada juga kritikan lebih jauh yang sampai menimbulkan kesan bahwa para jurnalis seperti haram hukumnya melakukan pekerjaannya dengan mendatangi keluarga korban. Pada titik tertentu, ini mungkin benar. Tapi, pada beberapa hal lainnya kritikan itu kurang tepat. Karena hanya akan membuat para jurnalis hanya menjadi jurnalis press release saja. Menanti jumpa pers dari para narasumber resmi.

Ini tentu bukan pilihan. Karena, selain hanya menghasilkan narasi yang hambar dan singkat (paling banter hanya: “kami sudah menemukan petunjuk A, B, C, dan D, dan kami masih melakukan penyelidikan terhadapnya), coverage terhadap sebuah peristiwa ya hanya akan sangat dangkal. Jurnalis selalu dituntut untuk mengabarkan informasi yang lengkap dari berbagai sisi, dan harus bisa mengungkap untuk memberikan gambaran sebuah peristiwa dengan lebih baik. Yang jadi persoalan sekarang ini adalah sampai seberapa jauh pengungkapan dan penggalian itu, terutama dari sisi konteks kepentingan publik.

Saya sepakat memang jika kehadiran orang tak dikenal dalam kehidupan keluarga orang yang tertimpa kemalangan itu terasa mengganggu. Di sisi lain, jurnalis mempunyai tugas untuk mengabarkan informasi sebuah peristiwa selengkap-lengkapnya. (Tentu saja lengkap dalam konteks kepentingan publik ya, bukan “inilah wajah cantik pramugari dalam postingan sebelum meninggal).

Jika anda pernah menjadi jurnalis, apalagi jurnalis desk kriminal seperti saya, salah satu tugas yang paling mengganggu ketika terjadi pembunuhan, kecelakaan, atau kemalangan lainnya, adalah mencari foto semasa hidup. Atau jika ada penganiayaan berat, foto korbannya. Sebab, memuat foto korban (terutama yang semasa hidup dan korban pembunuhan) itu penting. Memang ada silang pendapat di masa kini, tapi baik untuk kepentingan penyelidikan maupun publik, ini sangat penting. Misalnya, ada seorang kerabat atau teman yang mengenali dan mempunyai informasi penting yang bisa memberikan petunjuk ke yang berwajib terkait kasus itu, misalnya.

Lalu, bagaimana saya dulu melakukannya? Ya pasti mendatangi keluarga korban. Tapi, biasanya saya memilih untuk datang sendiri. Tidak grudak-gruduk bersama dengan jurnalis lainnya. Oya, tentu saja, niat pertama datang itu harus terus diingatkan bahwa apa yang saya cari ini bukan untuk sekedar kepo dan asal mendapatkan sisi lain. Tapi, benar-benar untuk kepentingan publik. Ini penting, biar tidak terjebak pada asal mendapatkan yang aneh. Seperti jurnalisme firasat, jurnalisme story lah ato apa.

Untuk hal ini, saya mempunyai golden rules. Harus datang sendirian, menggunakan pendekatan personal, dan tidak menggunakan peralatan pers di awal. Baik itu kamera, notes, atau pun recorder. Karena, narasumber pasti terganggu ketika ada sorotan kamera dan langsung bertanya mengenai hal yang sangat sensitif. Seorang jurnalis harus memenangkan hati narasumbernya terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara yang sebenarnya. Repot? Iya memang, siapa bilang jadi jurnalis itu gak repot.

Apakah berhasil? Tidak selalu berhasil. Tapi, dalam kasus saya, lebih sering berhasilnya. Kalau pun tidak berhasil, biasanya saya mendapatkan petunjuk latar belakang mengenai apa yang terjadi sebenarnya.

Saya berikan contoh. Ini yang tidak berhasil mendapatkan wawancara keluarga korban, ya. Sekira sepuluh tahun lalu, ada sebuah kasus penculikan anak seorang konglomerat di Surabaya. Melalui kontak-kontak saya di kepolisian, sebenarnya saya sudah mendapatkan gambaran umum kronologi berikut foto anak yang diculik tersebut. Tapi, sebagai jurnalis, tentu saya harus mendapatkan wawancara keluarga korban berikut izin pemasangan foto korban.

Saya mendatangi keluarganya, dan mereka tidak bersedia diwawancarai secara on the record. Juga menolak untuk dipasang fotonya. Meski saya telah berupaya keras (termasuk menunggu mereka selama tiga jam di depan rumahnya), mereka tetap tidak mau bicara. Tapi, dari situ saya mendapat petunjuk, bahwa ini bukan kasus penculikan sebenarnya. Akhirnya, tone tulisan saya pun berubah. Tidak lagi memandangnya sebagai kasus penculikan. Dan belakangan, diketahui bahwa ini sebenarnya adalah kasus pertikaian keluarga yang agak kebablasan sampai main culik.

Kemudian ini contoh kasus yang berhasil. Sekitar 15 tahun lalu, Surabaya sempat dihebohkan dengan kasus terbunuhnya seorang tentara di sebuah rumah kos-kosan perempuan pada dini hari. Pelakunya adalah salah seorang penghuni kos tersebut. Perempuan itu kemudian diamankan di kantor polisi.

Sebagai jurnalis yang baik, saya justru tidak datang ke kantor polisi pada pagi atau siang harinya. Karena, saya tahu saat itu di kantor polisi sudah berkerumun para jurnalis. Saya bisa bayangkan kondisi psikologis perempuannya. Sudah pasti syok setelah menusuk seorang tentara, kemudian dipaksa bicara pada puluhan jurnalis di depan kamera. Tentu sulit akan bercerita dengan baik. Saya memilih datang ke TKP untuk mencocokkan fakta dengan kronologi yang telah saya dapatkan dari sesama teman wartawan.

Saya justru datang pada sore hari, ketika sudah tidak ada para jurnalis lainnya. Melalui kontak saya di kepolisian, saya mendapat lampu hijau untuk bertanya langsung. ’’Silakan temui, dan kalau yang bersangkutan tidak mau, jangan dipaksa ya,’’ begitu kata komandannya.

Saya pun menemuinya di ruang pemeriksaan. Kebetulan, lagi break penyidikan. Saya perkenalkan diri, dan kemudian saya ambilkan air. Saya ucapkan kata-kata bernada empati, dan kemudian dengan halus bertanya soal kronologi kejadian. Untung saja, perempuan itu di fase hendak mengungkapkan semua ganjalan di hatinya. Dia bercerita panjang lebar selama satu setengah jam, bahwa dia sebenarnya tak berniat membunuh, dan tak pernah menyangka tentara itu terbunuh. Dia membela diri, dan mengaku dianiaya. Bahkan, dia menunjukkan satu ruas jarinya yang putus gara-gara dianiaya tentara tersebut. Ketika saya minta izin memotret jarinya, dia bahkan bersedia difoto bersama luka-lukanya yang mendukung ceritanya.

Keesokan harinya, tulisan saya termasuk yang paling lengkap memuat apa yang terjadi, berikut latar belakang peristiwanya. Gambaran TKP, cerita versi perempuan itu, dan pernyataan resmi dari kepolisian membuat masyarakat bisa mendapatkan apa yang sebenarnya terjadi pada dini hari itu. Belakangan kasus itu kemudian membuat debat publik mengenai soal bela diri. Polisi akhirnya menghentikan kasusnya karena menganggap bela diri, institusi militer tidak terima dan mempraperadilankan polisi. Pengadilan memenangkan militer, dengan alasan bahwa yang boleh menetapkan itu sebuah upaya pembunuhan itu bela diri apa tidak itu adalah pengadilan, bukan penyidik. Polisi tidak terima, banding, tapi kalah lagi. Akhirnya, polisi membuka kasus itu, tapi tidak pernah benar-benar menyidiknya lagi. Petunjuk kejaksaan yang diterima tidak bisa dilakukan, karena saksi-saksi sudah pindah rumah dan polisi tidak bisa melacaknya lagi.

Demikianlah, menjadi jurnalis sepanjang niat anda di awal adalah untuk kepentingan publik, maka tidak akan ada itu yang namanya mengungkap sisi lain yang gak relevan. Atau menerbitkan berita dengan dengan angle firasat-firasatan. Tapi, juga tidak lantas menjadi jurnalis yang begitu kaku dengan hanya mengacu pada narasumber resmi dan formal. Menjadi jurnalis itu memang repot dan tak mudah. Seperti halnya menjalani profesi lainnya dengan sungguh-sungguh. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here