Bagaimana Pola Ritual Santri?

0
161
maritimnews.dom

Oleh: Aria Bagus Iyana *)

KLIKMU.CO

Kehidupan ritual santri diatur dalam waktu yang lima –subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya–, diulangi setiap hari dalam bentuk sederhana yang sama. Dalam ruang, ia dibatasi oleh tiga lingkaran sosial yang semakin lama semakin inklusif. Ruang tersebut didefinisikan oleh tiga lembaga tempat sembahyang biasa dilakukan: rumah, langgardi kampung, dan masjid desa.

Sembahyang subuh, zuhur, dan isya biasanya dilakukan di rumah; sembahyang magrib sering dilakukan (oleh para laki-laki, sementara para perempuan selalu bersembahyang di rumah). Dengan beberapa teman di langgar yang berdekatan, sembahyang Jumat selalu di masjid bersama seluruh umat desa. Tempat-tempat itu adalah titik pertemuan sembahyang yang dipolakan dalam waktu, karena ketaatan melakukan sembahyanglah yang akhirnya menjadikan seseorang sebagai santri; kaum priyayi dan abangan hampir tak pernah melakukannya- dengan kelompok sosial yang digambarkan secara spasial, terdiri atas rumah tangga, lingkungan ketenangan, serta desa.

Sembahyang

Dari ‘Abdullah bin Umar bahwasannya Rasulullah SAW dahulu salat sebelum zuhur dua rakaat dan sesudahnya dua rakaat, dan sesudah magrib dua rakaat di rumah beliau, dan sesudah isya dua rakaat dan beliau tidak salat sesudah Jumat, melainkan setelah pulang, beliau lalu salat dua rakaat (HR. Bukhari juz 1, hal.225)

Sebenarnya kata payer (Inggris) bukanlah terjemahan yang tepat untuk salat (juga disebut sembahyang) karena berbeda dari sembahyang Kristen, salat ditetapkan tidak saja waktunya, tetapi juga bentuk serta isinya. Ada perbedaan yang tajam antara ibadah wajib dan doa perprangan yang sukarela bisa dilakukan kapan saja oleh orang untuk memohon sesuatu kepada Tuhan dengan ungkapan apa saja serta dalam bahasa Jawa, bukan bahasa Arab, kalau orang menghendakinya. Dengan demikian, salat lebih baik diterjemahkan dengan “ritual incatation”.

Dari Tsauban, ia berkata: dahulu Rasullah SAW apabila selesai dari salat, beliau memohon ampunan (membaca istigfar) tiga kali. Lalu beliau membaca, “alloohumma antas salaam, wa minkas salaam,tabaarokta yaa dzal jaalni wal ikroom”. (ya allah, engakau engkau maha selamat, dan dari engkaulah datangnya keselamatan, engkau maha berkah, wahai tuhan yang maha agung lagi maha mulia). (HR. Ibn Majah Juz 1, hal. 300, no. 928)

Salat jumat

Sembahyang Jumat berjamaah mencerminkan kebersamaan simbolik umat seluruh desa dan perasaan memiliki ”masjid sendiri” demikian kuatnya sehinggga orang berpindah dari desa ke kota yang berdekatan sering kembali ke masjid di desanya untuk sembahyang Jumat. (Bagi mereka yang tinggal di sekeliling masjid, bangunan itu bertindak sebagai langgar pula, di mana sembahyang Magrib dilakukan setiap hari). Pengurusan masjid desa seluruhnya dilakukan oleh orang-orang orang setempat, ketua dan dewan pengurusnya dipilih oleh mereka yang menggunakan masjid itu.

Sedangkan pelaksanaan waktu salat Jumat adalah ketika matahari tergelincir, yang dijelaskan pada hadits sebagai berikut:

Dari anas bin malik RA, bahwasanaya nabi SAW salat jumat ketika matahari sudah tergelincir 9HR. Bukhari juz 1, hal. 217)

*) Aktivis IMM UIN Sunan Ampel Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here