Bagian II: Sejarah, Keutamaan, dan Hukum Shalat Tarawih

0
473
inews.com

Oleh: Dr. Abdul Mu’ti M.Ed

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

KLIKMU.CO

Puasa Ramadhan dan shalat Tarawih tidak disyariatkan pada waktu bersamaan. Menurut beberapa riwayat, puasa Ramadhan disyariatkan pada 10 Sya’ban tahun kedua (2) setelah Hijrah, atau 15 tahun setelah kenabian. Walaupun demikian, Nabi Muhammad senantiasa berpuasa sebagaimana puasa Nabi terdahulu dan juga puasa yang dilakukan bangsa Arab. Nabi Nuh berpuasa tiga hari setiap bulan. Nabi Dawud berpuasa dua hari sekali. Orang Nasrani berpuasa 50 hari, meskipun sebenarnya mereka hanya diwajibkan 30 hari. Penulis tidak mengetahui dengan pasti kapan shalat Tarawih mulai disyariatkan.

Sebagian menyebut tangggal 23 Ramadhan pada tahun-tahun akhir menjelang wafatnya Rasulullah. Hal ini didasarkan pada beberapa riwayat yang mengaitkan Tarawih dengan Haji Wada (perpisahan) pada tahun kesembilan setelah Hijrah. Juga riwayat Aisyah yang menyebutkan Nabi melaksanakan shalat Tarawih ketika badannya sudah gemuk dan payah untuk melaksanakan shalat malam. Karena itu, ketika melaksanakan shalat Tarawih di rumah Rasulullah beberapa kali beristirahat. Riwayat Aisyah menyebut setelah empat rakaat, Rasulullah beristirahat. Lafadz Tarawih berasal dari kata raha yang bisa berarti santai, rileks, atau istirahat. Dalam bahasa Indonesia dikenal istilah “rehat” yang artinya adalah istirahat sejenak untuk menghilangkan kelelahan, kepanikan, kejenuhan, dan sejenisnya. Karena itu pula, riwayat tentang jumlah rakaat Tarawih menurut riwayat Hadits juga berbeda-beda. Ada yang menyebutkan delapan rakaat, sepuluh rakaat, dua puluh rakaat, tiga puluh enam rakaat dan riwayat lainnya. Semua riwayat berdasarkan atas dalil dan Hadits Nabi. Semua sesuai keyakinan. Tetapi, karena Tarawih adalah ibadah Mahdlah sebaiknya merujuk pada Hadits yang maqbulah: sahih (kuat) dan hasan (baik).

Di antara Hadits sahih yang menjelaskan rakaat shalat Tarawih adalah sebagai berikut:

حدثنا القعنبي عن مالك، عن سعيد بن أبي سعيد المقبري، عن ابي سلمة بن عبد الرحمن انه أخبره انه سأل عائشة زوج النبي صلى ا عليه وسلم: كيف كانت صلاة رسول ا صلى ا عليه وسلم في رمضان؟ فقالت كان رسول ا صلى ا عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على احدى عشرة ركعة، يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن و طولهن، ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن و طولهن، ثم يصلي ثلاثا. قالت عائشة فقلت: يا رسول ا اتنام قبل أن توتر؟ فقال يا عائشة إن عيني تنامان ولا ينام قلبي. رواه أبو داود.

“Al-Qa’nabi menyampaikan kepada kami dari Malik, dari Said bin Abu Said al-Maqburi, dari Abu Salamah bin Abdurrahman yang mengabarkan bahwa dia bertanya kepada Aisyah isteri Nabi Muhammad Saw. Bagaimana shalat malam Rasulullah Saw pada bulan Ramadhan? Aisyah menjawab: Rasulullah Saw tidak pernah melaksanakan shalat malam lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan lainnya. Beliau melaksanakan shalat empat rakaat, tetapi jangan tanya bagaimana baik dan lamanya shalat empat rakaat tersebut. Kemudian beliau melaksanakan shalat empat rakaat (lagi) dan jangan tanya bagaimana baik dan lamanya shalat empat rakaat tersebut. Kemudian beliau melaksanakan shalat tiga rakaat. Aisyah melanjutkan, aku pernah bertanya: Wahai Rasulullah apakah engkau tidur sebelum melaksanakan shalat Witir? Beliau menjawab: Wahai Aisyiah, kedua mataku memang tidur, tetapi hatiku tidak pernah tidur.” (HR. Abu Dawud).

Shalat Tarawih adalah ibadah tathawwu yaitu ibadah sunnah yang disyariatkan untuk menyempurnakan ibadah fardlu. Sesuai Syariat, shalat Tarawih hanya dilaksanakan pada malam bulan Ramadhan. Shalat Tarawih merupakan salah satu diantara ibadah yang sangat dianjurkan. Barangsiapa melaksanakan karena iman, maka Allah akan mengampuni dosa manusia di masa lalu. Diriwayatkan oleh Jamaah dari Abu Hurairah r.a. katanya:

كان رسول ا صلى ا عليه وسلم يرغب في قيام رمضان من غير أن يأمر فيه بعزيمة فيقول: من قام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.

“Rasulullah Saw menganjurkan untuk melaksanakan shalat pada malam bulan Ramadhan, tetapi tidak mewajibkan. Beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang bangun pada malam bulan Ramadhan dan mengharapkan keridlaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” Di dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, an-Nasai, dan Ibnu Majah dari Abdurrahman bin Auf disebutkan:

عن عبد الرحمن بن عوف قال. قال رسول ا صلى ا عليه وسلم. ان ا عز وجل فرض صيام رمضان وسننت قيامه فمن صامه قوامه ايمانا واحتسابا خرج من الذنوب كيوم ولدته امه.

“Dari Abdurrahman bin Auf berkata. Bersabda Rasulullah Saw. Sesungguhnya Allah azza wa jalla mewajibkan Puasa Ramadhan dan menganjurkan menegakkan shalat di malamnya. Barangsiapa yang berpuasa dan menegakkan malamnya dengan iman dan mengharapkan ridla Allah, maka akan diampuni dosanya seperti ketika baru dilahirkan oleh ibunya.” Maksudnya adalah lahir dalam keadaan bersih tanpa dosa. Karena itu menunaikan shalat Tarawih sangat penting dan utama karena hanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Walaupun hukumnya sunnah, sayang sekali apabila ditinggalkan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here