Bagian III: Pelaksanaan Shalat Tarawih

0
331
inews.com

Oleh: Dr. Abdul Mu’ti M.Ed

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

KLIKMU.CO

Shalat Tarawih dilaksanakan pada malam hari setelah shalat Isya sampai sebelum shalat Shubuh (Fajar). Sebagian melaksanakan segera setelah shalat Isya dalam satu rangkaian. Sebagian melaksanakan pada waktu tengah malam; sepertiga malam sampai menjelang Fajar. Pelaksanaan ini berdasarkan pada Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud:

حدثنا حسين بن يزيد الكوفي؛ حدثنا حفص عن هشام ابن عروة، عن أبيه، عن عائشة قالت: إن كان رسول ا صلى ا عليه وسلم ليوقظه ا عز وجل بالليل فما يجىء السحر حتي يفرغ من حزبه.

“Husein bin Yazid al-Kufi menyampaikan kepada kami dari Hafsh, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya bahwa Aisyah berkata: Allah Azza wa Jalla membangunkan Rasulullah Saw pada malam hari sehingga tidaklah datang waktu sahur, kecuali beliau telah menyelesaikan shalat malamnya. Mengenai bagaimana Rasulullah melaksanakan shalat Tarawih dapat dipahami dari Hadits riwayat Imam Tirmidzi dan Jamaah dari Aisyah r.a. katanya:

صلى النبي صلى ا عليه وسلم في المسجد فصلى بصلاته ناس كثير ثم صلى من القابلة فأكثروا. ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة فلم يخرج إليهم فلما أصبح قال: قد رأيت صنيعكم فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني خشيت ان تفرذ عليكم وذالك في رمضان.

“Nabi Saw shalat di masjid maka banyak pula orang-orang yang mengikutinya. Besok malamnya, beliau shalat dan orang yang mengikutinya semakin banyak. Selanjutnya pada malam ketiga, orang-orang sudah berkumpul tapi beliau tidak keluar. Pagi harinya beliau bersabda: Aku tahu apa yang kalian lakukan semalam, sedangkan akupun tidak ada halangan untuk keluar, hanya saja (kalau keluar) aku khawatir kalau-kalau shalat itu (Tarawih) difardlukan atasmu nanti.” Di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah Saw membatasi sebuah tempat di masjid (dengan tikar) lalu beliau keluar untuk melaksanakan shalat pada malam hari di dalamnya. Beberapa orang kemudian shalat di belakang beliau dan menemuinya setiap malam, hingga pada suatu malam Rasulullah Saw tidak keluar menemui mereka. Merekapun berdehem mengeraskan suara dan melempar rumah beliau dengan kerikil kecil. Kemudian Rasulullah Saw keluar menemui mereka dalam keadaan marah lalu beliau bersabda:

يا أيها الناس! مازال بكم صنيعكم حتى ظننت أن سيكتب عليكم، فعليكم بالصلاة في بيوتكم فإن خير صلاة المرء في بيته إلا الصلاة المكتوبة. رواه أبو داود.

“Wahai sekalian manusia, kalian melakukan terus menerus apa yang kalian lakukan (selama ini) hingga aku mengira bisa jadi (shalat malam berjamaah) itu akan diwajibkan atas kalian. Sungguh sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat di rumahnya, kecuali shalat fardlu.” (HR. Abu Dawud). Keterangan mengenai shalat Tarawih di rumah dijelaskan dalam Hadits riwayat Abu Ya’la dan Tabrani dari Jabir:

جاء ابي بن كعب إلى رسول ا صلى ا عليه وسلم فقال: يا رسول ا انه كان مني الليلة شيء، يعني في رمضان قال: وما ذاك يا ابي؟ قال نسوة في داري قلن: إنا لا نقرأ القرآن فنصلي بصلاتك؟ فصليت بهن ثماني ركعات واوترت، فكانت سنةالرضا ولم يقل شيا.

“Ubay bin Ka’ab datang kepada Rasulullah Saw dan berkata: Ya Rasulullah semalam terjadi sesuatu denganku. Ini terjadi dalam bulan Ramadhan. Beliau bertanya: Kejadian apa itu wahai Ubay? Ia menjawab ada beberapa wanita di rumahku, kata mereka kami tidak dapat membaca Alquran, oleh sebab itu kami hendak shalat bermakmum denganmu saja. Saya kemudian shalat bersama mereka delapan rakaat kemudian berwitir. Tampak keridlaan beliau Saw (terhadap apa yang aku lakukan) dan tidak mengucapkan sepatah katapun.”

Tentang pelaksanaan shalat Tarawih berjamaah di masjid baru dimulai pada masa akhir kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Pada masa Rasulullah Saw, Abu Bakar dan masa awal Umar bin Khattab tidak ada ketentuan shalat Tarawih di masjid. Para sahabat melaksanakan di rumah atau di masjid, sebagian melaksanakan sendiri dan yang lainnya berjamaah. Kemudian pada masa Umar bin Khattab shalat Tarawih dilaksanakan berjamaah di masjid dengan seorang imam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdurrahman bin Abdul Qadir katanya: “Pada suatu malam dalam bulan Ramadhan saya ke luar dengan Umar ke masjid. Di situ sudah banyak orang yang shalat dengan terpencar-pencar, ada yang shalat sendirian dan ada pula yang berjamaah. (Melihat kejadian itu) Umar berkata: Saya berpendapat alangkah baiknya apabila mereka itu dikumpulkan dengan seorang imam. Saya merasa itu lebih utama. Malam berikutnya, dikumpulkanlah mereka dan ditunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imam. Pada suatu malam lain, saya ke luar lagi ke masjid bersama Umar, sedang orang-orang banyak melaksanakan shalat dipimpin seorang imam.

Di saat itu, Umar berkata: alangkah baiknya bid’ah seperti ini, tetapi orang-orang yang tidur untuk shalat akhir malam nanti, adalah lebih utama daripada orang-orang yang mengerjakan sekarang. Pada saat itu orang-orang shalat pada permulaan malam.” Di dalam Hadits disebutkan agar shalat Sunnah, termasuk shalat Tarawih, dilaksanakan di rumah. Hal demikian agar rumah lebih berkah.

حدثنا مسدد حدثنا يحيى عن عبيد ا اخبرنا نافع عن ابن عمر قال. قال رسول ا صلى ا عليه وسلم اجعلوا في بيوتكم من صلاتكم ولا تتخذوها قبورا. رواه أبو داود.

“Musaddad menyampaikan kepada kami dari Yahya bin Ubaidullah, dari Nafi yang mengabarkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda: Jadikanlah rumah kalian sebagai tempat melaksanakan shalat, dan janganlah kalian menjadikannya seperti kuburan.” (HR. Abu Dawud). Shalat Tarawih di Rumah Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum shalat Tarawih adalah sunnah. Baik sekali apabila mampu melaksanakan, akan tetapi tidak berdosa apabila meninggalkan. Shalat Tarawih dapat dikerjakan di masjid atau di rumah baik sendiri maupun berjamaah. Shalat Tarawih berjamaah di masjid dengan seorang imam baru dimulai pada masa Umar agar pelaksanaan lebih tertib. Meskipun shalat berjamaah di masjid di awal malam diperbolehkan, melaksanakan di akhir malam (setelah tidur) lebih dianjurkan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here