Bagian IV: Shalat Tarawih di Tengah Pandemi Covid-19

0
375
inews.com

Oleh: Dr. Abdul Mu’ti M.Ed

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

KLIKMU.CO

Dalam situasi pandemi Covid-19, shalat Tarawih di rumah lebih baik dan lebih sesuai Syariat daripada shalat di masjid. Pertama, Nabi Muhammad lebih banyak melaksanakan shalat Tarawih di rumah daripada di masjid. Dalam beberapa riwayat disebutkan Nabi Muhammad Saw shalat Tarawih berjamaah di masjid hanya dua atau tiga kali selama Ramadhan. Itu berarti, Rasulullah Saw lebih memilih Shalat Tarawih di rumah. Demikian halnya dengan Abu Bakar dan Umar. Walaupun Umar memerintahkan agar shalat Tarawih di masjid dilaksanakan secara berjamaah, beliau sendiri -sepertinya- tidak ikut dalam jamaah tersebut. Sebagaimana riwayat Imam Bukhari, bahwa ketika Umar ke masjid, shalat Tarawih sudah berlangsung. Umar bahkan mengatakan yang shalat tengah malam (setelah tudur) lebih baik. Kedua, shalat Tarawih di masjid mengandung resiko kesehatan dan keselamatan. Penularan virus corona berlangsung cepat dan semakin meluas. Tidak ada pihak yang bisa menjamin bahwa suatu daerah bersih dari virus. Islam mewajibkan manusia untuk beramal sesuai Syariat dan berikhtiar mengikuti prinsip-prinsip amaliah dan ilmiah. Dalam berperilaku manusia diperintahkan untuk berhati-hati dan tidak memaksakan diri.

Tujuan Syariat adalah untuk kesejahteraan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Manusia dilarang memaksakan diri dalam beribadah. Shalat Tarawih di masjid memang merupakan syiar Islam yang penting. Ada perasaan yang hilang ketika tidak berjamaah. Akan tetapi kesempatan yang hilang itu dapat diganti dengan amalan lain yang disyariatkan dan penuh kemuliaan. Selama Ramadhan sangat dianjurkan bersedekah dan amalan sunnah selain Tarawih seperti tadarus Alquran, qiyamu lail, dan sebagainya. Ketiga, dalam beragama dan bermuamalah hendaknya kita mengikuti pemimpin dan pemerintah. Allah berfirman:

ُم ْو َن َت ْعلَ ْنُت ْم لاَ ِا ْن كُ كْرِ ْهَل الذ ْٓوا اَ ُ ْسـل يْهم فَ َ ْو ِح ْٓي ِال ن َجالاً رِ َك ِالا بْلَ َنا قَ ْر َسلْ َو َمآ اَ

“Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Anbiya [21]: 7). Dalam memahami agama, apabila tidak mampu, sebaiknya kita mengikuti (itba’) fatwa para ulama. Dalam hal terdapat fatwa yang berbeda, sebaiknya kita ikuti fatwa yang paling kuat dan paling banyak. Terkait shalat Tarawih di rumah sudah ada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dan para ulama, agar di tengah pandemi Covid-19 dan berbagai umat Islam dianjurkan agar shalat Tarawih di rumah. Di dalam suatu riwayat disebutkan: خطء على أمتي تجتمع لا ” :Umatku tidak akan bersepakat untuk hal-hal atau keputusan yang salah.” Dalam masalah kehidupan bermasyarakat dan bernegara, kita hendaknya mematuhi Pemerintah sebagai ulil amri. Menurut sebagian besar ulama, menaati Pemerintah (umara/ amir) hukumnya wajib, sepanjang perintah tersebut untuk kebaikan dan tidak bertentangan dengan Syariat. Allah berfirman di dalam Surat An-Nisa'[4] : 59

ْنُت ْم ِا ْن كُ َى اللهِ َوالرُس ْولِ ُرد ْو ُه ِال ْي َش ْيٍء فَ ِا ْن َتَناَز ْعُت ْم ِف ْمۚ فَ ِمْنكُ ْمرِ َ وِلى الا ْ ُ ُعوا الرُس ْوَل َوا ِطيْ ُعوا اللهَ َواَ ِطيْ َمُن ْٓوا اَ ٰ ِذ ْي َن ا يَها ال ٰٓياَ ْيًلا ْح َس ُن َتوِ ِخِۗر ٰذِل َك َخيْ ٌر واَ ٰ يَ ْوِم الا ْ ْ اِ َوال ِ تُ ْؤ ِمُن ْو َن ب

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Sejalan dengan ayat tersebut, di dalam Hadits riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan:

عن أبي هريرة رضي ا عنه أن رسول ا صلى ا عليه وسلم قال: من اطاعني فقد اطاع ا ومن عصاني فقد عصي ا ومن اطاع اميري فقد اطاعني ومن عصا اميري فقد عصا ني. رواه البخاري.

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang mematuhi perintahku, maka sesungguhnya dia mematuhi perintah Allah. Dan siapa yang melanggar perintahku maka sesungguhnya dia mendurhakai Allah. Siapa yang mematuhi perintah pejabatku (amir) maka dia mematuhi perintahku. Dan siapa yang melanggar perintah pejabatku, maka sesungguhnya orang itu melanggar perintahku.” (HR. Bukhari). Anjuran Pemerintah agar umat Islam melaksanakan shalat Tarawih di rumah tidak bertentangan dengan Syariat. Bahkan, anjuran itu memperkuat Syariat. Keempat, shalat-shalat sunnah lebih utama dilaksanakan di rumah. Imam Ahmad dan Muslim menceritakan dari Jabir r.a. bahwa Nabi Saw bersabda:

اذا صلى أحدكم الصلاة في مسجده فليجعل لبيته نصيبا من صلاته فإن ا عز وجل جاعل في بيته من صلاته خيرا.

“Jikalau salah seorang dari kamu bisa shalat di masjid hendaklah rumahnya juga diberi bagian dari shalatnya, supaya Allah meletakkan kebaikan di dalam rumahnya itu karena shalatnya tadi.” Dalam riwayat Imam Ahmad dari Umar r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda:

صلاة الرجل في بيته تطوعا نور فمن شاء نور بيته.

“Shalat tathawwu (sunnah) seseorang di dalam rumahnya adalah cahaya. Maka barangsiapa suka (melaksanakan) berarti ia menerangi rumahnya hingga bercahaya.” Kelima, shalat Tarawih di rumah dapat meningkatkan keharmonisan dan kekuatan ikatan keluarga. Shalat Tarawih di rumah dapat dilaksanakan dengan suami atau anak-laki yang dewasa sebagai imam. Apabila bacaan ayat terbatas, setelah al-Fatihah dapat membaca surat-surat dan yang pendek. Ayat yang sama boleh dibaca lebih dari sekali bahkan berulangkali. Inilah kemudahan pelaksanaan Syariat Islam. Allah berfirman di dalam surat al-Muzammil [73]: 20. فاقرؤوا ما تيسر منالقرآن “… maka bacalah yang mudah dari ayat-ayat Alquran…” Kendala keterbatasan hafalan Alquran tidak boleh menjadi halangan shalat Tarawih berjamaah di rumah. Bahkan, imam bisa juga membaca dengan melihat teks Alquran secara langsung.

Kesimpulan

Dalam situasi pandemi Covid-19 kita tetap harus berusaha melaksanakan shalat Tarawih sebagai keutamaan (fadhilah) dan memakmurkan malam bulan Ramadhan. Shalat Tarawih lebih baik dilaksanakan di rumah secara berjamaah karena lebih sesuai dengan kehendak Syariat Islam, meningkatkan kerukunan dan kebahagiaan keluarga, dan menghindari kemungkinan penularan wabah Covid-19. Syiar Ramadhan berupa shalat Tarawih di masjid dapat diganti dengan syiar yang lebih bermanfaat misalnya melalui kajian virtual, tadarus online, dan sedekah yang bermanfaat langsung bagi masyarakat, terutama para fakir dan miskin. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini marilah kita berdoa agar wabah Covid-19 dapat segera diatasi dengan berkah pertolongan Allah dan buah kerjasama semua lapisan masyarakat, termasuk peran serta umat Islam. Wallahu ‘alam. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here