Bahaya Muslim Kagetan yang Memahami Agama secara Instan

0
537
Pradana Boy (kanan) bersama Nurbani Yusuf dalam diskusi di RBC Institute. (Foto oleh RBC)

KLIKMU.CO – “Muslim kagetan saya kira menggambarkan satu situasi bahwa dalam dunia hari ini ada orang yang tiba-tiba memiliki semangat keislaman yang tinggi, yang sebetulnya itu baik, tapi tiba-tiba semangat keislaman yang tinggi itu diwujudkan dalam bentuk menganggap liyan sebagai sesuatu yang asing. Karena itu, di luar yang dipahami jadi salah. Makanya jadi kaget.”

Demikian paparan Asisten Rektor UMM Pradana Boy ZTF saat menjadi pemateri dalam acara “Catatan Akhir Tahun: Hasrat Kuasa Muslim Kagetan” yang diselenggarkan RBC Institute, Rabu (23/12/2020). Selain Pradana Boy, hadir pula pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar Kiai Nurbani Yusuf.

Pradana Boy melanjutkan, muslim kagetan memiliki ciri-ciri kaget melihat orang lain berbeda, kaget melihat ada yang berislam tapi tidak pakai jenggot, ada juga yang kaget melihat orang memahami Quran dengan berbagai macam teori.

“Jadi, istilah ini mengandung makna semantik yang sangat baik. Menggambarkan pemihakan apa yang sebenarnya terjadi dengan hari ini. Orang gampang kaget karena nalarnya bekerja kurang baik,” paparnya.

Menurut Pradana Boy, proses memahami Islam itu memang tidak datang secara tiba-tiba atau instan. Diperlukan proses yang panjang dengan berbagai ilmu yang mendalam.

Maka, kalau ada kelompok yang tiba-tiba menganggap kelompok di luar dirinya selalu salah, itu memang prosesnya kurang baik. “Hidup di tradisi keterbukaan menjadikan perbedaan itu hal biasa. Sementara bagi orang di luar sana (muslim kagetan, Red), perbedaan itu sebagai sesuatu yang terlarang,” tegasnya.

Bagaimana hubungannya dengan politik, khususnya dengan reshuffle Kabinet Indonesia Maju Jokowi belakangan ini.

Menuru Pradana Boy, reshuffle ini tentu mengejutkan. Sebab, kedua pasangan yang menjadi rival kini menjadi bagian dari pemerintah. “Kalau dicari tidak ketemu teori demokrasi apa, tapi saya akan mengajukan teori ini demokrasi gotong royong,” ucap pria kelahiran Lamongan tersebut.

Pradana Boy lantas menegaskan bahwa pelaku politik 01 dan 02 itu sekarang sudah tidak ada, tapi pengikutnya masih ada dan bahkan tetap ramai hingga saat ini. “Saya menyebutnya dengan istilah politik yang cair dan masyarakat kita yang beku. Artinya, para pelaku politik atau politisi itu kini sudah mencair dengan bergabung dengan pemerintah, misalnya, tapi ekses yang ditimbulkan di masyarakat arus bawah masih sangat terasa,” paparnya.

“Inilah yang saya maksud yang di atas sudah cair, tapi yang di bawah masih beku,” lanjutnya.

Tokoh senior JIMM itu lantas menilai bahwa berpolitik itu seperti bermain sepak bola. Kalau main harus serius, tapi jangan pernah menganggap permainan itu serius. Sebab, meskipun aturannya ada, sekali-sekali pemain dapat melanggarnya.

“Makanya, sebagian besar Islam kagetan menganggap politik itu serius sehingga kalau beda pilihan sudah masuk urusan hidup dan mati. Jauh sekali implikasinya,” sesalnya.

Oleh karena itu, kata Boy, dirinya tidak terlalu percaya mereka menggunakan dalih agama betul-betul untuk agama. Menurutnya, agama sebagai topeng untuk kepentingan.

“Dan itu dengan sangat jelas terjadi ketika bela Quran,” katanya.

Kalau tujuannya adalah membela Quran atas pencemaran atau penghinaan oleh Ahok, seharusnya urusan berhenti begitu Ahok dipenjara. Kalau tujuannya membela Quran,mestinya ketika yang menghina dipenjara sudah selesai.

Namun, lanjut Boy, faktanya tidak begitu. Dirinya semakin yakin ketika membaca pernyataan di televisi bahwa begitu Anies Baswedan menang pilgub Jakarta, mereka akan membawa kemengan tersebut ke daerah-daerah.  “Jadi, itu namanya hasrat kuasa,” tandasnya. (AS)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here