Baitul Arqom RSMS #5: Butuh Keberanian untuk Mempertahankan Dakwah Muhammadiyah kita, Maksudnya?

0
234
Foto pemateri baitul arqom diambil oleh habibie

KLIKMU.CO- “Orang yang bekerja atau hidup di lingkungan Muhammadiyah memiliki kewajiban untuk mendakwahi diri sendiri, keluarga dan lingkungan”

Demikian disampaikan Ketua Klikjodohmu Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya Ustadz Ferry Yudi Antonis Saputro, S.H.I., M.Pd.I., C.TMI., C.Pt. dalam kegiatan Baitul Arqom yang ke sepuluh Karyawan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surabaya di ruang serbaguna lantai 3 RS PKU Muhammadiyah Surabaya Jl KH Mas Mansyur 180-182 Surabaya, Sabtu (11/5).

“Anak-anak yang sekolah di Muhammadiyah, belum tentu dari  kalangan orang Muhammadiyah, dan amal ibadahnya sama seperti Muhammadiyah. Di Sekolah diajari Allahumma baid bainii, di rumah diajari Kabiiraau, tidak apa-apa semua butuh proses,” paparnya.

Kita ini, lanjutnya, dimasyarakat kita sering  melakukan amalan ketika seseorang meninggal dunia, seperti tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, seribu hari. “Saya Pak, Bu, ketika orang tua saya, yang pertama yakni Mama saya, merupakaj medan dakwah terbesar saya ada di keluarga. Keluarga saya itu yang dari perempuan banyak kristennya dan yang dari laki-laki itu muslim, muslim abangan, daerah wiyung.”

“Ketika Mama saya meninggal, tidak ada yang berani mengajak ritual tahlilan,  Tetapi ketika Papa saya meninggal, rebutan, sampai kakak Papa datang kesaya, ‘Fer, itu Papamu ayahmu, tetapi itu adikku, saudara saya’ kata kakak Papa. ‘Iya De, terus de,” jawab saya. “Aku mau mengadakan tahlilan,” kata kakak Papa. “Monggo De, tetapi jangan mengharap saya datang.” Seperti itu Bapak Ibu, warga Muhammadiyah harus tegas, kita harus menunjukkan bahwa amalan itu tidak ada tuntunannya, tidak ada contoh dari Rasulullah, Ifdak binafsik, dimulai dari diri sendiri,” katanya.

Menurut Wakil Ketua Pimpinan Pemuda Wilayah Jawa Timur, mengatakan, tidak perlu melakukan ritual-ritual seperti itu. “Saya tidak perlu mengadakan ritual tahlilan seperti itu, tetapi setiap habis melaksanakan shalat saya menengadahkan tangan saya memohonkan ampun orang tua saya, penjenangan bisa bertanya Bapak Ibu, apakah Rasulullah mencontohkan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari atau seribu hari?” katanya.

“Saya cerita ini, karena penjenengan semua adalah medan dakwah, untuk mengarah ke keluarga, penjenengan harus di mulai dari diri sendiri dulu, ketika diri sendiri selesai ke keluarga baru ke masyarakat,” ujarnya.

“Bagaimana kita bisa mendakwahi keluarga kita, kalau diri kita masih rancu, ketika sudah masuk dan ngaji di Muhammadiyah maka kita harus konsukwen,butuh keberanian untuk mempertahankan Muhammadiyah kita,”tegas Ketua MPS PDM Surabaya itu. (Habibie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here