Bang Dahnil “Air Mata Mama”

0
336
Foto ibu yang meneteskan airmata diambil dari Islampos

KLIKMU.CO

Saya mengucapkan terimakasih kepada seluruh sahabat, saudara dan semua pihak yang telah turut memberikan perhatian dan doa atas meninggalnya Ibunda saya Nuraini Dewi, pada bulan baik ini, 1 Ramadhan 1440 H bertepatan dengan 6 Mei 2019. semoga beliau husnul khotimah.

Bila ada air mata yang paling kami takuti adalah air mata Mama. Air mata yang tumpah karena kesedihan hati. Ketika hatinya gundah gulana, maka kami seperti merasa berdosa, tak mampu menggembirakan hati perempuan yang telah melahirkan, merawat dan mengajari kami tentang hidup. Mama jarang menasehati. Mama jarang memarahi. Mama seringkali bicara dalam diam dan tangis. Dalam senyum dan tawa. Mama memberikan teladan tentang bertahan dalam kesusahan. Ia perempuan kuat. Kuat bukan karena mampu mengalahkan dan menaklukkan. Ia kuat karena mampu menjadi benteng yang kokoh tak goyah ketika semua orang tumbang karena menyerah. Ia bak benteng kesabaran hidup.

Sakit mama semakin menjadi-jadi ketika kabar fitnah menerpa saya, emosi dan pikirnya goyah, terganggu oleh seliweran fitnah di media yang ia sendiri tak pahami mengapa tega melakukannya, dalam tangisnya aku berusaha menyampaikan pesan, “mam, ini konsekuensi melawan kedzaliman, konsekuensi tak menyerah pada para penjarah, menolak kompromi dengan seragam baru para kompeni”.

Meski dalam hati terus terang, aku merekam semua wajah-wajah penjahat penebar fitnah. Mulai dari mereka yang berpura-pura tak tahu tapi melakukan fitnah kesana kemari, dan berkompromi dengan seragam baru para kompeni tsb. Sampai, sakit mama semakin menjadi-jadi, setiap telpon untuk menanyakan kabar beliau, beliau selalu balik bertanya bagaimana dengan para penjahat seragam kompeni itu, masih terus berusaha?. “Mereka akan terus berusaha sampai anin berhenti dan berkompromi mundur mam”.

Pusat kejahatan di Republik ini saat ini berasal dari para seragam kompeni baru itu mam, mereka kuat memang, tapi Allah maha kuat mam. Saya mengenal baik kejahatan yang sudah dan sedang mereka lakukan mam, dari deretan kejahatan mereka, termasuk memakan korban sahabat ku mam, pejuang antikorupsi Novel Baswedan, yang sampai kini masih terus berjuang, dan aku pun tak akan berhenti berjuang bersama mam.

Dan, sabar serta berani adalah senjata anin saat ini mam, bala bantuan Allah pasti datang, karena yakin kita yang bertauhid tak pernah kalah. Mati pasti datang mam, jadi tak ada tempat untuk takut mam.

Maka, hentikan tangis mu mam. Tersenyumlah, karena mama telah bahagia dijemput pemilik sejati kita mam, karena mama bukan milik kami dan mama telah menunaikan tanggungjawab sebagai ibu yang memberikan teladan kesabaran dan ketabahan kepada kami anak-anak mu mam. Tersenyumlah mam, kami akan hentikan tangis kami, dan berdoa selalu untuk mama, amal terbaik yang bisa kami persembahkan untuk mama adalah terus berbuat baik untuk kemanusiaan, Agama, dan Negara mam. Tersenyumlah mam…anin dan adik-adik tak akan pernah tunduk kepada jaman, apalagi sekedar tunduk kepada ancaman para pemilik seragam kompeni baru itu mam…tidak akan pernah…tidak mam. Tersenyumlah mam.

Medan, 2 Ramadhan 1440 H
7 Mei 2019 M

Salam
Dahnil Anzar Simanjuntak (Anin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here