Bangsa yang Maju Dilihat dari Perpustakaannya

0
240
Prasasti bangsa Sumeria (IDN Times).

Oleh: Prof Dr Djoko Saryono MPd *)

KLIKMU.CO

Marilah sejenak kita ingat kembali keberadaan, kedudukan, dan peran perpustakaan dalam kebudayaan dan peradaban manusia. Sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan kebudayaan dan peradaban di berbagai belahan dunia dilandasi oleh adanya lembaga-lembaga pendidikan atau pembelajaran. Lembaga itu memiliki perpustakaan yang kuat dan terkemuka. Juga ada tradisi literasi yang kokoh dan terbuka.

Selain itu, kemajuan bangsa-bangsa di pelbagai penjuru dunia biasa ditandai oleh kemampuan merespons secara setimpal atas bermacam-macam perubahan yang menyodorkan kebutuhan, tantangan, dan ancaman baru. Kemampuan merespons tersebut berkembang berkat adanya lembaga pendidikan dan atau pembelajaran yang memiliki perpustakaan yang sanggup menemukan, mentransformasikan, dan menyebarluaskan pengetahuan, ilmu, dan teknologi pada satu pihak dan pada pihak lain berkembangnya tradisi literasi yang mantap.

Sebagai ilustrasi, pada masa lampau, bangsa Sumeria di wilayah Mesopotamia –yang sering dianggap sebagai wilayah lahirnya kebudayaan dan peradaban yang maju pada masanya– mampu membangun kebudayaan dan peradaban yang cemerlang berkat adanya pusat pembelajaran dan tradisi literasi yang mantap. Betapa tidak, pada abad ke-30 SM, bangsa Sumeria sudah menghasilkan tulisan epik indah berjudul Gilgamesh, yang masih dapat kita nikmati hingga sekarang.

Demikian juga bangsa China, jauh pada abad-abad Sebelum Masehi, sudah memiliki tradisi literasi yang mantap dan menghasilkan berbagai karya tulis yang sanggup melintasi berbagai zaman. Misalnya Analecta, Art of War, dan Tao The Ching yang tetap laris dibeli dan dibaca orang sampai sekarang. Pada kisaran abad-abad kedelapan sampai keenam Sebelum Masehi, bangsa India Kuno juga sudah menghasilkan karya langgeng Mahabharata, Ramayana, dan Tata Bahasa Panini berkat berkembangnya tradisi literasi dan pusat-pusat pembelajaran.

Pada abad-abad Sebelum Masehi, Yunani Kuno sudah menjadi pusat intelektual, pembelajaran, dan literasi yang menghasilkan karya-karya tulis yang bisa dinikmati oleh manusia zaman sekarang. Bahkan Plato, salah seorang pemikir besar Yunani Kuno, sudah mendirikan lembaga Academia, yang dianggap sebagai universitas pertama di dunia, dengan tradisi simposium [symposium = pesta minum anggur kalangan intelektual aristokratis seraya berdiskursus persoalan tertentu] yang bisa membuahkan bermacam-macam wacana tulis yang dapat kita baca dan menginspirasi hingga sekarang.

Jangan dilupakan pula, Alexandria (Iskandariah), sebuah kota indah di Mesir, pada masa lampau sangat maju dengan perpustakaan yang luar biasa baik dari koleksi pustakanya maupun peran sosiokultural dan intelektualnya. Demikian juga kegemilangan dan kejayaan Baghdad pada masa Abbasiyah, yang ditandai oleh kemajuan pengetahuan dan ilmu yang mengagumkan, disokong oleh Universitas Nizamiyah yang memiliki perpustakaan luar biasa, tradisi literasi yang kuat, dan tradisi keilmuan yang terbuka.

Semua ilustrasi tersebut menunjukkan betapa perpustakaan memiliki keberadaan, kedudukan, dan peran yang fundamental, vital, dan strategis dalam memajukan tradisi intelektual, tradisi keilmuan, dan tradisi literasi. Itu semua selanjutnya memajukan kebudayaan dan peradaban berbagai bangsa di dunia.

Dapat dikatakan bahwa pada permulaan zaman modern sampai pascamodern sekarang tetap tampak kedudukan dan peranan fundamental, vital, dan strategis perpustakaan termasuk perpustakaan lembaga pendidikan bagi kemajuan intelektual, literasi, dan keilmuan, yang selanjutnya mendorong kegemilangan kebudayaan dan peradaban berbagai bangsa. Pada zaman modern, harus diakui, kemajuan bangsa-bangsa Eropa, Amerika, Rusia, dan China ditopang oleh tradisi literasi, intelektual, dan keilmuan di lembaga pendidikan dan masyarakat. Di samping itu, juga disangga oleh keberadaan, kedudukan, dan peranan perpustakaan yang signifikan di lembaga pendidikan dan masyarakat.

Tentu kita ingat bahwa renaisans yang dimulai di Prancis dan aufklarung (pencerahan) yang dimulai di Italia, yang kemudian mampu membebaskan seluruh Eropa dari Abad Kegelapan, disangga oleh kegairahan dan kegandrungan intelektual, literasi, dan keilmuan yang diwadahi lembaga pendidikan, pembelajaran, dan perpustakaan. Universitas Cambridge, Universitas Oxford, dan Universitas Leiden beserta perpustakaan masing-masing yang sangat representatif dan signifikan, menjadi pusat intelektual, literasi, dan keilmuan yang membawa kemajuan dan keunggulan bangsa Eropa.

Demikian juga Harvard University, Stanford University, dan Massachusetts Institute of Technology beserta perpustakaan masing-masing pada satu sisi dan pada sisi lain Congress Library telah menjadi pusat intelektual, literasi, dan keilmuan sekaligus lambang kemajuan dan keunggulan Amerika dalam berbagai bidang kehidupan, mulai bidang ilmu, teknologi maupun ekonomi dan militer. Perguruan tinggi di Rusia yang memiliki perpustakaan representatif juga menjadi pusat intelektual, literasi, dan keilmuan, yang selanjutnya membawa kemajuan dan keunggulan Rusia. Relatif sama perguruan tinggi di China beserta perpustakaan masing-masing yang sangat representatif dan mutakhir telah menjadi tonggak-tonggal intelektual, literasi, dan keilmuan. Ini semua memperlihatkan bahwa perguruan tinggi beserta perpustakaan masing-masing yang representatif dan memiliki vitalitas menjadi sumbu dan hulu kemajuan dan kejayaan berbagai bangsa di dunia.

Itu sebabnya dapat dibilang bahwa kemajuan dan kejayaan suatu bangsa didasari oleh adanya tradisi intelektual, literasi, dan keilmuan yang baik dan mantap. Pada umumnya tradisi tersebut ditumbuhkembangkan di lembaga-lembaga pendidikan beserta perpustakaan masing-masing yang representatif dan inklusif serta mampu membentuk komunitas epistemik yang tangguh. Dalam hubungan ini keberadaan, kedudukan, dan peran perpustakaan universitas sebagai pusat sumber belajar, intelektual, literasi, dan keilmuan yang didukung oleh komunitas epistemik begitu fundamental, vital, dan strategis.

Oleh karena itu, agar universitas mampu memberi konstribusi berarti bagi kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia, perpustakaan perguruan tinggi perlu ditempatkan sebagai fundamen tridarma perguruan tinggi. Di samping itu, ia harus difungsikan sebagai pusat sumber belajar, intelektual, literasi, dan keilmuan sedemikian rupa sehingga mampu menghidupi komunitas epistemik. Dengan kata lain, perpustakaan universitas perlu dijadikan sebagai infrastruktur tridarma perguruan tinggi yang melandasi dan mendukung prestasi, reputasi, dan kontribusi perguruan tinggi bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan. (*)

Prof Dr Djoko Saryono MPd

Prof Dr Djoko Saryono MPd adalah guru besar Universitas Negeri Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here