Baru Tersedia 250 Juta dari Total Kebutuhan 700 Juta, Pengasuh Panti: Ya Allah Mohon Ketuk Hati Dermawan…

0
420
Pekerja gotong royong membangun Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep. (Mul/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Ahmad Riadi (30) tengah mengajarkan tafsir Qur’an kepada anak-anak asuhnya di Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep, Jl Pahlawan Gg IV No 1 Pandian Sumenep, bakda Isya. Sebanyak 20 santri di hadapannya tampak fokus mengikuti kajian tersebut hingga usai.

Lepas mengaji, para santri berhamburan ke ruang makan. Di sana mereka menikmati makan malam penuh gizi. Soal makan anak panti tak usah ditanya: selalu enak-kenyang. Sesudah makan mereka kembali ke “kamar” masing-masing, yakni hanya kasur dan lemari yang berjejer-jejer sedemikian rupa di ruang yang lebih tepat disebut aula seluas 6 x 5 meter. Ada dua aula “kamar”. Ada lagi satu lagi kamar disulap jadi musala tadi dan satu kamar lagi jadi ruang makan. Dulu bangunan satu lantai itu adalah sekolah SMA.

Memang sudah lama mereka tidak menempati kamar, hanya masing-masing anak panti punya ranjang dan kasur juga lemari. Memang mereka anak-anak panti terbiasa abai soal privasi. Seperti semua saudara sendiri. Namun, mereka terus gembira dan bersemangat menjalani kehidupannya di panti. Yang terang mereka lebih baik hidup di panti daripada kehidupan sebelumnya. Di panti bisa makan enak bergizi, bisa sekolah, bisa hidup di kota, punya teman orang kota, guru orang kota, udara kota, dan seabrek kenikmatan lainnya.

Ustadz Adi—sapaan Ahmad Riadi—dan Ustadz Mukhlas (30), duo sahabat pengasuh yang tinggal panti, belakangan merasa gelisah dengan kondisi panti. Bagi mereka anak-anak asuhnya patut hidup lebih layak, punya kamar yang luas dan nyaman, punya ruang belajar, ruang makan yang nyaman, dan fasilitas lainnya.

Malam itu, Ustadz Adi sejak usai mengajar anak asuhnya lantas menyelonjorkan kakinya di undankan depan musala sambil menatap nanar ke bangunan di depannya. Itu bangun yang rapuh, yang dulu gentingnya sudah lapuk dan banyak yang tanggal, plafon ambruk bolong-bolong dan morat-marit dimakan usia, dindingnya berjamur kurap kudis dan sejenisnya. Gedung yang lebih tua dari usia negeri ini. Dia ingin mengubah keadaan. Dia rela berkorban untuk itu. Meskipun dia tak benar-benar berdaya. Hanya mengibah ke haribaan Yang Makahkuasa.

Beginilah kondisi terkini Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep di Jl. Pahlawan Gg. IV No. 1 Pandian Sumenep. (mul/klikmu.co)

Sebenarnya sudah lama dia berkonsultasi dengan pengurus di atasnya, dia meminta agar bangunan panti direnovasi agar lebih layak. Jawabannya tak sungguh memusakan dirinya, karena ia agak nekat bergerilya ke sana ke mari mengumpulkan dana sambil tetap patuh arahan pengurus yang masih sibuk mengurus persoalan yang lain. Dia sabar saja. Toh saat itu panti masih layak huni. Hanya mengalami sedikit kerusakan. Atau agak banyak.

Malam ini Ustadz Adi menatap bangunan yang telah jadi puing, tak diminta matanya menumpahkan air lalu mengalir di pipinya. Telinganya sesekali menangkap keceriaan juga sedikit gaduh dari para anak asuhnya di kamar sementara mereka. Namun Ustadz Adi tak hirau. Yang dia pikirkan saat itu, bagaimana setelah ini?
Gedung panti telah dirobohkan, kas panti tak sungguh terisi.

Dia kini hanya “punya” Allah. “Bismillah,” gumamnya menguatkan diri sendiri. Gedung panti telah roboh, dan panti harus dibangun. Meski kondisi dana saat ini dalam keterbatasan, namun Panti harus kembali berdiri, lebih luas, lebih nyaman, lebih baik sebagai rumah bagi 20 santri yatim dan anak kurang beruntung itu. Juga bagi anak-anak yang senasib selanjutnya.

“Saya dulu menghuni panti hampir roboh ini, sekarang saya harus membangunkan Panti yang lebih baik untuk anak-anak yang kucintai ini,” katanya entah pada siapa. Mungkin pada dirinya saja, menguatkan diri sendiri.
Panti itu untuk dibangun kembali sesuai rencana dan dari daftar tagihan yang menggarap, membutuhkan dana sebesar Rp 700 juta. Sementara saat ini Panti baru mengumpulkan dana sebesar Rp 250 jutaan. Rinciannya, Rp 150 juta adalah kas panti, 100 juta sumbangan Pemprov Jawa Timur, dan beberapa juta rupiah lagi terkumpul dari sumbangan para donator dan dermawan.
Itulah kondisi Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep saat ini. Rasanya tidak perlu menunggu punya tumpukan uang untuk membantu meringankan persoalan keuangan panti asuhan anak-anak kurang beruntung itu. Mari mulai dengan niat, kemauan, dan keikhlasan yang kuat di hati untuk membantu mereka.

Mari tolong mereka melalui datang langsung ke alamat di Sumenep atau melalui berdonasi ke rekening Bank Muamalat: 773 000 5504 / Mandiri Syariah: 703 576 4173 / Bank Jatim: 018 253 2240 / Bank BPRS Bhakti Sumekar: 001580 050 725 (semua a.n. Panti Asuhan Muhammadiyah Sumenep). Informasi dan konfirmasi dapat melalui No. HP/WA: 0817-0311-4661 atau 0819-3838-9161.

Amal jariyah semacam ini yang akan menolong kita. Melimpahkan rezeki lahir batin di dunia. Memudahkan segala urusan. Mudah saja menyelesaikan persoalan hidup. Dan, bahkan akan terus menjadi penerang di alam kubur, pemberat timbangan kebajikan kita. Sehingga Allah meridhai kita ditempatkan di surga-Nya yang tertinggi surga firdaus. Semoga barokah. Aamiin. (Mul/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here