Becoming Muhammadiyah: Tiga Tingkatan Guru Muhammadiyah Menurut Prof Biyanto

0
528
Prof Dr Biyanto, wakil sekretaris PWM Jatim, memberikan keynote speech di acara The 5th ACCESS, Academic Enlightening Session Mudipat. (Erfin)

KLIKMU.CO – Prof Dr Biyanto, wakil sekretaris PWM Jatim, diundang untuk memberikan keynote speech di acara The 5th ACCESS, Academic Enlightening Session Mudipat Sabtu pagi kemarin (4/1/2020).

“Muhammadiyah itu menjadi jaminan nama sekolah itu bagus. Sekolah Muhammadiyah punya tradisi melampaui standar dari pemerintah,” katanya.

Biyanto menyampaikan bahwa pendidikan TK harus di-recall di SD. “Dari buku All I Really Need to Know I Learned in Kindergarten, tulisan Robert Fulghum yang saya beli di lowakan buku Singapura, pelajaran TK yang menarik yaitu berbagi, sportif, jangan memukul, mengembalikan barang ke tempatnya, menjaga kebersihan, dan jangan mengambil yang bukan hakmu, mengucapkan maaf, cuci tangan sebelum makan, bersemangat, makan yang bergizi, dan hidup seimbang,” terangnya.

Benurut Biyanto, anak-anak pun harus diajari 5 fondasi Islam seperti tauhid yang murni, memahami Alquran dan Sunnah secara mendalam, melembagakan amal salih yang solutif, berorientasi kekinian, bersikap toleran, moderat, dan suka kerja sama.

Ia pun merekomendasikan buku karya Soekarno, Islam Sontoloyo. “Isinya menarik, salah satunya adalah orang Islam tidak boleh mudah mengafirkan. Kalau kata Pak Yunahar (alm), dulu orang datang ke Indonesia untuk mengislamkan orang kafir, kok sekarang orang Islam yang mengk
afirkan muslim lainnya. Kan aneh,” ucapnya.

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya itu pun menyampaikan tabel becoming Muhammadiyah dalam slide-nya yang berisi tentang tiga tingkatan guru Muhamamdiyah. Pertama, bergabung dalam kegiatan/amal usaha. Kedua, terdaftar resmi sebagai enggota. Ketiga, pejuang/mujahid Muhammadiyah.

Kemudian ia bertanya, “Kira-kira guru Mudipat ini masuk yang mana ya? Aktivis atau sekadar simpatisan? Tapi saya sengaja tidak mencantumkan ‘penggembira’ karena ia hanya bergembira kalau Muhamamdiyah memutuskan Idul Fitri-nya lebih dulu.”

Gelegar tawa pun menyelimuti Auditorium Din Syamsuddin pagi itu. (Erfin/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here