Bedah Buku Lebih Dekat Kumelihat Indonesia: Guru di Papua Kritisi Disparitas Pendidikan Indonesia Barat dan Timur

0
321
Achmad Santoso (kiri) dan Ilham saat membahas buku Lebih Dekat Kumelihat Indonesia.

KLIKMU – Banyak hal yang akhirnya terburai dari bedah buku “Lebih Dekat Kumelihat Indonesia” terbitan Basabasi Jogja Jumat malam lalu (8/11) di Komisariat Raushan Fikr FKIP UMM. Buku karya Achmad Santoso, editor Klikmu sekaligus editor bahasa Jawa Pos, tersebut dibedah oleh penulisnya sendiri dengan pembanding Ilham, seorang guru PNS di daerah Pegunungan Bintang, Papua.

Buku tersebut berisi catatan hal ihwal pendidikan, sosial, politik, hingga kemuhammadiyahan. Ada sekitar 20-an peserta yang hadir dalam diskusi tersebut.

Achmad Santoso menyatakan, buku ini sebagian besar sudah terbit di media massa selama kurun waktu dua tahun (2018-2019), sedangkan sisanya menjadi dokumen pribadi. “Fokus utama buku ini adalah soal pendidikan, politik, dan Muhammadiyah. Karena itu, tiga tema tersebut saya taruh di muka,” ujar alumnus IMM FKIP UMM tersebut.

Dia menambahkan, di dunia pendidikan, telah ramai istilah generasi milenial, disrupsi, dan dunia digital. Namun, hal itu mendapat tanggapan menarik dari Ilham.

“Ketika di kota-kota besar pendidikan kita sudah sampai pada istilah itu, di Papua sana, malah baru ada SMP sejak 2013. Sedangkan saya bertugas di sana pada 2017,” kata Ilham. Ilham melanjutkan, Indonesia terbagi atas tiga wilayah: barat, tengah, dan timur. Dari tiga wilayah itu, perhatian pemerintah di dunia pendidikan khususnya lebih terfokus di barat. Sementara itu, kawasan timur jarang dijangkau pemerintah. Istilahnya, Jawa-Sumatera-sentris.

“Ini sungguh disparitas yang nyata dan harus ada solusi cepat,” ujar lulusan program SM3T itu. Ilham menceritakan, ada seorang muridnya yang lulus SD saat usia belasan tahun, tapi masuk SMP baru di usia 30-40 tahun. Sebab, jenjang pendidikan memang belum merata di sana.

Dua tulisan berjudul “Pemerataan Pendidikan dan Tantangan Melindungi Guru” serta “Teladan Patriotisme Itu Datang dari Timur” juga turut mengusik sisi kemanusiaan Ilham. Biar begitu, katanya, senyum orang Papua itu adalah yang paling ikhlas.

Ilham lantas mengusulkan agar diadakannya akselerasi digital selain pembangunan insfrastruktur. “Di sana untuk mendatangkan buku saja sangat sulit. Harus melalui perjalanan udara. Karena itu, solusinya instan ya akselerasi digital,” tegasnya. Achmad Santoso dan peserta yang hadir turut mengamini.

Para peserta diskusi buku Lebih Dekat Kumelihat Indonesia berfoto bersama setelah diskusi.

Untuk Muhammadiyah, lanjut Achmad, keputusan terjun ke dunia politik yang termanivestasi dalam jihad politik buktinya juga problematis, menimbulkan pro-kontra, dan rawan gesekan.

“Oleh karena itu, pilihan Haedar Nashir yang menegaskan bahwa secara organisasi Muhammadiyah tidak ikut campur dalam politik praktis, tapi di sisi lain membebaskan kader-kader potensial yang terjun ke dunia politik, adalah sikap yang paling bijak,” terangnya.

Buku tersebut terdiri atas 5 bab. Pertama, Tentang Pendidikan dan Kemanusiaan Kita. Kedua, Tentang Muhammadiyah dan Islam Kita. Ketiga, Tentang Politik-Politik Kita. Keempat, Tentang Bahasa dan Sastra Kita. Kelima, Tentang Buku-Buku Kita. (Achmad San)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here