Begini Memahami Islam ala Arief Budiman

0
208
The Jakarta Post

Oleh Syaefudin Simon

KLIKMU.CO

Selamat jalan, Arief Budiman. Allah telah menyiapkan surga terindah untukmu. Bukan bersama 70 bidadari cantik di surga kaum kapitalis. Tapi bersama rakyat sederhana, jujur, dan cinta manusia di surga kaum sosialis.

Apa esensi Islam? Ramah dan rahmah. Kedua inti ajaran Islam inilah fondasi dari perdamaian dan kesejahteraan. Keduanya merupakan refleksi aktual dari keadilan.

Islam, kata Arief Budiman, adalah agama keadilan. Dan keadilan, menurut Arief, tak akan bisa tercapai di masyarakat kapitalisme.

Bagi Arief, monoteisme harus ditafsirkan dalam konteks sosialisme. Ketika Muhammad menghancurkan berhala-berhala di Ka’bah, ujar sosiolog Harvard ini, hakikatnya sang rasul tengah menghancurkan kapitalisme. Berhala adalah simbol kapitalisme. Dan itu harus dihancurkan.

Saat Muhammad lahir, Makkah adalah kota kapitalisme. Ekonomi dan sumberdaya Makkah dikuasai kelompok borjuis Abu Jahal, Abu Sufyan, dan network-nya. Kehadiran Muhammad yang hendak membela kaum proletar dan melenyapkan kapitalisme dihajar habis kroni-kroni kapitalis Quraisy.

Muhammad pun tersingkir dari Makkah. Lalu hijrah ke Madinah. Arief Budiman menafsirkan hijrah sebagai keberpihakan Muhammad kepada kaum proletar yang ditindas kelompok borjuis. Menurut Arief, sepanjang hidupnya, Muhammad berjuang menerapkan sosialisme. Sebab, hanya melalui sosialisme keadilan bisa ditegakkan.

Sayangnya, keluh Arief, sepeninggal Muhammad, Islam kembali menjadi agama kapitalis. Fikih transaksional yang berwatak kapitalis menguasai literasi Islam. Segala bentuk ibadah dalam fikih transaksional diukur dengan ancaman dosa dan iming-iming pahala. Dalam bahasa kapitalis, segala aktivitas umat dilandasi stick and carrot.

Orang yang salat sunah dan kemudian salat Subuh berjamaah, misalnya, dilukiskan dalam fikih kapitalis mendapat pahala seluruh isi dunia. Di surga dalam lukisan fikih kapitalis, manusia akan mendapat 70 bidadari cantik dengan rumah mewah dan perabotan emas.

Gambaran-gambaran itulah yang membawa Islam makin menjauh dari sosialisme. Selama ribuan tahun berkuasanya kekhalifahan despot Bani Umayah dan Bani Abasiyah, Islam tumbuh menjadi “agama kapitalis yang otoriter”. Hampir semua hukum fikih yang berkembang sekarang, misalnya, berbasis kapitalisme dan despotisme, warisan kekhalifahan despot tersebut.

Akibatnya, Islam tak pernah tumbuh menjadi agama sosialis yang berbasis keadilan. Padahal, keadilan adalah fondasi Islam. Arief Budiman dalam sebuah wawancara mengeluh, wacana Islam kini dipenuhi hukum fikih yang transaksional dan kapitalis. Islam telah kehilangan elan vital sosialisme yang berkeadilan seperti pernah diterapkan Muhammad.

Fikih semacam ini, ungkap guru besar sosiologi di Melbourne University Australia ini, hanya mengukuhkan eksistensi kapitalisme. Qur’an dan sunah rasul, misalnya, dimanipulasi untuk kepentingan kaum borju yang punya vested interest.

Celakanya, kaum borju inilah yang kini mengeksploitasi Islam. Islam dijadikan agama yang tidak ramah dan rahmah. Islam dijadikan instrumen despot serakah dan haus kuasa. Semuanya untuk memfasilitasi vested interest-nya.

Arief Budiman meski seorang Tionghoa mualaf, tapi pandangan keislamannya sangat perspektif dan mencerahkan. Terutama untuk orang-orang yang peduli pada kaum miskin dan tertindas. Keberpihakannya kepada sosialisme berkeadilan, ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari bersama Bunda Leila, muslimah asal Sumbar. Sederhana, helpful, ramah, antikapitalisme, dan antiotoritarianisme.

Semua aktivis prodemokrasi dan antikapitalisme menjadikan Arief sebagai idola. Sepanjang hidupnya Arief menjadi episentrum pemikiran dan gerakan perubahan sosial di Indonesia. Untuk mewujudkan NKRI yang sosialis, adil, dan demokratis.

Selamat jalan, Arief Budiman. Allah telah menyiapkan surga terindah untukmu. Bukan bersama 70 bidadari cantik di surga kaum kapitalis. Tapi bersama rakyat sederhana, jujur, dan cinta manusia di surga kaum sosialis.

Sumber: geotimes.co.id (Islam dan Berhala Kapitalisme)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here