Belajar dari Haedar Nashir, Pimpinan yang Ucapkan Mohon Maaf ke Pimpinan di Bawahnya

0
1129
Haedar Nashir saat di sebuah stasiun. (Foto istimewa)

KLIKMU.CO – ”Mas Arif, Selamat Idul Fitri 1441 H. تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ. Semoga puasa dan ibadah kita diterima Allah SWT. Mohon maaf lahir-batin. Haedar Nashir & Keluarga.”

Begitu bunyi WhatsApp Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi kemarin pagi (26/5/2020) kepada M. Arif An, sekretaris PDM Kota Surabaya. Sontak pesan instan itu bikin Arif An kaget.

”Yah Pak Ketua.. sama sama .. Mohon maaf lahir bathin. Taqobbal Yaa Karim. Salam ke Bunda Ketua Umum PP Aisyiyah Bu Noor. Salam dari M. Arif An Sekretaris PDM Surabaya yang bantu Tanwir Aisyiyah di Surabaya mengawal dengan Bu Risma,” balasan Arif An kepada sang ketua umum, atasannya.

”Saya yang di-WA kaget betul dengan WA itu. Memang tulisannya pendek, tapi penuh makna yang sangat dalam karena beliau pimpinan pusat, sedangkan kami hanya pimpinan daerah. Kalau seperti negara, beliau presiden, sementara saya hanya sekkota. Kesan mendalam saya karena beliau yang me-WA kami,” tutur Arif An sebagai salah satu bawahan yang menerima pesan kepada KLIKMU.CO.

Terkait dengan pimpinan yang meminta maaf, Arif An mengatakan bahwa tulisan Bintang Hierarkhi Belajar Menjadi Pemimpin yang Meminta Maaf yang diekspos pada 11 Juli 2013 di Kompasiana tampaknya relevan untuk disampaikan kembali. Berikut cuplikannya.

Dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi seorang pemimpin memiliki kedudukan dan derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Karakteristik pemimpin dapat terlihat dari akhlak dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah banyak teori tentang kepemimpinan (leadership) yang membahas  tentang sifat dan karakter seorang pemimpin. Mulai kepemimpinan tradisional, transaksional, situasional, modern, dan berbagai teori lainnya yang semuanya membahas tentang sifat dan karakteristik pemimpin.

Menjadi seorang pemimpin bukan merupakan sebuah pilihan, karena pemimpin terbentuk dengan sendirinya di tengah-tengah masyarakat yang dipimpinnya. Berbeda dengan pimpinan, yang terbentuk karena posisinya ditunjuk, diperintah oleh aturan karena tanggung jawabnya atau dipilih oleh organisasi/lembaganya. Pertanyaan menggelitik dalam benak kita adalah masih adakah figur pemimpin yang memiliki sifat selalu meminta maaf lebih dulu dibandingkan dengan bawahannya dan masyarakatnya?

Dalam kultur budaya di negara Kita, seorang pemimpin terlihat lebih sempurna dengan memiliki berbagai kelebihan-kelebihannya. Terkadang mereka lupa bahwa mereka pun tak luput dari kesalahan dan kekhilafan.

Pada akhirnya, kecenderungan seorang pemimpin lebih memilih untuk menyembunyikan kesalahannya sendiri bahkan sampai harus berbohong untuk menutupinya, sehingga di mata bawahan dan lingkungannya tetap terlihat sempurna (perfect). Sifat seperti inilah yang tak kita sadari, bahwa menyimpan sesuatu yang tidak baik, akhirnya akan terlihat juga. Untuk itu, menjadi seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang jujur untuk dirinya dan hatinya sendiri, sehingga berdampak kejujuran untuk lingkungannya. Atau, dengan kata lain, pemimpin yang beriman dan berakhlak mulia.

Bulan Ramadhan adalah bulan suci bagi umat islam, bulan yang penuh dengan berkah. Berkah bagi siapa pun, terutama berkah bagi para pemimpin untuk introspeksi diri, memperbaiki diri, dan mampu menjadi teladan yang pemaaf dan peminta maaf.

Pemimpin yang peminta maaf tidak akan menjatuhkan harga dirinya atau menurunkan derajat kepemimpinannya. Justru sebaliknya, semakin tulus dan ikhlas seorang pemimpin untuk meminta maaf terlebih dahulu dibandingkan dengan bawahan, staf, bahkan lingkungannya, menjadikan sosok pemimpin yang lemah lembut, disukai, dan disegani. Pada dasarnya, manusia itu sama di hadapan Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Yang membedakan adalah ketaqwaan dan keimanannya. Pemimpin yang lebih beriman dan bertaqwa akan ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Pemimpin yang meminta maaf terlebih dahulu adalah pemimpin yang menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT sama dengan yang lainnya. Pemimpin yang bijak dan peminta maaf menunjukkan bahwa dirinya mampu menjadi suri tauladan bagi masyarakatnya atau bagi bawahannya. Karena pemimpin yang mampu meminta maaf terhadap bawahan atau masyarakatnya sudah barang tentu bahwa ia pun menjadi seorang pemimpin yang pemaaf, karena dia sangat menyadari betapa dalamnya makna dari maaf-memaafkan.

Belajarlah menjadi pemimpin yang mampu meminta maaf terlebih dahulu dengan ikhlas dan tulus, dan jadilah pemimpin yang bijak dan pemaaf, serta jadilah pemimpin yang disenangi dan disegani…

Curahan hati penulis bagi para pemimpin bangsa.

Penulis berharap, pemimpin bangsa kita meminta maaf bukan karena telah membuat kesalahan saja, bukan karena telah korupsi, atau bukan karena telah membohongi rakyat. Akan tetapi, meminta maaf menjadi salah satu sifat dan karakter pemimpin bangsa kita.

Haedar Nashir saat di sebuah masjid. (Foto istimewa)

”Tulisan itu sangat pas dengan beliau, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, yang sangat sederhana dan kadang bawa tas kresek ke bandara. Pernah pula di masjid duduk di dekat sandal pintu masuk. Kami mendoakan sehat selalu, Pak. Semoga Allah meridhai langkah Bapak dalam menjaga marwah persyarikatan Muhammadiyah,” ungkap M. Arif An. (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here