Belajar dari Tokoh Bangsa

0
118
Foto diambil dari internet

Oleh: M. Jemadi, MA

KLIKMU.CO

Sebagai anak bangsa yang lahir tahun ’70-an, saya memang tidak tahu persis perjalanan bangsa sebelum tahun ’70-an. Saya tahu tentang Masyumi, PNI, dan PKI dari membaca dan mendengar penuturan para senior.

Ketika kuliah, salah satu dosen menyampaikan, “Perjalanan bangsa Indonesia tidak akan pernah lepas dari nasionalis, agamis, dan komunis (nasakom).” Pernyataan dosenku memang sangat terasa dalam perjalanan hidupku. Saya dapati orang yang kuat memegang ideologi/ajaran yang “mencerminkan” nasakom. Maksud saya, ada orang yang memegang prinsip agama, ada yang membedakan agama dan negara, bahkan ada orang yang sosialis murni sampai cenderung komunis.

Akhir-akhir ini semakin terasa perjalan bangsa ini diwarnai perdebatan yang berputar-putar tentang nasakom. Sebagai generasi yang tidak mengalami langsung masa itu, saya tidak ingin larut berpihak. Saya membaca buku tentang Soekarno, Tan Malaka, Buya Hamka, Agus Salim, dan karya Sastra dari Pramoedya Ananta Toer serta karya Buya Hamka.

Saya merasakan niat baik semua tokoh itu. Hanya beda dalam mengekspresikan. Sikap kenegarawanannya bisa menjadi teladan. Soekarno pernah memenjarakan Buya Hamka sekalipun sama-sama kader Islam. Namun, Soekarno berwasiat kalau meninggal dunia minta yang jadi imam shalat Jenazah adalah Buya Hamka. Dengan menitikkan air mata, Buya Hamka ikhlas menjadi imam shalat Jenazah Bung Karno.

Pramoedya dengan tanpa ampun menghajar Buya Hamka melalui media massa. Namun, saat putrinya akan menikah memercayakan kepada Buya Hamka untuk membimbing putri dan calon menantunya belajar Islam. Dan masih banyak kisah keteladan tokoh bangsa.

Ada pula kisah indah persahabatan K.H.A. Dahlan dengan Pendeta Kasimo. Mereka dalam sebuah forum selalu berdebat, namun saat pulang ke rumah bergoncengan naik sepeda ontel. Bahkan beberapa anekdot menyadarkan kita bahwa persahabatan itu indah. Dalam anekdot kiai dan pendeta yang bersahabat sejak kecil.

Ketika hendak pergi bersama mereka naik bus (bis). Ketika hendak naik bis, Pak Kiai berucap “Bismillah”. Dengan cepat pendeta menyahut, “Ini bukan bismillah, Pak Kiai, tapi bis malam. Pak Kiai hanya senyum dan tetap dengan bercanda melanjutkan perjalan.

Dalam perjalanan hujan lebat dan suara guruh menggelegar, pendeta secara spontan berucap, “Haliloya”. Spontan Pak Kiai menjawab, “Ini halilintar, Pak Pendeta”. Dengan senyum dan tertawa bersama mereka melanjutkan perjalanan. (*)

M. Jemadi, MA adalah Sekretaris Majelis Dikdasmen PDM Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here