Belajar Hidup Tangguh dari Meidatul Mulyanah, Meski Sang Buah Hati Telah Berpulang, Namun Tetap Mengabdi

0
79
Tangguh: Meidatul Mukyana Meski ditinggal sang buah hati namun tetap mengabdi (Foto: Zaky)

Catatan dari Lombok

Oleh: Zakki Fitroni*

KLIKMU.CO – Kondisi TK ABA Lekok Lombok Utara sangat memperihatinkan. Miris rasanya tatkala melihat kondisi sekolah yang rata dengan tanah, sehingga proses belajar mengajar berlangsung di sebuah tenda yang didirikan oleh relawan Lazismu dan MDMC.

Setelah merekam seluruh kegiatan belajar mengajar, kamipun meminta wawancara kepada guru TK ABA dan tak terasa keringatpun mengucur deras karena kondisi panas di dalam tenda darurat yang difungsikan sebagai kelas.

Mulailah salahsatu ibu guru bernama Meidatul Mulyanah menceritakan kondisi sekolah sebelum gempa, tentang ruang-ruang kelas dan bagaimana serunya mengajar di TK.

Tak terasa mata saya spontan berkaca-kaca, ketika beliau menceritakan kondisi keluarganya ketika gempa berlangsung. Saat itu sekolah sedang akan melakukan proses akreditasi, sehingga mengharuskan beliau mempersiapkan file untuk akreditasi di komputer jinjingnya.

Ketika tanah berguncang, selain teringat untuk menyelamatkan keluarga. Ibu guru tangguh ini, masih ingat tentang kewajiban yang harus dilakukannya tentang akreditasi sekolah. Sehingga harta pertama yang perlu diselamatkannya adalah laptop yang berisi file akreditasi sekolah.

Sebagai seorang guru sayapun langsung terenyuh, bagaimana pengorbanan ibu guru Mulyanah yang rela membahayakan dirinya demi kepentingan sekolahnya. Sekolah yang sudah dirintis oleh ibu-ibu Aisyiyah jauh sebelum dia mengajar. Sekolah bernama TK ABA Lekok, sebagai salahsatu harapan yang kelak akan menghasilkan kader-kader Muhammadiyah dan memperluas dakwah Muhammadiyah di tanah seribu masjid ini.

Air mata Ibu guru Mulyanah mulai menetes, beliau menceritakan bahwa apa yang dia alami belum seberapa dibanding rekan satu sekolahnya sambil menunjuk ibu guru lain yang awalnya akan saya wawancarai, tapi beliau menolak.

Rekan Ibu Mulyanah rupanya menolak alasan saya untuk diwawancara memang bukan tanpa alasan. Ketika bencana berlangsung, anak beliau yang berusia 1 tahun harus kembali ke rahmatullah karena tertimpa reruntuhan.

Mendengar alasan tersebut, saya sekuat tenaga menahan air mata. Pikiran saya langsung teringat dengan pangeran kecil saya yang saat ini sedang berusia 10 bulan di rumah.

Bagaimana mungkin seorang ibu yang kehilangan anaknya ketika gempa beberapa bulan lalu, sekarang sudah kembali mendidik anak orang lain. Mengajak mereka tertawa, mengajak mereka belajar berdoa, berharap agar mereka menjadi anak soleh. Mungkin saya tidak pernah tau bagaimana rasanya, tapi saya yakin dalam hati kecil beliau selalu menangis teringat anaknya yang mungkin sekarang sudah mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Mungkin juga, beliau merasa dengan mendidik anak orang lain bisa sedikit mengobati rasa kehilangan anaknya.

Tapi satu kata yang bisa saya ungkapkan. Ibu Guru Mulyanah dan rekan-rekannya di TK ABA Lekok Tenggara Lombok Utara adalah Ibu Guru Tangguh. Ibu guru yang walaupun hati mereka menangis dan menjerit tetapi tetap berusaha tegar, tabah dan gembira dihadapan murid-muridnya.

Ibu Guru, semoga amal dan jasamu nanti bisa menjadikanmu hamba terbaik di mata Allah SWT.

*Guru Muhammadiyah dan Relawan Gempa di Lombok

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here