Berhijab Pun Rentan Mengalami Kekerasan Seksual, Ayat Tentang Perintah Berjilbab Perlu Digali

0
128

KLIKMU.CO – Selasa (27/11), tidak kurang dari 20 perempuan muda baik dari kalangan Dosen maupun TKP (tenaga Kependidikan) di lingkungan kampus UMSurabaya berkumpul untuk mendiskusikan terkait persoalan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Hal ini dipicu maraknya kasus-kasus kekerasan seksual yang perlu dicari solusi. Keresahan komunitas perempuan muda ini direspon melalui diskusi dengan bertajuk “Wanita Memandang kekerasan Seksual” dengan menghadirkan pemateri dari dosen dan pengasuh yayasan Cahaya Bunda “Jembatan Merah”, Aristiana Prihatining Rahayu, S.Sos., M.Med.Kom.

Wanita yang lebih akrab disapa Bu Aris itu sudah malang melintang dan menyelesaikan kasus kekerasan seksual yang tidak sedikit dialami oleh anak asuhnya. Dalam kesempatan itu, bu Aris memaparkan salah satu kejadian yang dialami beliau dalam menangani anak asuh korban kekerasan seksual.

Dia mengatakan, tidak sedikit anak jalanan menjadi korban kekerasan seksual, bahkan tak sempat disentuh oleh hukum. Mereka mengalami depresi berat, bahkan hingga nyaris ingin mengakhiri hidupnya.
Kenyataannya, tidak hanya pada anak jalanan, bahkan kasus kekerasan seksual dalam lingkup kampus pun mengalami jalan buntu dalam penanganannya.

“Ibarat fenomena gunung es, kasus kekerasan seksual seringkali terlihat sedikit di permukaan, tapi sesungguhnya sangat banyak,” paparnya.

Ini bisa diakibatkan oleh hukum yang tak berpihak pada korban dan budaya victim blamming. Para korban kekerasan seksual yang berani mulai bicara seringkali dipersalahkan oleh keluaga, masyarakat.

Bahkan, para aparat penegak hukum pun seringkali melakukan melakukan revictimisasi pada korban dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan korban.

Sementara itu, Arin Setiyowati, SHI., MA., pemateri dua menandaskan,domain kekerasan itu pemicunya adalah perempuan, manakala cara berpakaian tidak diperhatikan, tidak sesuai syariat islam. Dari sini, agama menjadi salah satu justifikasi membenarkan atas tuduhan bahwa setiap adanya kasus pelecehan seksual pemicunya adalah perempuan itu sendiri.

Padahal, orang berjilbab pun juga rentan mengalami kekerasan seksual. Maka, ayat tentang perintah berjilbab pun digali mendalam.

“Agaknya, ada kesalahpahaman pada masyarakat muslim Indonesia bahwa ayat ini seolah-olah hanya mencoba untuk menertibkan perempuan, padahal ayat ini juga meminta laki-laki untuk menertibkan diri (menjaga pandangan) menurut tafsir Ibnu Katsir,” papar Arin.

Tafsir kontekstual atas ayat ini bisa berarti bahwa perempuan dan laki-laki perlu gerak bersama untuk penghapusan kekerasan seksual. Karena tentu tak dapat dielakkan bahwa laki-laki juga bisa menjadi korban kekerasan seksual.
Berangkat dari diskusi ini, Kedepan Komunitas ini berkomitmen untuk aktif melakukan kajian dan respon aksi terhadap isu-isu perempuan dan anak, terutama dalam mengedukasi masyarakat tentang kekerasan seksual.

“Sudah saatnya wanita Muhammadiyah di lingkup akademis mengambil peran untuk bersama-sama pemerintah dan komunitas lainnya melakukan gerakan untuk menghapus kekerasan seksual,” pungkasnya. (AR/Abd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here