Berproses Itu Jangan Setengah-Setengah

0
90
Riau Pos

Oleh: Bobi Puji Purwanto

KLIKMU.CO

Beberapa hari lalu, datang ke rumah salah seorang ustadz atau penceramah. Beliau baru saja tiba di Indonesia setelah beberapa bulan lamanya belajar di luar negeri. Tujuan beliau datang ke rumah ialah untuk silaturrahim kepada bapak mertua saya. Alhamdulillah, silaturahmi tersebut berjalan ramah dan penuh kasih sayang.

Di sela-sela pembicaraan yang dibangun oleh ustadz dan orang tua saya dan beberapa tamu lainnya, tiba-tiba muncul pertanyaan ustadz tersebut yang intinya menanyakan saya. Saya yang saat itu berada di depan komputer, tepatnya di rumah sebelahnya mendengar. Karena saya mendengar, saya langsung menghampiri dengan mengucapkan salam serta berjabat tangan. Tapi tetap selalu memperhatikan protokol kesehatan.

Setelah itu, saya duduk sebentar. Posisi duduk saya tepat menghadap sang ustadz. Kami ngobrol tentang daerah kelahiran, tempat tinggal, dan satu dua hal lainnya. Memang, saya sama sekali belum pernah mendengar dan kenal beliau. Apalagi bertemu dengan beliau. Tapi malam itu komunikasi yang terbangun antara saya dengan beliau sangat hangat, akrab dan menyenangkan.

Tak lama kemudian, azan Isya berkumandang. Beliau mengajak semua yang hadir pada forum malam itu untuk segera bergegas salat berjamaah di musholah terdekat. Masyaallah. Sebuah contoh kebaikan yang luar biasa. Semoga kita semua selalu dimudahkan Allah SWT dalam melaksanakan dan menjaga salat berjamaah. Aamiin. Salat Isya telah dimulai dan saya ditunjuk menjadi imamnya saat itu. Selepas Isya, obrolan kembali dilanjutkan.

Pada kesempatan diskusi yang kedua ini, saya lebih banyak diceramahi tentang agama. Masyaallah. Ada ilmu tauhid, akhlak, dan banyak lagi. Dan memang harus diakui, ustadz ini ilmunya begitu luas dan dalam. Cara penyampaiannya juga sangat baik. Namun, ada satu hal yang ingin saya sampaikan kali ini. Apa itu? Jadi, beliau menyampaikan ke saya bahwa, “Berislam itu jangan setengah-setengah. Harus sungguh-sungguh. Insya Allah, hasilnya pasti luar biasa.” Masyaallah.

Dari kalimat sang ustadz tersebut, saya mencoba untuk membayangkan sesuatu yang pernah saya alami. Tidak papalah. Yang penting tujuannya baik. Melihat ke belakang dengan mengambil pelajaran besar di dalamnya untuk ke depan yang lebih positif. Bukankah itu ajaran agama kita? Insya Allah.

Memang iya, dalam hal apa pun itu yang pernah terjadi dan saya alami bahkan sampai saat ini, tidak ada satupun hasil terbaik yang saya dapatkan, ketika saya dalam melakukannya hanya setengah-setengah. Tidak sungguh-sungguh. Tidak fokus dan totalitas. Saya berikan contoh dalam saya bekerja misalnya.

Setiap hari saya berkunjung ke sekolah-sekolah untuk menjual buku. Apabila dalam proses menjual itu saya lakukan dengan setengah-setengah, misal terlalu banyak istirahat, belum saatnya istirahat saya justru enak-enaknya nongkrong di sebuah tempat apa gitu, maka hari itu hasilnya nol. Tidak ada buku satupun yang terjual. Dan memang itu yang saya alami. Coba, Anda ingat-ingat, saya yakin, Anda pasti merasakan sesuatu yang sama seperti apa yang saya rasakan.

Maka dari itu, mari kita bersungguh-sungguh dalam apa saja yang kita lakukan. Jangan setengah-setengah. Saatnya kita bergegas. Kita harus segera memulainya. Ada dua fondasi penting agar kita tidak setengah-setengah dalam apa pun.

Pertama, niat yang kuat. Kata Nabi, segala sesuatu itu tergantung kepada niat. Artinya, hasil terbaik atau justru sebaliknya, itu tergantung kepada niat awal kita. Salah satu penyebab orang tidak fokus dan hanya setengah-setengah itu karena memiliki sifat malas dan meremehkan yang sangat besar. Nah, Insya Allah, yang mampu mengalahkan sifat negatif tersebut hanya niat. Sebesar apapun rintangan yang menerjang, jika niatnya kuat dan positif, maka rintangan itu bisa tersingkir.

Kedua, selalu melihat yang positif. Kita bisa bayangkan sejenak. Saat kita berada di pegunungan, apa yang kita rasakan? Tentu sangat menyenangkan dan bertambah semangat. Lalu apa yang menyebabkan perasaan positif itu muncul? Iya, karena di pegunungan kita bisa melihat keindahan alam ciptaan-Nya. Dan kita bisa merasakan bagaimana sejuknya udara yang bersih. Masya Allah.

Jadi, ketika kita melihat sesuatu yang indah dan positif, maka itu bisa membuat perasaan kita lebih bersemangat dan bahagia. Termasuk ketika kita bekerja misalnya. Dalam bekerja, banyaklah melihat sesuatu yang baik. Jika itu yang kita lakukan, kita bisa lebih bersemangat dalam bekerja. Dan puncaknya, kita bisa terhindar dari sifat yang tak fokus, tak sungguh-sungguh, dan setengah-setengah. Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin.

Bobi Puji Purwanto
Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PC Pemuda Muhammadiyah Wonokromo, Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here