Bersungguh-sungguhlah dalam Berproses

0
61
Foto diambil dari Riverlodge backpacker

KLIKMU.CO

Oleh: Bobi Puji Purwanto*

Man Jadda Wa Jada “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka ia mendapatkannya.” Begitulah ungkapan arab yang sering kita dengar.

Saya teringat kira-kira sebulan lalu, di jalan raya terlihat tulisan yang menarik. Tulisan itu terpampang di pakaian pengendara motor. Saat itu saya berada bersama orang tersebut di lampu lalu lintas. Lampu menunjukkan warna merah, artinya berhenti. Posisi saya tepat di belakangnya. Saya perhatikan, ternyata pakaian yang dikenakan pengendara motor tersebut ialah pakaian kerja. Dia seorang karyawan. Kalimatnya begini kurang lebih, “disiplin dan totalitas adalah napas kami.” Masya Allah.

Beberapa detik kemudian, lampu berpindah warna, menjadi hijau. Itu artinya, para pengguna jalan bisa melanjutkan perjalanannya kembali. Bergegas menuju tempat tujuannya masing-masing. Termasuk saya. Ketika dalam perjalanan, saya berpikir, bisa dibayangkan, bagaimana jika ada makhluk yang bermasalah dengan nafasnya atau susah bernafas? ia bisa tidak nyaman bergerak atau bahkan yang lebih berbahaya lagi. Iya enggak?

Kalau kita membaca anatomi tubuh makhluk hidup, nafas merupakan bagian yang sangat vital. Ya kan? Ia berfungsi sebagai penjamin kelangsung hidup. Dan itu berjalan setiap saat, bahkan sejak makhluk hidup dilahirkan. Ada manusia, hewan, dan tumbuhan. Mereka memiliki cara bervariasi dalam bernafas. Luar biasa. Sangat penting. Namun hari itu saya melihat, betapa percaya dirinya perusahaan karyawan tersebut menjadikan disiplin dan totalitas sebagai nafas kesehariannya yang ditulis dalam mottonya. Masya Allah.

Kita bisa ambil pelajaran, ternyata benar dan ilmiah, tanpa kedisiplinan yang tajam serta sungguh-sungguh (totalitas) yang kuat, apapun pekerjaan yang seseorang itu lakukan, pasti tidak akan optimal. Bahkan jika ada perusahaan yang tidak menjaga dua spirit itu, maka ia bisa berpotensi runtuh. Baiklah. Pada tulisan kali ini, saya ingin soroti dari sisi bersungguh-sungguh atau totalitas. Insya Allah, dari sungguh-sungguh, kita bisa dapatkan banyak hal baik yang lain, termasuk kedisiplinan.

Sungguh-Sungguh ala Jack Ma

Saya teringat sosok habat. Namanya Jack Ma. Anda mengenalnya? Ya, tentu. Dia pendiri situs e-commerce www.alibaba.com yang terkenal dan besar itu. Dia berasal dari Hangzhou Tiongkok sana. Dengan kerajaan bisnis yang ia bangun, ia mampu menjadi salah satu orang dengan kekayaan yang tinggi di Tiongkok. Luar biasa. Lalu, prinsip apa yang dipegang Jack Ma hingga ia mampu jadi sukses begitu?

Dalam buku Ubaidah Rahmawati tentang “Berpikir Positif ala Miliader Dunia”, prinsip pertama yang Jack Ma pegang dalam berproses menjadi besar ialah “jangan pernah berhenti belajar”. Artinya itu harus bersungguh-sungguh. Totalitas. Tidak boleh setengah-setengah. Pantang menyerah. Dan kita bisa lihat, bagaimana Jack Ma menerapkan prinsip itu. Dan terbukti hasilnya.

Jack Ma dulu berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ma memiliki seorang kakak laki-laki dan adik perempuan. Ia hidup di sebuah desa kecil, Hangzhou. Selain miskin, ia juga sangat sulit mendapatkan akses edukasi. Karena pada saat itu Cina mengalami kesulitan ekonomi akibat dikucilkan oleh negara-negara Barat. Menyedihkan, bukan?

Ya, namun dia seorang yang mahir berbahasa Inggris. Kemahiran bahasa Inggrisnya itu dia dapatkan dari para turis yang saat itu berkunjung ke Hangzhou. Dia sering menemui para turis itu untuk menawarkan jasa penerjemah, dan dia sering ngobrol memakai bahasa Inggris, sehingga perlahan-lahan dia bisa. Bahkan, dia sering mendengarkan radio siaran bahasa Inggris.

Singkat cerita, sebelum dia punya alibaba, perjuangannya layak dicontoh. Jack Ma sering mendapat penolakan dari banyak tempat. Pernah setelah lulus SMA, dia berusaha melamar pekerjaan di banyak tempat, tapi ia ditolak perusahaan-perusahaan itu. Termasuk KFC. Dia juga pernah ditolak dua kali di universitas, namun saat dia mengikuti tes untuk ketiga kalinya, dia berhasil lulus. Dan resmi menjadi mahasiswa di Hangzhou Teacher’s Institute.

Setelah lulus kuliah, ia mencoba kembali melamar pekerja di banyak tempat. Tapi, lagi-lagi dia berhadapan dengan penolakan. Karena terlalu sering dia ditolak, akhirnya Jack Ma memutuskan untuk menjadi tenaga pendidik di Tiongkok. Dia mengajar bahasa Inggris. Dan akhirnya, kemahirannya berbahasa Inggris itu membuat dia banyak diajak perusahaan Tiongkok untuk menjadi translator.

Pada 1995, dia dikirim ke Amerika. Sampai di saja, dia bertemu dengan temannya di Seattle. Dan perlahan-lahan temannya itu mengenalkan apa itu internet. Katanya, semuanya bisa ditemukan di internet. Luar biasa. Akhirnya Jack Ma mengenal apa itu internet, dan dia punya visi besar, bahwa besok akan lahir perusahaan berbasis internet di Tiongkok. Nah, dari situ awal alibaba berdiri.

Menyejukkan. Bersungguh-sungguh itu berharga. Kita akan mendapatkan hasil fantastis kalau proses pencapaiannya itu kita lakukan dengan sunggguh-sungguh. Sudah tak ada alasan lagi. Banyak yang sudah terbukti. Dan mari kita berkomitmen, mulai sekarang, apa saja hal baik yang kita hadapi, mari kita kerjakan dengan sungguh-sungguh. Insya Allah. Sebaik-baik biji, jika cara menanamnya tanpa sungguh-sungguh, maka ia akan sulit bertumbuh dan berbuah.

*Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PC Pemuda Muhammadiyah Wonokromo, Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here