Bina Ribuan Migran, Muhammadiyah Jadi Organisasi yang Mencerdaskan dan Memberdayakan

0
1170
Para peserta Seminar Internasional tentang Perspektif Pendidikan untuk Pencerdasan Umat l berfoto bersama seusai acara. (Sonny/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Bertempat di Sekolah Agama Darul Ehsan, Subang Jaya, Selangor, Ketua PCIM Malaysia Sonny Zulhada diundang berbicara tentang pengalaman dan pendekatan PCIM Malaysia dalam mendorong proses pencerdasan warga dan komunitas di tanah Melayu, Sabtu (18 Januari 2020)

Acaranya adalah Seminar Internasional tentang Perspektif Pendidikan untuk Pencerdasan Umat l. Hadir sebagai pembicara lain adalah konsultan pendidikan Malaysia Tuan M. Sabir Jamaluddin. Seminar Internasional ini diadakan sekaligus dengan Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Riau.

Audiensnya adalah seluruh pimpinan dan pengurus Muhammadiyah Wilayah Provinsi Riau, termasuk Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau Prof Dr Nazir Karim, Ketua PWM Riau Dr Saidul Amin, serta civitas academica Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Dr Elviandri MHum dan Raja Desril SH MH.

Selain itu, hadir juga para pengurus PWM Riau seperti Abu Nawas (sekretaris), Anwar Siregar, dan Yuslim Se.

Dalam pemaparannya, Sonny Zulhuda menyampaikan bahwa PCIM Malaysia saat ini membina ribuan warga buruh migran yang memiliki moto TKI Berkemajuan. Karakter TKI Berkemajuan itu antara lain adalah berwawasan ilmu.

“Ini sejalan dengan misi Muhammadiyah sebagai organisasi yang membebaskan, mencerdaskan, dan memberdayakan,” jelasnya.

Suasana Seminar Internasional tentang Perspektif Pendidikan untuk Pencerdasan Umat l di Sekolah Agama Darul Ehsan, Subang Jaya, Selangor. (Sonny/Klikmu.co)

Menurut Sonny, berwawasan ilmu berarti mereka tidak hanya asyik dan senang bekerja, namun juga selalu berusaha meningkatkan kualitas kerja dan kepribadian dengan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan surah Al Mujadilahb 58:11.

“Mereka berusaha meningkatkan keahlian masing-masing, dan pada saat yang sama tidak bosan untuk terus belajar. Di PCIM, terbukti setiap minggu mereka tidak bosan menghadiri majelis ilmu. Enam hari bekerja, minimal satu hari diisi dengan belajar,” terangnya.

Antara lain belajar mengaji, belajar menulis, belajar mengatur keuangan, kewirausahaan, kelas fotografi, kelas komputer, literasi medsos. Selain itu, ada kelas bekam dan teknik akupunktur. Bahkan, lanjut dia, para aktivis PCIM yang lulus mendapatkan sertifikasi resmi untuk menjalankan pengobatan teknik tusuk jarum khas Korea sehingga bisa menjadi sumber pendapatan sampingan.

“Mencerdaskan sekaligus memberdayakan,” tegasnya. “Itulah TKI yang berwawasan ilmu, TKI berkemajuan. Sebuah refleksi gerakan pencerdasan di PCIM Malaysia,” tandasnya. (Sonny Zulhada/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here