BIPA UMM Tawarkan Geodiplomasi sebagai Internasionalisasi Bahasa

0
108
Philippe Grange, Atase Kerja Sama Linguistik Institut Francais Indonesia, saat mengikuti seminar daring yang diselenggarakan UPT BIPA UMM. (Humas UMM/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO – Lembaga Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menawarkan manajeman kelembagaan dan geodiplomasi dalam perwujudan internasionalisasi bahasa. Hal tersebut diulas dalam seminar daring yang diselenggarakan UPT BIPA UMM pada Jumat (26/6/2020) dengan tajuk ”Penguatan Diplomasi Bahasa dan Kebudayaan Melalui Pemberdayaan Pengelolaan Kelembagan BIPA”.

Dalam seminar tersebut turut hadir sebagai pemateri Philippe Grange, Atase Kerja Sama Linguistik Institut Francais Indonesia. Philippe menyampaikan bahwa citra Indonesia di Prancis tidak semua bagus. Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai kesaksian orang Prancis yang masih beranggapan bahwa Indonesia itu mencekam dan masih tertinggal.

Citra tersebut hadir ditengarai beberapa karya yang ditulis dan beredar di Eropa Barat menunjukkan bahwa Indonesia masih tertinggal, seperti cerita perjalanan yang ditulis dalam buku Autour Du Monde yang menceritakan bahwa di Jawa buaya dapat memakan perahu serta negara yang banyak memiliki binatang buas. Oleh sebab itu, Philipe juga mengajak masyarakat Indonesia untuk memikirkan strategi jitu untuk mencitrakan ekostisme dan keindahan Indonesia di mata dunia.

Bahkan, Phillipe mengilustrasikan kenapa K-Pop dapat membius dunia. “Apakah kita, Indonesia, tidak bisa membuat sesuatu yang bagus seperti I-Pop misalnya,” ungkapnya. Uraian tersebut terlontar secara emosianal dengan kata “kita” karena Philipe merasa dirinya sebagai orang Indonesia dan mencintai Indonesia.

Sampai saat ini, tidak banyak warga negara Prancis yang mengenal Indonesia. Bahkan, mereka lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia. Hal itu juga menjadi bukti nyata bahwa pemerintah Indonesia melalui berbagai kementerian dan lembaga BIPA mengupayakan strategi jitu untuk dapat meningkatkan citra Indonesia di mata dunia.

Tidak hanya itu, dalam seminar tersebut juga dibahas bagaimana bentuk diplomasi yang efektif untuk meningkatkan minat pemelajar asing untuk belajar bahasa Indonesia. Dalam hal ini, Nurul Sofia sebagai kasubid Ekonomi Internasional Kementerian Luar Negeri juga membeberkan bebarapa langkah diplomasi budaya yang pernah dilakukan ketika menjadi Pensosbud di KBRI Sofia Bulgaria.

Diplomasi budaya dapat dijadikan langkah produktif dalam diplomasi dikarenakan lebih cair serta memiliki peluang untuk membuka kerja sama di bidang lainnya. ”Mengadakan kegiatan seperti pameran busana, pertunjukan budaya, serta pemberian beasiswa memiliki dampak yang luar biasa terhadap citra Indonesia di mata dunia,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Divisi Internasionalisasi Program Faizin membeberkan fakta bahwa sudah selayaknya lembaga BIPA memiliki manajemen ke-BIPA-an untuk mengukur serta mengevaluasi berbagai kegiatan yang dilakukan. Selama ini, BIPA lebih cenderung membahas spesifikasi terhadap pembelajaran, sedangkan dalam pelaksanaan proses tersebut sangat dibutuhkan manajemen sebagai alokasi ukuran keberhasilan serta mengembangkan BIPA itu sendiri.

Faizin lantas menawarkan lima hal yang harus dilakukan dalam pelaksanaan proses ke-BIPA-an, meliputi perancangan, struktur serta pembagian tugas, komunikasi, pengawasan, dan pemecahan masalah. “Kita perlu memilih strategi dalam hal ini apakah kita akan menggunakan geodiplomasi atau geostrategi dalam rangka mencapai citra positif Indonesia,” ujar Faizin. (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here