Buah Mengaji pada Alam Semesta: Resensi Buku Dari Amerika Kurindukan Ka’bah

0
52

Oleh Achmad Santoso
Editor KLIKMU.CO

Perjalanan selama enam minggu di Negeri Paman Sam tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan penulis ihwal pemikiran politik Amerika Serikat, tetapi juga mengalir ke kita yang urung beruntung ke sana. Pradana Boy ZTF, sang penulis, memiliki prinsip bahwa perjalanan merupakan perpaduan antara gerak ragawi dan batiniah. Maka, pelawatannya dalam mengikuti program Study of the U.S. Institute (SUSI) yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat itu dimaknai juga sebagai proses mengaji. Tepatnya, mengaji pada alam semesta dan manusianya. Berbekal itulah ia berhasil menganggit buku ini.

Buku Dari Amerika Kurindukan Ka’bah disebut penulis sebagai catatan perjalanan, bahkan sekadar rangkaian cerita. Namun, ia sejatinya adalah catatan perjalanan sekaligus “dokumen” sejarah. Tulisan Dari Amerika Kurindukan Ka’bah, yang kemudian dipilih sebagai judul, menjadi roh buku ini sehingga “beranak pinak” ke catatan-catatan berikutnya. “Saya mencari-cari arah kiblat. Tentu tidak ada tanda panah penunjuk arah kiblat di kamar. Naluri menuntun saya menengok matahari sebagai patokan. Karena hari telah beranjak siang, melewati tengah hari, saya tetapkan saja menghadap ke arah matahari yang mulai menggelincir ke barat” (hal 18).

Setelah sadar bahwa seharusnya kiblat menghadap timur karena Amerika Serikat berada di timur Makkah, penulis kemudian merenung. “Dari peristiwa kecil ini,” tulis Pradana, “saya memetik sebuah pelajaran penting.” Pertama, soal sudut pandang. Seharusnya Indonesia menyebut negara-negara di kawasan Arab sebagai Barat Tengah, bukan Timur Tengah selayaknya label orang Eropa dan Amerika. Renungan kedua perihal “perang batin”. Sudah belasan negara dikunjungi, tapi merasa gersang dan rindu. “Mengapa sampai hari ini belum juga saya menjejak kota tempat kiblat yang setiap hari saya hadapkan diri dalam rangka penghambaan kepada Allah Pencipta Alam berada?” (hal 20). Justru saat berada di Amerika Serikat-lah Kakbah begitu dia rindukan.

Setelahnya kita bisa meresapi perjumpaan dengan wilayah-wilayah yang memiliki nilai historis bagi negeri yang cerita tentang kemerdekaannya masih menjadi episode panjang itu. Ada pandangan yang menilai sejarah itu dimulai sejak Christopher Columbus menemukan Benua Amerika pada 12 Oktober 1492. Namun, sebagian ahli sejarah merujuk awal Amerika Serikat kepada permulaan penjajahan Eropa di benua tersebut.

Ketika membaca perihal kunjungan ke suatu tempat, memori kita seolah dilempar ke masa lampau. Dalam tulisan Matahari yang Tak Pernah Tenggelam, kita mengetahui ada sejarah yang “sengit” antara Inggris Raya dan Amerika Serikat. Imperialisme negara-negara Eropa berlomba-lomba mengekspansi wilayah ke berbagai benua lainnya. Sebut saja Spanyol, Portugal, Prancis, Belanda, Jerman, dan terutama Inggris yang memiliki jajahan paling luas, mulai Selandia Baru hingga Amerika Serikat. Saking luasnya wilayah jajahan, imperium Inggris atau juga disebut Britania Raya pernah disebut sebagai the empire on which the sun never sets, yakni imperium dunia yang tidak pernah mengenal matahari terbenam. Perluasan imperium Inggris ke Amerika Serikat dilakukan melalui dua cara: amerikanisasi dan anglisisasi. Pada akhirnya, Inggris sebagai imperium berjuluk “matahari tak pernah tenggelam” tadi kemudian melahirkan “matahari” baru.

Sejarah lain tentang Islam dan Nabi Muhammad terwedar dalam Muhammad, Seorang Politikus Genius. Itu bermula dari sebuah sesi kuliah tentang agama dan politik di Amerika Serikat. Michael Hannahan, si pemateri, membuat sebuah kesimpulan yang menyentak. “Muhammad is a political genius,” katanya. Bertahun-tahun silam, Michael H. Hart juga membuat kontroversi dengan menerbitkan buku berjudul¬† The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978). Nabi Muhammad ditempatkan di urutan pertama sebagai orang paling berpengaruh, diikuti Isaac Newton, Yesus, dan Buddha Gautama.

Melalui kuliah dari sesi ke sesi, Pradana ternyata tidak hanya mengenal perpolitikan Amerika Serikat lewat kunjungan ke 7 negara bagian, 17 kota, serta 7 universitas. Didapati pula fakta bahwa ada dua Washington di Amerika Serikat: Washington DC (District of Columbia) sebagai ibu kota negara dan Washington (tanpa DC) sebagai negara bagian di barat daya Amerika Serikat. Ini barangkali, meminjam istilah penulis, hanyalah kenaifan bagi orang-orang yang sudah mengenal Amerika Serikat. Tapi, tidak bagi yang belum pernah mengunjunginya.

Sudut-sudut Amerika Serikat ternyata juga tak melulu dibanjiri bangunan pencakar langit. Di tulisan Amherst: Memaknai Kesunyian tergambar, Kota Amherst adalah salah satu town (bukan city) di Negara Bagian Massachusetts. “Tak ada keramaian yang mencolok. Tak ada bangunan pencakar langit. Hampir tak saya temukan bangunan baru. Di sepanjang jalan di pusat kota, bangunan-bangunan tua yang terawat mendominasi pandangan. Tiang-tiang listrik berwarna hitam yang di bagian atasnya dihiasi bunga-bunga menambah kesan klasik kota ini” (hal 74).

Jangan pula dikira Amerika Serikat merdeka dari pengamen jalanan. Problem itu memang hadir seturut dengan lahirnya kota-kota besar. Namun, para pengamen yang kebanyakan penduduk kulit gelap tersebut hanya menyanyi, kemudian meminta uang tanpa memaksa, apalagi melakukan kejahatan. Itulah yang penulis alami selama beberapa hari menikmati subway di New York. Itu juga berarti kritik sekaligus pelajaran kepada para pengamen di negara kita, misalnya, agar mengais nafkah dengan cara yang lebih manusiawi.

Hampir tidak ada cela yang termuat dalam buku terbitan Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia, ini. Barangkali soal ejaan semata. Di antaranya, Kakbah (versi KBBI) dipertahankan ditulis Ka’bah oleh penulis. Ada pula Al-Qur’an yang kita tahu sudah dibakukan menjadi Alquran. Akan tetapi, barangkali penulis memiliki prinsip tersendiri. Prinsip yang lebih esensial daripada ihwal ejaan. Keteguhan hati itu pula yang pernah diulas Iqbal Aji Daryono dalam tulisan Ketika Tajwid Melawan Serapan. Iqbal berpendapat bahwa istilah-istilah keagamaan dalam Islam, apalagi yang berpaut erat dengan ritual ibadah, akan serasa kurang mantap jika menurut KBBI. Esensi maknanya tereduksi. Di antaranya, sholat (KBBI = salat), tawadlu’ (tawaduk), hingga ridlo (rida).

Pada akhirnya, catatan-catatan yang elok, bernas, acap lahir dari para penulis yang bestari. Tak terkecuali buku ini. Memang Pradana Boy yang mendapat ilmu dan pengalaman dari Amerika Serikat, tetapi kita juga yang turut “mengalami”. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here