Bukan Sekedar Bendera Biasa, Tapi Mempertahankan Islam dan Lafadz Tauhid

0
229

Oleh: Fajrul Islam
(Guru SD Muhammadiyah 18 Surabaya)

KLIKMU.CO – Jumadil Ula, tahun 8 H. Suasana damai setelah perjanjian Hudaibiyah 2 tahun sebelumnya betul-betul dimanfaatkan Rasulullah untuk menyebarkan Islam ke luar Madinah. Diplomasilah cara yang dipilih Rasulullah untuk mengajak beberapa raja dan kepala suku di luar Madinah memeluk agama Islam.

Harits bin Umair al-Azdi menjadi salah satu sahabat yang terpilih menjadi diplomat Negara. Ia mendapat tugas mengirimkan surat kepada pemimpin Bashrah, daerah yang saat itu berada di bawah kekuasaan imperium Romawi. Namun, ketika sampai di daerah Mu’tah dia dibunuh oleh Suyhrabil bin Amir al-Ghassani (pemimpin al-Balqa). Dalam perspektif hubungan internasional, pembunuhan terhadap Harits (diplomat) adalah penghinaan besar terhadap simbol dan wakil Negara yang seharusnya dihormati, bahkan memiliki hak imunitas tertentu.

Alhasil, peristiwa tersebut direspon Rasulullah dengan menyiapkan pasukan perang, sebab dalam konteks kematian Harits, bukan hanya sekedar penghinaan terhadap sebuah Negara, tetapi secara tidak langsung, mereka telah menghina Rasulullah dan Islam. Para sahabat dikumpulkan, maka terbentuklah 3000 orang pasukan kaum muslimin.

Tak pernah dalam sebuah peperangan Nabi menetapkan 3 panglima sekaligus. Di suatu tempat di depan pasukannya beliau bersabda “Apabila Zaid bin Haritsah gugur maka penggantinya adalah Ja’far bin Abi Tholib, apabila Ja’far gugur maka penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah, apabila Abdullah gugur maka tentukan pemimpin terbaik di antara kalian.” Sebuah isyarat kepada ketiganya bahwa kematian terindah sedang menanti mereka.

Tak lupa Rasulullah memberikan arahan dan nasehat kepada pasukan agar tetap menjaga marwah dan adab Islam dalam peperangan. Singkat cerita, kedua pasukan pun akhirnya saling berhadapan di Mu’tah dan siap bertempur dengan jumlah yang tak seimbang, pasukan Romawi unggul 70 kali lipat jumlah tentara sebesar 200.000 orang.

Namun kenyataan ini tidaklah membuat gentar para sahabat, keimanan kepada Allah dan Rasulullah menjadikan perbedaan itu tidak ada artinya bagi mereka. Iman memberikan kekuatan besar bagi kaum muslimin dan menghilangkan rasa takut di hati mereka. Para sahabat bertempur dengan penuh keberanian. Bendera pasukan Islam dibawa oleh Zaid sebagai pemimpin pasukan. Dalam sebuah pertempuran tombak musuh mengenai Zaid, akhirnya ia pun gugur sebagai syahid. Persis yang dikatakan Rasulullah.

Komandan dan bendera pindah kepada Ja’far. Pasukan musuh mampu memukul kaki kuda Ja’far. Lawan berhasil menebas tangan kanan Ja’far hingga putus. Akhirnya bendera perang dipegang dengan tangan kiri, dan tangan kirinya pun tertebas, bendera perang pun didekap dengan lengannya. Pada akhirnya musuh berhasil meakhiri hidup Ja’far. Riwayat menceritakan bahwa Ja’far terbunuh dengan 90 tusukan dari depan. Bukti kesatria sejati.

Bendera pun diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah, ia bertempur dengan penuh keberanian hingga ia pun terbunuh sebagai syahid. Luar biasa mereka bertiga begitu gigih mempertahankan bendera Islam berlafadzkan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Mereka sadar, paham, mengahyati dalam sanubari yang paling dalam bahwa ini bukan hanya soal panji, bendera atau simbol, tapi ini adalah soal menjaga Izzah iman wal Islam, inilah pemahaman sahabat langsung dibimbing manusia paripurna.

Senin, 22 Oktober 2018 pagi menjelang siang duduk di meja pojok kelas 5 Andromeda. Ketika sedang berselancar di Instagram, tak sengaja melihat sebuah video dengan kualitas gambar yang tidak cukup bagus, menandakan direkam melalui sebuah smartphone. Beberapa saat mengamati hati ini mulai cemas. Tampak dalam video beberapa orang berseragam doreng dengan agak kesulitan menyalakan korek api bersiap membakar kain hitam bertuliskan Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Ya akhirnya mereka berhasil membakarnya.

Saya terhentak, mendadak perih, sakit rasanya hati ini melihat bendera yang sama dahulu dipertahankan mati-matian oleh Zaid, Ja’far dan Abdullah hingga mengorbankan jiwa raga, tapi kini dibakar sendiri oleh mereka yang mengaku beriman.

Saya seorang muslim, didik diatas pondasi tauhid. Salahkah bila terbesit perasaan sakit di hati saya, ketika sebuah teks kalimat tauhid yang sangat saya cinta, hidup di atasnya dan menginginkan mati di atasnya pula di bakar orang? Jujur. Pada saat peristiwa itu terjadi yang terlihat oleh mata fisik dan mata batin kami semata-mata hanyalah kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah. Tidak lebih dari itu.

Dengan segala hormat kami kepada oknum-oknum yang terlibat. Memang, kemudian saya memahami konteks peristiwa tersebut. Namun hargailah keluguan kami. Kami tidak punya cukup waktu untuk mengaitkannya dengan konstalasi sosial-politik kepentingan kalian. Maafkanlah kami jikalau tidak menganggap itu simbol ormas musuh kalian. Maafkanlah kami tak mampu mengaitkan teks itu dengan perkara-perkara semiotik ndakik, itu kejauhan bagi kami.

Hormatilah kepolosan kami dan janganlah menyalahkan kami jika akal sehat kami tidak nutut dengan nalar kalian yang dengan membakarnya justru kalian katakan itu menjaga dan memuliakannya. Maaf kami tidak setuju. Hormatilah sikap kami yang berbeda dengan kalian. Jangan tuduh kami HTI, radikalis, tidak NKRI karena berbeda paham dengan kalian. Kami hanya malu dengan Zaid, Ja’far dan Abdullah jika kelak berjumpa mereka. Bagaimana kami akan menjawab jika mereka bertanya. Biarkan kami di barisan mereka, walaupun tidak bisa seperti mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here