Buku Cuma Alat, Literasi Sejati Asalnya Justru dari Kehidupan

0
146
Denny Misharuddin (dua dari kiri), Hasnan Bachtiar (paling kanan), dan dua pegiat literasi lain di Malang berdiskusi di RBC Institute. (Wildan/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Memperingati Hari Buku Internasional, Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute Universitas Muhamadiyah Malang (UMM) menghadirkan empat pegiat literasi, Senin (26/4/2021).  Acara berlangsung di RBC Learning Space.

Ada Fachrul Alamsyah, Presidium Republik Gubuk, dan Kusnadi, Jenderal Preman Mengajar. Hadir pula Denny Misharuddin dari komunitas Pelangi Sastra serta Hasnan Bachtiar, direktur riset RBC Institute.

Memulai acara, Hasnan dalam paparannya mengatakan bahwa kegiatan literasi tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas membaca dan menulis. Pun dengan membaca dan menulis yang tidak dapat diidentikkan dengan buku saja.

“Buku hanyalah instrumen semata. Sejatinya, yang harus kita baca, pahami, dan pelajari adalah kehidupan. Bukan sekadar buku yang diterbitkan oleh penerbit,” ucap alumnus Australian National University tersebut.

Pernyatan itu diamini Fachrul Alamsyah. Gerakan literasi komunitasnya yang digalakkan di kampung-kampung justru ditargetkan untuk masyarakat yang tidak mempunyai minat membaca. Ia mengaku bahwa di 40 gubuk baca yang sudah ada, banyak di antaranya yang tidak memiliki buku.

“Kami tetap bisa bergerak dan berkontribusi meskipun tanpa buku. Di gubuk kami, yang ada hanya egrang, pengajarnya preman, bahkan pengasuhnya mantan pengedar pil koplo,” ungkap Fachrul.

Kegiatan literasi juga dimaknai dengan mengajak orang lain kepada kebaikan. Selain itu, mengajak orang untuk menjauhi keburukan yang muncul dalam kehidupan. Itulah alasan komunitas Republik Gubuk ini juga mewadahi preman untuk ikut terjun dalam proses belajar-mengajar.

Sementara itu, Denny mengungkapkan bahwa literasi bertujuan untuk mengetahui tentang dirinya dan identitas yang dimiliki. Berangkat dari itu, ia akan mampu menambah dan meningkatkan kapasitas diri dan akhirnya bisa menjadi orang yang literat.

“Literasi itu tidak hanya berkutat pada buku. Melainkan juga lebih luas memberikan manfaat kepada diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitar. Pun dengan ajakan pada kebaikan dan larangan untuk terjerumus dalam keburukan,”terang Denny.

Mereka semua juga sepakat bahwa minat baca di Indonesia masih tergolong rendah. Meski begitu, dorongan untuk menciptakan peradaban literasi baru sangatlah tinggi. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here