Bulan Bahasa, Prodi Bahasa Indonesia UMM Luncurkan Bunga Rampai

0
69
Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Dr Sugiarti MSi saat peluncuran bunga rampai “Kesatuan dalam Keberagaman: Paradigma Mutakhir Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya. (Fida/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO -Dalam rangka merayakan Bulan Bahasa tahun 2020, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UMM meluncurkan bunga rampai “Kesatuan dalam Keberagaman: Paradigma Mutakhir Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya”, Selasa (28/20/2020). Buku ini berisi sepuluh 10 pemikiran dosen dalam merespons isu terkini yang sedang berkembang.

Seremoni peluncuran bunga rampai dilangsungkan dalam acara seminar tahunan prodi, yakni Seminar Nasional Bahasa dan Sastra 4 (Senasbasa 4). Acara diikuti oleh 48 pemakalah dan 174 peserta. Mengangkat tema “Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya di Masa Pandemi”, seminar ini menghadirkan tiga pemateri, yakni Prof Dr I Nyoman Darma Putra (Universitas Udayana), Prof Dr Suwardi Endraswara MHum (Universitas Negeri Yogyakarta), dan Prof Dr Syamsul Arifin MSi (Universitas Muhammadiyah Malang).

Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Dr Sugiarti MSi mengatakan, tema yang ditulis dalam buku tersebut beragam. Mulai permasalahan pembelajaran dalam situasi pandemi, strategi kebijakan internasionalisasi bahasa Indonesia, hingga perkembangan paradigma mutakhir dalam kajian bahasa dan sastra.

“Semua itu adalah wujud kontribusi yang ingin kami berikan terhadap pembangunan nasional, terutama dalam hal pembangunan manusia Indonesia,” tuturnya.

Wakil rektor I hingga dekan FKIP UMM memberikan apresiasi atas peluncuran bunga rampai ini. Menurut Dekan FKIP Dr Poncojari Wahyono MKes, bunga rampai ini adalah bukti komitmen akademik Prodi Bahasa Indonesia dalam memberikan sumbangan pemikiran terhadap kondisi terkini.

“Kehadiran bunga rampai ini adalah bukti sumbangan pemikiran terhadap peran bahasa, sastra, dan pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas dedikasi dan komitmen yang diberikan demi terselesaikannya buku ini,” terang dosen Pendidikan Biologi itu.

Sementara itu, Prof Darma Putra  membahas wacana pandemi di media masa dalam perspektif analisis wacana kritis. Teks, kata dia, memiliki dimensi yang sangat kompleks. Makna tidak bersifat tunggal karena terdapat dimensi kesadaran dan ketaksadaran dalam teks.

“Karenanya, kita sering menemukan penafsiran-penafsiran yang beragam. Bahkan sering kali kuasa dapat menentukan makna sebuah teksm,” ujarnya.

Prof Endraswara menyoroti kajian posthumanisme sastra di masa pandemi. Dalam makalahnya, ia menggarisbawahi pentingnya perspektif posthumanisme untuk membedah karya sastra untuk menghasilkan ketepatan interpretasi.

Sementara itu, Prof Syamsul membahas kemanusiaan, keberagaman, dan pendidikan di masa pandemi dalam kerangka esai-esai populer yang telah ditulisnya. “Pendidikan adalah proses humanisasi. Pada situasi ini kita sudah mulai berdamai dengan situasi yang terjadi, tetapi kita kehilangan sentuhan manusia. Interaksi hilang,” katanya.

“Meskipun ekosistem bagus, ada bagian-bagian fundamental dalam kehiduan manusia yang tidak bisa dilayani teknologi secanggih apa pun. Di sini, mutlak tatap muka fisik tetap diperlukan,” tandasnya. (Fida/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here