Calon Guru Didorong Jadi Pendidik Era Society 5.0 

0
155
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr Poncojari Wahyono saat memberikan sambutan dalam Yudisium Periode I Tahun 2021 FKIP UMM. (Fid/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Dunia pendidikan harus selalu sigap beradaptasi dan memenuhi tuntutan zaman yang terus berubah. Untuk saat ini, salah satu perubahan itu adalah dari era Industri 4.0 menuju era Society 5.0.

Hal itu seperti disampaikan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang Dr Poncojari Wahyono dalam Yudisium Periode I Tahun 2021, Kamis (25/2/2021).

Dr Poncojari mengatakan, cepat atau lambat, hal itulah yang akan dihadapi lulusan FKIP UMM. Karena itu, mau tidak mau mereka harus segera mempersiapkan diri.

“Untuk saat ini memang belum, tapi itulah yang akan Saudara hadapi. Dan sebagai sarjana pendidikan, Saudara memiliki tanggung jawab yang besar dalam mempersiapkan masa depan bangsa Indonesia,” ungkap dosen Biologi UMM itu.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa era Society 5.0 pada dasarnya akan melengkapi era Industri 4.0. Era Revolusi Industri 4.0 menuntut penguasaan teknologi dalam berbagai lini kehidupan.

“Salah satu produknya di dunia pendidikan adalah apa yang telah kita terapkan beberapa tahun terakhir ini, yakni blended learning,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, keterampilan 4C yang mencakup creative thinking, critical thinking and problem solving, communication, dan collaboration menjadi hal esensial yang perlu dikembangkan dalam pendidikan di era Revolusi Industri 4.0. Namun, kata Poncojari, kelemahannya adalah dominasi teknologi itu membuat nilai-nilai tidak dapat ditransfer secara optimal kepada peserta didik.

“Era Revolusi Industri 4.0 memang berdampak signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi untuk pengembangan hard skill dan soft skill, terutama nilai-nilai pada anak didik, kita masih mengalami kelemahan. Itulah mengapa (Society) 5.0 ini melengkapi kekurangan tersebut karena mengetengahkan peran manusia di dalamnya,” bebernya.

Karena itu, dia berpesan agar para calon wisudawan/wisudawati terus mengembangkan kompetensi yang telah diperolehnya selama menempuh pendidikan sarjana, baik melalui pendidikan profesi maupun kursus lainnya. Dengan begitu, mereka benar-benar siap dan mampu menjadi pendidik profesional di era Society 5.0.

Luluskan 148 Mahasiswa

Yudisium kali ini meluluskan 148 calon wisudawan/wisudawati dari enam prodi di lingkungan FKIP UMM.

“Lulusan Pendidikan Matematika 12 orang, Pendidikan Biologi 27 orang, Pendidikan Bahasa Indonesia 31 orang, PPKN 13 orang, Pendidikan Bahasa Inggris 25 orang, dan PGSD 40 orang,” ungkap Dr Sudiran MHum, wakil dekan I FKIP UMM.

Selain itu, yudisium yang dilangsungkan secara daring ini mengukuhkan Putri Ayu Irodah sebagai lulusan terbaik FKIP. Mahasiswa dari Prodi Pendidikan Biologi itu lulus dengan IPK nyaris sempurna, yakni 3,98, dengan masa studi 7 semester.

Hadirkan Alumni Sukses

Dalam kesempatan ini, hadir pula secara daring pemateri alumni Prodi PGSD sekaligus alumni Program PPG Prajabatan Bersubsidi, Reza Ika Savitri SPd Gr. Reza berbagi pengalaman semasa menempuh studi di FKIP UMM, khususnya bagaimana FKIP UMM mengantarkannya pada cita-citanya sebagai seorang guru di tengah minimnya dukungan dari keluarga dan stereotipe terhadap perempuan karier.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa kompetensi sosial dan kepribadian tak kalah penting dibandingkan kompetensi pedagogi dan profesional. Dia pun berbagi tips bagaimana menjalani profesi sebagai guru di sekolah.

“Kita harus menjadi pendengar yang baik, berpikir kritis, tanggap atau responsif terhadap permasalahan yang dihadapi sekolah, dan santun kepada siapa saja, baik kepada atasan, sesama guru, murid, maupun wali murid,” jelasnya. (Fid/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here